Archive for September, 2008

Ramadhanlicious

Posted in Daily on September 23, 2008 by anurannisa

Sepekan sebelum puasa, saya menulis di tagline Gtalk: ”udah enggak sabar”. Sebagian besar dari penghuni list Gtalk saya, yang kebetulan pada hari itu lagi online bertanya: ”cie…ane udah enggak sabar apa neh?”. Awalnya, waktu masih satu-dua orang yang nanya, belom terganggu. Makin siang dan sampai keesokan harinya, makin banyak yang nanya. Yaudah, saya jawabin aja asal-asalan. Ditambah sedikit jiwa jail saya yang sering kumat kalo ada peluang ngerjain orang. Padahal, sebenernya maksud tulisan ”udah enggak sabar” itu adalah, saya udah enggak sabar mau cepet-cepet puasa!

Read more »

Sang Murrobi

Posted in fiction on September 23, 2008 by anurannisa

Seonggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung bertanggungjawab? Bila semua menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya (Syaikut Tarbiyah, Ustadz Rahmat Abdullah)

- Kinetransfer. Memindahkan format betacam digital ke Seluloid atau membuat Copy Master yang biasa disebut Copy A, biayanya sebesar $30.000 atau Rp.300.000.000,- dengan kurs dollar sebesar Rp.10 ribu. Pekerjaannya pun tidak dapat dilakukan di Indonesia(karena memang belum ada fasilitas untuk itu) melainkan di Bangkok, India, atau Australia.

- Audio Post Dolby Stereo. Untuk dapat dinikmati dengan baik di bioskop biasanya audio dalam film menggunakan Sistem Dolby Stereo. Biaya untuk Audio Post ini sekitar 100 juta rupiah.

- Lisensi untuk dapat menggunakan System Dolby Stereo sekitar 2.500 pondsterling, berarti kurang lebih 50 juta rupiah, kalau kita anggap kurs dari poundsterling ke rupiah 20 juta rupiah.

- Setelah Master Copy A jadi, maka dibuatlah Copy B sebanyak jumlah layar bioskop yang hendak kita putar. Satu Copy B menelan biaya antara 10 s/d 60 juta tergantung kualitas positif filmnya. Kita anggap saja, kita memerlukan 20 Copy B dengan kualitas sedang. Berarti 20×20 juta, sama dengan Rp.400juta.

- Total biaya yang diperlukan untuk dapat diputar di 10 bioskop adalah Rp.850juta.

Diatas adalah hitung-hitungan untuk memproduksi sebuah film. Sang Murrobi saat ini menjual filmnya dalam bentuk DVD dan VCD, dengan sistim pemesanan. Guna mendobrak kapitalisme produksi film, yang kebanyakan hanya menjual mimpi.

Pertanyaannya kemudian adalah: sanggupkah film Sang Murabbi meruntuhkan tembok raksasa ini? jawabnya: Tunggu dan lihat!

only 4 girls

Posted in societa on September 5, 2008 by anurannisa

Hi girls, bener nggak seh, pertama kali yang diliat cowok dari cewek itu fisik? Kalo menurut saya benar. Eits, pernyataan saya tidak asal aja loh. Saya sudah bertanya ke beberapa makhluk yang berjenis kelamin laki-laki. Perlu saya tegaskan lagi, yang saya tanyakan itu waktu pertama kali melihat. Walaupun pada akhirnya, mereka menambahkan bahwa fisik bukan segalanya. Ini pernyataan serius yang jujur atau lebih ke pasrah, takutnya nggak bisa dapet yang cantik nantinya. Hehe…saya tidak tau deh. Lagian kalo ngomongin jodoh mah, pasti ujung2nya kita semua akan menyanyikan tembang lawas: “kalo jodoh tidak akan kemana.” Loh, jadi ngomongin jodoh.

Pada intinya, fisik yang utama. Tapi itu pernyataan dari segelintir orang yang saya dengar langsung. Mudah2an masih banyak lagi para kaum adam di luar sana yang tidak sependapat. Berapa perbandingannya juga saya tidak mengetahuinya dengan pasti. Sampai saat ini belum ada profesor yang dapat memberikan alat pengukur untuk menentukan indikatornya.

Umumnya, mereka senang dengan “pemandangan” indah tersebut. Putih…manis…dengan senyum ala iklan pepsodent, rambut di rebonding, kuku lentik di manicure. Kepala cowok bisa sampai miring2 melihatnya. Ada rubrik khusus pria di sebuah majalah sastra yang saya baca, bahwa laki-laki paling tidak bisa menjaga matanya. Termasuk untuk pandangan diatas tadi.

Maka, tidak salah kalo mereka menyenangi keindahan atas perempuan. Nah, hal ini yang di eksploitasi besar2an oleh kaum kapitalis. Memberi patokan bahwa perempuan cantik itu harus putih, dibuatlah krim pemutih badan, dengan iming2 dalam beberapa minggu bisa merubah kulit hitammu. Dalam iklannya, mereka membuat cerita bahwa perempuan kulit hitam tidak punya teman, dijauhi, dan hidupnya akan menderita. Come on girls! Don’t believe that. Untuk menyamarkannya, sekarang mereka tidak bilang membuat kulit putih lagi, tapi mencerahkan kulit.

Mereka sadar betul kalo kecantikan bisa menjadi komoditi yang akan laris manis dijual. Lihat saja, kontes2 kecantikan yang digelar. Walaupun, dibubuhi brain selain beauty-nya. SPG, receptionist, dan pramuniaga biasanya diisi oleh para perempuan cantik. Tujuannya jelas, untuk merangkup konsumen sebanyak-banyaknya.

Sayangnya, banyak juga perempuan yang senang jadi pusat perhatian. Jadilah mereka pelanggan setia produsen kapitalis itu. berusaha untuk masuk dalam jajaran kategori cantik menurut mereka. Bila tidak berhasil, misalnya dalam proses pemutihan bandannya, merasa hidupnya hancur berantakan dan tidak akan ada laki-laki yang menyukainya. Kamu mau, laki-laki yang mendekati kamu itu ternyata hanya suka dengan kulit putihmu saja?bukan kepribadianmu. Padahal, kulit hitam itu bukan berarti tidak cantik. Lihat saja wanita asia dengan kulit sawo matangnya, terlihat eksotis kan. Malah hidup lebih berwarna dengan beragamnya kebudayaan, ciri khas, sampai warna kulit.

Jangan sampai waktu kita habis cuma buat mempercantik diri. Cantik itu relatif. Lebih baik memperluas wawasan, pergaulan, dan wacana. Cantik tapi tidak peka terhadap keadaan lingkungan sekitarnya dan tidak dapat membawa diri didalam pergaulan, sama aja bolong dong.

Sssttt, katanya cewek pintar itu lebih mempesona loh. Siapapun, pasti betah diskusi lama-lama sama kamu, bukan karena kulit kamu yang putih, tapi karea pribadimu yang menyenangkan. Bila kita sudah punya paradigma seperti itu, maka segala hantaman dari kapitalis tersebut sudah ada penangkalnya. Diri kita akan disibukkan dengan, bagaimana kita bisa mengekspos kemampuan yang kita punya. Belajar bahasa, ikut kelas diskusi, menjadi voluntir, atau mengikuti pelatihan2.

Tapi, sebagai perempuan kita juga wajib menjaga apa yang sudah Allah berikan. Beda ya, antara mengubah dengan menjaga. Bukan mengubah kulit menjadi putih, tapi merawatnya supaya tetap bersih.

Ok, girls! Semua perempuan yang dilahirkan ke dunia itu sudah cantik ko’ apalagi kalo ditambah kepribadiannya yang penuh santun.

the alchemist

Posted in fiction on September 5, 2008 by anurannisa

Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita? tanya si anak, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu. Sebab, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada. Demikian selintas percakapan antara sang Alkemis dan Santiago, anak gembala yang mengikuti suara hatinya dan berkelana mengejar mimpinya. Perjalanan tersebut membawanya ke Tangier serta padang gurun Mesir, dan di sanalah dia bertemu sang alkemis yang menuntunnya menuju harta karunnya, serta mengajarinya tentang Jiwa Dunia, cinta, kesabaran, dan kegigihan.

yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian jadi kenyataan……..

Percakapan tersebut ada di buku karangan Paulo Coelho yang berjudul “The Alchemist” Buku yang mengantarkan saya menjadi dewasa. Berani memutuskan pilihan hidup sendiri. Walaupun jauh sebelum itu saya selalu percaya kata hati sendiri. Sejak saya mempelajari asal-usul manusia dari buku agama. Disana diceritakan, bahwa manusia sewaktu dalam kandungan sudah mengadakan perjanjian dengan Allah. Man robbuka? Lalu, kita semua menjawab, Allah. Tapi apa yang terjadi, setelah kita dilahirkan, melihat keindahan dunia, dan memperturutkan hawa nafsu, kita lupa sama janji tersebut.

Ingat2 lagi deh, di saat kita mau berbuat yang dilarang agama, pasti ada kata hati kita, seperti berkata melarang. Itulah, sebenarnya perkataan Allah, yang sudah terekam sejak perjanjian dilakukan. Jadi, apa yang dikatakan kata hati kita, itu adalah perkataan Allah. Dalam keadaan kalut dan butuh jawaban, coba dengarkan dengan khusyuk kata hatimu, dengan jiwa yang bersih dan hanya memohon kepada Allah, insya Allah kata hati akan memberi jawabannya.

“Masa depan adalah milik Tuhan,
dan hanya Dia-lah yang bisa mengungkapnya,
dalam keadaan-keadaan tertentu.
Bagaimana
caraku menebak masa depan?
Berdasarkan pertanda-pertanda yang ada sekarang ini.
Rahasianya ada pada saat sekarang ini.
Kalau kau menaruh perhatian pada saat sekarang,
kau bisa memperbaikinya.
Dan kalau kau memperbaiki saat sekarang ini.
apa yang ak
an datang juga akan lebih baik.
Lupakan soal masa depan, jalani setiap hari sesuai
ajaran-ajaran yang telah kau terima,


Dalam buku alchemist ini, Paulo menggambarkan latar belakang Tibet dengan sangat detil. Lekuk topografinya tersentuh dengan baik. Bikin saya mau mengunjungi Tibet someday. Kata-katanya mengalun indah. Keajaiban kalimatnya menyihir pembaca. Dengan makna hidup yang tersusun rapih. Cerita sederhana namun kaya arti. Coelho dapat membuat perumpamaan, tapi berhasil diterjemahkan secara seragam oleh pembacanya. Penulis kelahiran 1947 di Rio de Janeiro ini, sebelumnya aktif menulis juga bekerja sebagai sutradara teater, penulis lagu, dan jurnalis.

Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sama setiap hari,
pada akhirnya kita menjadi bagian dari hidup orang itu.
Lalu kita
ingin orang itu berubah.
Kalau orang itu tidak seperti yang dikehendaki orang-orang lain,
maka orang-orang lain ini menjadi marah.
Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu,
bagaimana seharusnya menjalani hidup,
tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri.


Buku ini juga menguatkan teori “mestakung” (semesta mendukung) yang saya baca. Dalam teori ini dikatakan bahwa bila kita berkeinginan kuat akan sesuatu yang baik, seluruh alam semesta akan mendukung. Angin, air, gunung, pohon, dll. Persisnya saya tidak tahu, tapi yang pasti bukan seperti adegan pohon yang berjalan sendiri dan ikut berperang dalam film “Narnia” itu seh terlalu ekstrem. Saya Cuma yakin, sebenarnya alam semesta ini sehari-hari ikut bersama kita. Bertasbih dan menyembah Allah.

panti “Galih Pakuan”

Posted in societa on September 1, 2008 by anurannisa

Pagi ini saya ada di angkutan umum menuju parung seorang diri. Bersiap untuk meliput sebuah panti rehabilitasi untuk pecandu narkoba di daerah ciseeng. Tanpa kendala, tibalah saya di mobil terakhir yang akan mengantar ke tempat tujuan. Jalanannya berbatu dan rusak cukup parah. Pemandangan disamping jalan diisi oleh pepohonan yang rimbun. Sejuk! Di kejauhan gunung menyembulkan puncaknya. Pak supir sudah saya pesan untuk menurunkan di desa Putat Nutug. Menurut pegawai panti yang saya telpon sebelumnya, dari situ tinggal naik ojek sekitar 500 m.

Turun dari mobil, sudah ada ojek yang siap mengantar.

“panti bang!”

si abang ngangguk aja dan langsung ng-gas motornya. sampai gerbang utama ada gapura bertuliskan Panti “Galih Pakuan” masuk ke dalam di sisi kiri ada kantor. Sedangkan sisi kanannya terdapat rumah-rumah kecil berwarna orange, yang belakangan saya ketahui itu adalah rumah pekerja sosial yang mengurusi panti. Abangnya masih menjalankan motornya ke belakang. Padahal dalam hati saya bergumam “kan kantornya tadi di depan, ko jauh banget ke belakang. Berhenti di pos, ada beberapa anak remaja berusia sekitar 20 tahun keatas.

“dah sampe neng.” Kata abangnya.

“oh udah ya, kantornya yang mana pak?” saya malah balik bertanya.

“kantor? Eta mah ti payun” jawabnya berlogat sunda yang artinya kantor mah adanya di depan.

“Ealah…saya mau ke kantornya.”

“saya kira neng mau jenguk penghuni panti.”

Masih untung dikira mo ngjenguk, kalo disangka penghuni panti bisa gawat.

Selesai wawancara, saya diajak berkeliling panti sama koordinator lapangannya, pak Ishak. Keadaan panti cukup bersih. Pertama saya diajak ke asrama kelompok re-entry. Kelompok yang penghuninya bisa dibilang sudah lepas dari pengaruh narkoba. Asrama tampak kosong, karena para penghuninya sedang mengikuti kelas keterampilan. Saya dan pak Ishak menuju kelas keterampilan. Pertama, kelas komputer, wuah…lengkap loh perangkat komputernya. Layarnya aja pake yang flat, kalah deh yang di rumah saya. Kedua, kelas otomotif, penghuni sibuk membetulkan dan mencoba mesin yang disediakan untuk memperbaiki. Ketiga, kelas elektronika, semua serius memperhatikan.

Kehadiran saya di tengah-tengah mereka cukup bikin heboh. Apalagi saya sempat mengambil beberapa photo kegiatan mereka. Sumpeh…saya dah kaya artis yang lagi jumpa fans aja. Ruame…abis. kata pak Ishak, mereka emang jarang ngeliat cewe. Kebetulan juga penghuni panti semuanya laki-laki, tidak ada perempuannya. Abis deh saya di kerubutin kaya gula. Yang ada saya mau wawancara mereka, malah terbalik saya yang ditanya-tanya. Saya tidak bisa menjaga jarak, sudah jadi konsekuensi pekerjaan. Uh…untung ada pak Ishak, yang ternyata cukup ditakutin sama para penghuni. Saya cuma bisa ngasih senyum terindah…halah. ya…yang bisa saya kasih cuma itu, siapa tau bisa jadi semangat buat mereka.

Di pintu keluar, saya melambai ke arah mereka, sambil bilang:

“tengkyu ya…assalamualaikum.”

enggak ngerti deh apa yang mereka jawab, saking banyaknya suara yang menyahut. Saya dan pak Ishak ketawa-ketawa aja. Lanjut ke kelompok primary, dimana penjagaan semakin ketat aja. Penghuni primary, tidak bisa keluar masuk dengan bebas. Mereka masih dalam tahap pemulihan. 3 bulan pertama masuk, tidak boleh berinteraksi dengan dunia luar. Sebelum sampai di gerbang primary, saya melewati masjid, ruang makan bersama, dan tempat kreasi mereka. Semua tertata rapih.

Tanpa pak Ishak, saya tidak bisa masuk ke areal primary. Setelah gerbang dibuka, di depan saya sudah ada beberapa penjaga rumah, sebutan untuk penghuni panti yang sudah senior, dan sekarang bertugas membimbing adik-adiknya yang baru masuk. Kenalan satu-satu dengan penghuni di ikuti pandangan agresif, membuat saya agak deg-degan. Apalagi ada satu orang bernama Raymond yang mempunyai tatto di sepanjang lengannya. Reflek, saya kaget (abis belom pernah liat tatto sebanyak itu sedekat ini seh, saya tau ini salah. Seharusnya wartawan tidak melihat dengan tatapan itu) Raymond langsung nyeletuk “mba nya takut ya…” saya buru-buru senyum “enggak ko…bagus! ga bisa liat tatto Tora Sudiro, liat yang ini aja.” Jawab saya sok jayus huahaha…tapi berhasil bikin suasana kembali normal.

Keluar dari kandang buaya, masuk ke kandang macan, yang ini lebih parah. Sewaktu pak Ishak pamit shalat, saya ngobrol sama Raymond. Ternyata, baru dua bulan ini dia jadi mualaf. Kisahnya juga unik, hidayah itu datang sewaktu dia berkenalan dengan karyawati sebuah departemen negeri di daerah salemba, yang datang untuk melakukan orientasi di panti. Gadis berjilbab tersebut, telah membuka pintu Islam dan memasukan pancaran cahaya dari Allah. Raymond mantap masuk Islam dan langsung sunat. Kemudian melakukan ijab kabul dengan gadis pujaannya tersebut.

Raymond juga tidak pernah membayangkan nasibnya akan bahagia seperti ini. Padahal dulu dia menjadi budak narkoba. Hidupnya penuh dengan kesulitan dan masalah. Dari yayasan rehabilitasi, asal daerahnya di Manado, Raymond direkomendasikan ke panti ini. Sekarang, walaupun sudah sembuh, Raymond ingin mengabdikan dirinya di panti. “Daripada saya di rumah saja, bisa jadi pikiran istri.” Keep rock on ya Raymond, may Allah always bless u!

Kalo dipikir-pikir kisah Raymond itu mirip di sinetron ya…

Kedatangan saya bertepatan dengan acara yang bernama “Group” jadi penghuni primary dan penjaga rumah alias seniornya, duduk membentuk lingkaran. Pakaian yang mereka kenakan rapih bo! Pake kemeja dan celana bahan. Menurut Rano, salah satu penjaga rumah, acara ini memang cukup sakral. Dimana semua yang hadir dapat mencurahkan isi hatinya sebebas-bebasnya. (btw, tampang Rano ini mirip adly fairuz loh, tapi ya…tetep aja ngomongnya rada-rada pelo’ khas junki). Saya jadi penasaran sama acara Group ini. Sebelumnya saya cuma bisa liat sewaktu nonton filmnya “Hancock” scene will smith lagi di penjara. Ehm…seru! tapi saya nggak bisa cerita banyak, soalnya mendingan liat langsung.

Bagi penghuni panti yang melanggar ketentuan akan dikenakan hukuman. Untuk yang kabur dari panti dan ketangkap, atau yang ketahuan mencuri barang teman. Mereka wajib pake sarung selama menjalani hukuman, baik itu mencuci kamar mandi selama seminggu, atau mencabuti rumput. Ada juga yang tidak boleh ditegur dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Akan berpengaruh ke psikologi mereka.

Selesai berkeliling, saya bertemu dengan pak Ahmadin, pembina mental di panti. Bapak ini friendly dan selalu tersenyum. Dia cerita tentang pertanyaan2 anak panti yang kadang sukar dijawab. “antara logis dan unlogis” katanya bersemangat.

Raymond pernah bertanya masalah tatto dengan pak Ahmadin, “pak, kata Ustadz orang yang punya tatto nggak boleh shalat, terus untuk apa saya shalat?” saya benar2 dilematis ditanya seperti itu. Di satu sisi, dia mau baik, menjalankan shalat, sedangkan di sisi lain memang ada ketentuan bahwa tatto dapat menghalangi air wudhu masuk ke pori2 kulit. Otomatis wudhunya tidak sah, maka shalatnyapun tidak sah. Untuk menghilangkan tatto, jalan yang paling murah adalah dengan mensetrikanya. Tapi, menyiksa diri sendiri juga tidak diperbolehkan oleh agama. Masa seluruh badan harus disetrika?

Saya benar2 penasaran, apa yang dijawab pak Ahmadin, agar anak2 asuhnya tidak putus asa, dan malah berbalik bandel lagi. “saya jawab: ok! Mari kita shalat. Segala apapun yang kita punya, serahkan saja sepenuhnya pada Allah.” Katanya.

Sebagai lulusan pondok pesantren, pak Ahmadin tidak bisa menerapkan secara saklek apa yang dipelajarinya waktu masih nyantri. Ini itu serba nggak boleh.

Ada satu lagi pertanyaan yang masih saya ingat: “pak, kenapa Islam tidak adil? Yang berbuat dosa bagian kemaluan saya, ko yang disucikan bagian tangan, kaki, hidung, dan telinga dalam wudhu.” Pak ahmadin menjawab: “loh, justru itulah adilnya Islam. Kamu sakit mata, mau disuntik di mata?” hehe…bisa aja jawabnya. Tanpa penjelasan panjang lebar atau dipaparkan ayat2 yang banyak. Tapi langsung mengena. Memang jawaban seperti itulah yang mereka butuhkan. Kalo disuruh menguraikan makna dari sebuah ayat, mereka belum sanggup. Pak Ahmadin menambahkan: “kamu sakit mata, tapi mungkin malah kamu akan di suntik di bokong, karena ada saraf2 yang menghubungkan ke mata. Begitupula Islam, ada nash yang sudah mengatur.”

Pulang dari sana, perasaan saya “penuh” dan bersyukur masih berjalan dalam koridor-Nya. Pak Ahmadin menyuruh saya untuk datang pas bulan Ramadhan. Karena kegiatan berpuasa di panti, menurut pengakuannya, banyak hal yang dapat dipelajari. Pengen juga seh, pasti bakal beda suasananya.

I wish i can…