Archive for October, 2008

sajadahku

Posted in religion on October 30, 2008 by anurannisa

Menurut kamu beda nggak antara menjalankan shalat dengan mendirikan shalat? Pastinya sama2 melaksanakan shalat seh…

Menurut saya sendiri, menjalankan dan mendirikan shalat, sangat berbeda. Kewajiban muslim yang paling utama memang mengerjakan shalat. Karena itu, banyak yang pantang meninggalkan shalat. Semua muslim yang taat pasti menjalankan shalat. Tapi, belum tentu ia sudah mendirikan shalat itu sendiri?

Menjalankan bisa hanya ingin menggugurkan kewajiban saja. Namun, bila mendirikan, bukan sekadar karena keharusan lagi. Dirinya sudah menyatu dengan bacaan dan makna yang terkandung dalam lafadz shalat tersebut.

Ketika tiba waktunya untuk menjalankan shalat, seorang muslim segera menunaikannya. Mengambil air wudhu, membasuh anggota badan dan berdoa, menggelar sajadah, lalu mengucap takbir sambil menggangkat tangan. Sampai kemudian menoleh ke kiri dan kanan, melontarkan salam. Berdoa dan melipat kembali sajadah.

Setelah itu, terkadang sebagai manusia dhaif, kita seringkali lupa. Menyakiti hati teman. Tidak mau membantu sesama, dan melakukan hal yang dilarang dalam melakukan aktivitas atau pekerjaan.

Ehm…dunia ini memang fana. Benar2 fana. Amat sangat fana. Bila kita tidak mau terus mengkaji agama, dan rendah diri. Maka, yang hak dan bathil akan semakin samar2. tergerus hawa duniawi.

Lain halnya ketika mendirikan shalat. Kapanpun dan dimanapun kita, maka disitulah sajadah kita terhampar. Sedang dan ingin melakukan sesuatu, maka itulah shalat kita. Apa yang kita akan perbuat selalu ingat dengan shalat. Apapun pekerjaan kita, selalu bentangkan sajadahmu dan dirikanlah shalat. dimanapun saya berpijak, disitulah sajadah saya…semoga Allah terus membimbing saya di jalan-Nya.

Ashsholaatu Imaddudin

Banyak yang sudah menjalankan shalat, tapi belum mendirikan shalat…

U HAVE NO EXCUSE

1.500

Posted in Daily on October 30, 2008 by anurannisa

07.05

Jarak dari rumah saya, Depok, menuju kantor, yang terletak didaerah Kalibata, sebenernya deket. Tapi berhubung lewat rute macet, pasar minggu, jadi perjalanan bisa memakan waktu hampir 2 jam. Ada seh alat transportasi yang ga ikutan macet, kereta api. Bayangkan perbedaannya, hanya 20 menit bisa sampe kantor. Tapi, takut ah! Ntar nyasar lagi, naek kereta yang ke jawa, hegh! Terus, terkadang radar hidung saya akan menangkap signal bau yang tidak terdeteksi ID-nya. Enggak tau itu bau ketek orang (yaiyalah masa kambing, abis hampir sama seh. Coba kalo tangannya diangkat keatas, laksana kambing sedang mengembik, scene di iklan.), entah bau keringet, atau parfum cap nyong2. pokoknya campur aduk, bikin mau bersin.

Tapi, alasan itu tidak berlaku bagi saya untuk pagi ini. waktu tidak mau berkompromi untuk berjalan lebih perlahan. “andaikan waktu dapat berhenti berputar,” kata2 ajaib pak Dipo, kalo kerjaan lagi ga selese2 di kantor hihi… Saya harus merelakan hidung ini menderita karena akan menjumpai bau2 asing. Membiarkan raga ini berjajar berdesak-desakan bagai ikan dalam kaleng sarden. Demi melewati waktu yang tinggal hitungan menit lagi. Soalnya, kalo sampe telat ngantor, saya ga bisa kuliah sorenya. Padahal, di kampus juga saya udah ga bisa bolos lagi. Jatah ga masuknya udah abis hehe…sampe dosennya pas pertama lihat saya masuk kelas, bilang “where have you been nisa?” So,i must come to the office early morning.

07.10

Sampai pada pagi ini, saya telat berangkat. Ditambah kabar buruk, bahwa si mbak yang membantu dirumah, lagi ke rumah mertuanya di Bogor. Jelas, ga ada yang bisa nganterin. Tawaran pa yang mengajak naik mobil, saya tolak langsung. “mo jam berapa sampe kantor?” akhirnya pa ngalah, nganterin saya dulu naik motor ke stasiun.

07.25

Sampe di stasiun, dari seberang rel, terdengar halo2 dari speaker petugas, bahwa kereta ekonomi jurusan Jakarta akan datang. Hua…go…go…seru juga lari2an ngejar kereta. Di loket karcis, bersyukur antrian tidak panjang. Tiba giliran saya, cepat saya katakan “Jakarta, satu!” sambil menyorongkan selembar uang seratusribuan baru, lewat celah kaca dibawah. Petugas yang melihat uang saya, langsung mendorong balik, “tukerin dulu mbak, ga ada kembaliannya,” padahal di depan saya, sebuah benda panjang yang digerakan dengan listrik sudah datang dengan tersenyum lebar (darimana lo tau dia senyum?) karena yang nungguin dia banyak, jadi serasa dibutuhin banget gitu. Curang neh kereta. Masa giliran penumpang yang telat dia ga mo nungguin, tapi giliran dia yang telat, penumpang dengan setia nungguin. Balik lagi, saya masih berusaha untuk memaksa petugas memberikan karcis, yang hanya seharga 1.500, tapi sangat saya butuhkan saat ini. “enggak ada pak,” jawab saya tegas. si bapak juga masih kekeuh dengan pendiriannya bahwa kembaliannya tidak ada. Saya rada2 ga percaya seh, secara yang naek kereta se-alaihim gambreng. Kalo uang saya limaribu, terus ga ada kembaliannya seh saya masih ikhlas. Ehm…kalo seratusribu, kayaknya mikir dulu deh. Tapi, niy kereta bakal dateng 20 menit lagi. Naek yang ekonomi AC, ga berenti di kalibata.

07.27

Tinggal hitungan detik lagi kereta akan berhenti sebentar, lalu berangkat lagi. Saya panik. Soalnya kalo saya ga dapet karcis itu, saya telat sampai kantor, kerjaan belum selese, otomatis ga bisa kuliah, ga lulus matkulnya, ngulang, nambah beberapa semester lagi, skripsi molor, temen2 dah pada lulus duluan, cuma saya yang belum, depresi, stress, mulai senyum2 sendiri, terus masuk RSJ,… (lebay lo ne!). implikasi dari 1.500 ini akan banyak sekali.

07.28.05

Lagi berkhayal jadi penghuni RSJ, masih belum beranjak dari depan loket, tiba2 diatas tangan sya yang masih tergeletak pasrah menggantung dimeja kayu kecil petugas sudah ada karcis. Ya, karcis jurusan Jakarta seharga 1.500 itu. 1.500 yang jadi halangan saya pagi ini. makanya ne, kalo punya recehan jangan suka ditaruh dimana aja, sekarang perlu kan. Iya deh, besok2 enggak, sorry ya! Masih belum percaya, saya langsung berlari kearah kereta. Sambil mendongak mencari siapa yang telah menjadi pahlawan kepagian saya itu. Sambil samar2 seh tadi saya sempet liat tangan dari orang disebelah saya mengantri, berkemeja hitam menjatuhkan karcis ini. tapi mana orangnya? Saya cuma mau bilang 3M: Makasih…Makasih…Makasih… ehm…itu dia, saya masih melihat punggungnya yang berjalan menuju kearah kereta. Saya ingin menyusulnya, tapi padatnya lalu lalang orang menghambat langkah saya yang udah ga sabar pengen cepet2 lari.

07.29.30

Tiba di tangga koridor kereta saya masih berusaha mencari sosok laki2 berkacamata itu. Tadi dia sempat menoleh sebentar, jadi saya sedikit punya gambaran. Tinggal beberapa detik lagi dari jam 07.30, kereta akan segera bergerak. Oh…itu, saya melihatnya. Tinggal hitungan langkah, tunggu! Teriak saya dalam hati. Sayang, dia sudah masuk dalam gerbong dan menghilang ditengah sesaknya penumpang kereta. Sayapun segera masuk dalam gerbong lainnya, setelah bimbang antara ingin mengejar dan takut tertinggal kereta. Pluit dari masinis terdengar nyaring, tanda kereta akan segera berangkat. Saya sudah berdiri aman diantara tubuh2 tinggi. Apakah dia seorang malaikat…

wiken di saung galah

Posted in Daily, Uncategorized on October 21, 2008 by anurannisa

Ini titipan dari Spektra’ers suruh masukin ke blog, padahal seh beritanya ga penting2 banget, cuma makan2 doang sekalian closing kepanitiaan. Bener2 ga ada hikmah yang dapat dijadiin renungan, selain ngobrol2 ga jelas, hehe…piss!

Aslinya, saya senang ko’ walaupun selama bekerja bareng, saya harus rela mengalami sedikit gangguan jiwa, gara2 ulah bang tara yang suka bikin emosi jiwa, huehehe…

Suka bilang: ane mistis! ane mistis!

Mendingan photo2 nya aja deh yang dibanyakin ye, daripada ceritanya. Soalnya, bisa dikejar2 wartawan infoitainment neh, ga enak. Kisah2 kemaren begitu menyenangkan, jadi bagi ne, privacy seperti itu sayang aja buat di share disini. Jadi konsumsi public. Secara selebritis gitu, tul ga?

the great team comes with the great of azzam,

Read more »

baru lebaranan

Posted in Uncategorized on October 21, 2008 by anurannisa

beberapa hari ini saya abis maen2 ke blog teman2. setelah saya perhatikan, hampir di setiap blog, saya lihat ada isi yang sama. kecuali di blog saya, isi itu enggak ada. yaitu: ucapan selamat Idul Fitri.

yang pentingkan didalam hati udah maafin ye…

mumpung masih di bulan syawal:

UleL melingkeL d’pageL

Anjing pudeL naek skuteL

Kalo aq prnh bqin kamu keseL

Dr lubuk udeLyg pling dalem

aq bneL2 nyeseL

CUMI-Cumamo Milang “Minal Aidzin Wal Faidzin”

dari Laskar Pelangi

Posted in fiction on October 17, 2008 by anurannisa

Memberilah sebanyak-banyaknya, jangan menerima sebanyak-banyaknya

Kata-kata pak Harfan didalam buku Laskar Pelangi. Satu-satunya filosofi yang saya ingat dari buku tersebut. Buku yang saya baca 2 tahun lalu, bulan puasa tahun 2006. saya masih ingat, waktu buku itu saya bawa ke kampus, temen-temen pada bilang, “buku apaan tuh ne? Ko pengarangnya ga terkenal seh?” sampe saya selese bacapun, tidak bisa berdiskusi mengenai isi buku itu ke siapa2, karena belom ada yang baca.

Setahun kemudian, ketika atmosfer keharuan dari buku itu telah menguap. Baru ada yang ngajak discusse, gw udah lupa….

Seperti biasa, kalo cerita di novel dijadiin film, pasti kritikannya senada: enggak sebagus novelnya. Saya sih, enggak mau membanding-bandingkan. Karena sudah jelas, novel dan film adalah suatu karya yang berbeda.

Saya juga bukan kritikus film, jadi tidak mau berbicara tentang kekurangannya. Saya hanya penikmat seluruh genre film dan semua karya. Untuk laskar pelangi, bagi saya, novel dan filmnya, masing-masing punya karakter yang kuat. Dialog dan celoteh sederhananya, menjadi keunggulan dari film ini. Anak-anak laskar pelangi lutju banget. Setelah di film kan, saya paling suka sama Mahar. Tokohnya ‘nyastra’ banget. Seperti kata-katanya:

Jangan berpikir bila sedang jatuh cinta

semua, yang ada hanya keindahan

bunga-bunga bermekaran

Read more »

Keluarga Anak Langit

Posted in societa on October 15, 2008 by anurannisa

Untuk mencapai basecamp anak langit, saya bersama rombongan harus nyasar dulu. Satu jam lebih. Padahal, sebenarnya cuma muter-muter deket situ aja. Iya, mbak Kie, kalo tadi kita lurus saja dari yayasan Budhi, pasti udah sampe cepet. Lo udah ngomong ribuan kali. Huehehe…

Tidak ada bangunan dari tembok. Tidak ada kamar-kamar beserta tempat tidurnya. Tidak ada teras didepan rumah. Juga, tidak ada atap dari genting. Yang ada hanya dua buah saung dari bambu. Di sebuah tanah liar, seluas hampir 1000 meter . dulunya tanah tersebut, hanya ditumbuhi ilalang setinggi hampir 5 meter. Tidak ada yang mau masuk kedalam. Tapi sebelas orang, yang peduli dengan nasib anak jalanan, bekerja keras, menyulap tanah tidak terurus tadi menjadi dreamland. Ya, pulau impian bagi mereka, anak-anak jalanan. Sebutan dreamland, sebenernya saya sendiri yang bikin seh, karena tanah tersebut, berada di tengah kali Cisadane, Tangerang. Jadi, serasa ada di dreamland gitu. Fantasi tingkat tinggi . Sembari berangan-angan juga disitu ada roller coaster sama rumah yang terbuat dari coklat. Setelah sebelumnya membayangkan petualangan kesebelas penemu pulau tadi, seperti adegan film columbus yang nemuin benua amerika. Dengan baju gaya perompak, ditambah burung beo yang hinggap di pundak, satu mata ditutup, dan tangan atau kaki dari kayu. Ngelantur neh…untungnya semua hanya khayalan. Kesebelas orang tadi telah melakukan sebuah petualangan lebih dahsyat dibanding pembuat dreemland itu sendiri. ada yang menjadi PNS, mantan anak jalanan, juga aktivis. Dan diantaranya, baru tiga orang yang sudah saya temui. Pertama, uwak Husein, tapi karena kesibukannya, seingga ia jarang ada di tempat. Kedua, bang Edi, yang penampilannya ng-punk abis dengan muka yang sangar. Tapi, ternyata dia S.Ag bo! Enggak nyangka, sarjana agama. Ngomong sama bang Edi, harus siap-siap kena serangan jantung. Karena orangnya ceplas-ceplos n blak-blakan. Benar-benar tidak ada basa-basi, apalagi sok jaim (gw suka gaya lo!). Nah, yang terakhir ketemu, pas datang itu, namanya bang Mi’ing. Nemenin saya ngobrol.

bang Mi'ing

bang Mi'ing

Kata bang Mi’ing, sebelum anak jalanan (anjal) masuk kesini, terlebih dulu harus mengikuti psikohealing. Tempatnya masih dekat dengan basecamp anak langit. Nanti di tempat tersebut, anjal bisa share dengan relawan yang berprofesi sebagai psikolog. Agar dapat diketahui sampai di grade mana anjal ini berada. Bila, masing2 sudah diketahui tingkatannya, pola pengasuhan akan lebih mudah.

“dalam membina anak-anak, disini tidak ribet dengan teori sih, yang mengharuskan anak begini atau begitu. Anak-anak ya cuma harus menjadi anak-anak,” tegas Mi’ing. Ketika mereka tumbuh sewajarnya menghabiskan masa anak-anaknya dengan penuh. Maka, mereka juga akan tumbuh menjadi dewasa dengan matang. Jadi, enggak ada istilah ‘masa anak-anaknya kurang’ atau ‘masa kecil kurang bahagia’.

Read more »

Gaul di Masjid, Asyik Loh!

Posted in religion on October 15, 2008 by anurannisa

Gaul di Masjid, Asyik Loh!

Media Indonesia, Ahad/28 September 2008

Oleh: A. Nurannisa, Ketua Departemen Jurnalistik RISKA 2007-2008

RISKA alias Remaja Islam Sunda Kelapa bisa dibilang organisasi aktivis muda masjid dengan kegiatan lengkap.

Selain belajar agama, juga tersedia wadah aktivitas ber-kesenian, olahraga, tafakur alam, hingga acara berbagi dengan kaum dhuafa. Jadi, tak ada kata bete di masjid karena melulu hanya mengikuti pengajian atau ceramah agama.

Pemberian materi keagamaan juga selalu asyik. Pengisi materi tidak hanya ustadz, tapi juga trainer, penulis buku, atau praktisi. Materi yang diberikan disesuaikan request anggota, juga tersedia jenjang pendidikan keagamaan yang bisa kamu pilih.

Read more »