Tradisi bermaafan sebelum dan sesudah lebaran

Wallahua’lam belum ditemukan nash hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan atau mencontohkan kita untuk saling bermaafan, khususnya saat menjelang masuknya bulan Ramadhan. Entahlah, tentu kalau ada dan shahih serta eksplisit redaksinya, kita pun wajib untuk melakukannya.

Meski tidak ada dalil khusus yang menunjukan bahwa Rasulullah SAW melakukan saling bermaafan menjelang Ramadhan, tetapi tidak ada salahnya bila setiap orang melakukannya. Memang seharusnya bukan hanya pada momentum Ramadhan saja, sebab meminta maaf kan bisa anywhere and everywhere. Adapun bermaaf-maafan secara umum, tidak terkait dengan masuknya bulan Ramadhan, sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Begitu banyak dalil untuk meminta dan memberi maaf, seperti:

Rasulullah SAW: “semua manusia (anak Adam) itu melakukan kesalahan,dan sebaik-baik orang yang melakuan kesalahan itu adalah orang-orang yang suka bertobat (minta maaf)” (HR Tirmidzi)

Idealnya yang dilakukan bukan sekedar berbasa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan, seperti hutang-hutang dan lainnya. Agar ketika memasuki Ramadhan, kita sudah bersih dari segala sangkutan kepada sesama manusia.

Dari Abu hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu. (HR. Bukhari dan Muslim).

Nah, sekarang kalau Allah SWT aja sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf  kepada sesama manusia. Sebab dosa yang bersifat langsung kepada Allah pasti diampuni sesuai janji Allah, tapi bagaimana dengan dosa kepada manusia?

cat-loves-dog

Jangankan orang yang menjalankan Ramadhan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga.

Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan Ramadhan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap. Mungkin gitu kale ye latar belakangnya.

Bermaafan boleh dilakukan kapan saja, menjelang Ramadhan, sesudahnya atau pun di luar bulan itu. Dan rasanya tidak perlu kita sampai mengeluarkan vonis bid’ah bila ada fenomena demikian, hanya lantaran tidak ada dalil yang bersifat eksplisit.

Sebab kalau semua harus demikian, maka hidup kita ini akan selalu dibatasi dengan beragam bid’ah. Bukankah ceramah tarawih, ceramah shubuh, kultum menjelang buka puasa, bahan kepanitiaan i’tikaf ramadhan, pesantren kilat, undangan ifthar jama’i, semuanya pun tidak ada dalilnya yang bersifat eksplisit?

Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa semua orang yang melakukan kegiatan itu sebagai ahli bid’ah dan calon penghuni neraka?kenapa jadi mudah sekali vonis demikian?

Apakah semua kegiatan itu dianggap sebagai sebuah penyimpangan esensial dari ajaran Islam? Hanya lantaran dianggap tidak sesuai dengan apa yang terjadi di masa Nabi?

Kita umat Islam tetap bisa membedakan mana ibadah mahdhah yang esensial, dan mana yang merupakan kegiatan yang bersifat teknis non-formal. Semua yang disebutkan di atas itu hanya semata kegiatan untuk memanfaatkan momentum Ramadhan agar lebih berarti. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan niat untuk merusak dan menambahi masalah agama.

Toh, tujuan berpuasa adalah menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah, dan ciri-ciri orang yang bertakwa adalah yang selalu memaafkan.

Lalu, bagaimana dengan tradisi bermaafan sesudah lebaran?

maaf

Jika merujuk nash, jelas hal ini wajib bin kudu dijalankan. Tunggu, saya mau membahas hal ini dari perbedaan ritual antara dulu dan sekarang. Di masa silam, ucapan “selamat Idul Fitri” banyak dikirim dengan kartu ucapan. Bila tujuannya jauh, perlu dibubuhkan perangko, untuk selanjutnya dititipkan d kantor pos. Sampai beberapa hari kemudian, baru dapat diterima dan dibaca oleh sasaran si pengirim. Ehm…bisa dibayangkan prosesnya yg lama, juga kocek yang perlu dikeluarkan untuk tiap lembar kartunya.

Sekarang seyh ibaratnya tinggal pencet tombol, terkirim deh tuh ucapan “Selamat Idul Fitri”. Yup, Short  Message Service via ponsel atau Email telah menggantikan posisi postman. Praktis, tidak perlu waktu lama dan biaya nya relatif murah, hanya ratusan rupiah.

Yang jadi perhatian saya adalah apa yang ditulis pada SMS ucapan lebaran. Coba disimak, puluhan SMS yang anda terima di hari lebaran, dari yang formil sampai yang pake pantun, berhiaskan huruf arab atau yang menyertakan gambar. Tidak ada yang salah dalam model tadi. Menurut saya, yang tidak tepat ada pada isi SMS tersebut. Ketika kita mengirim SMS lebaran yang berisi: permintaan maaf, kebanyakan membalas SMS tersebut dengan: permintaan maaf juga. Seharusnya kan: pernyataan diterimanya permintaan maaf kita. Ngerti kan? Misal: “saya memaafkan dgn tulus kesalahanmu, dan saya pun meminta maaf…” dsb.

Yang saya takutkan hanya orang tersebut ternyata belum benar2 memaafkan kita. Siapa yang tau seyh hati dan pikiran orang?

Dan segeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang memaafkan baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran 132-133)

SELAMAT IDUL FITRI 1430H

4 Responses to “Tradisi bermaafan sebelum dan sesudah lebaran”

  1. Di muslim or id kayaknya ada dibahas mengenai mbak. Keep update blognya ! Salam

  2. oh gitu ya, baru tahu nih, makasih

  3. Izin share ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: