Archive for the education Category

the history of april mop

Posted in education on April 1, 2009 by anurannisa

April mop (harfoolsi bergurau dengan meipu) menjadi senjata kaum kristen untuk membuat lengah umat Islam sebagaimana sejarah valentine. sekitar seribu tahun lalu kekuatan Eropa di bawah kekuasaan umat muslim begitu kokoh tidak mudah dihancurkan. kristen di barat berharap bisa melenyapkan Islam dari seluruh dunia. mulailah mereka mencoba membersihkan Islam dari kawasan Spanyol, tapi selalu gagal. mereka kemudian mengirim mata-mata ke Spanyol untuk mempelajari kaum muslimin dan menemukan bahwa kekuatan yang dimiliki muslim adalah taqwa. muslim Spanyol bukan hanya beragama Islam dan membaca Al-quran, tetapi juga bertingkah laku berdasarkan Al-quran. mereka selalu berkata tidak untuk musik, bir, dan segala hal yang dilarang oleh Islam. begitu kristen mengetahui kekuatan muslim, mereka mencari strategi untuk menghancurkannya. mulailah mereka membagikan gratis alkhohol dan rokok kepada kaum muslim. dalam jangka waktu tertentu taktik itu berhasil melemahkan keyakinan kaum muda Islam. hasil dari usaha ini adalah jatuhnya spanyol ke tangan kaum kristen. daerah terakhir yang jatuh dari kekuasaan umat Islam adalah Granada (Ghornata) pada tanggal 1 April. pada peristiwa tersebut kaum muslim dijanjikan akan diberi kebebasan meninggalkan spanyol secara damai, dengan catatan tidak boleh membawa senjata ke pelabuhan. setelah mereka berkumpul disana, mereka dibantai secara keji tanpa ada kesempatan membela diri. sejak saat itu kaum kristen merayakan April Fool’s Day atau April Mop sebagai hari kehancuran dan kebodohan umat Islam.

selamat hari guru

Posted in education on November 28, 2008 by anurannisa

setiap tanggal 25 Nopember kita selalu merayakan hari guru.

saya cuma mau mencuplikan sedikit isi dari roman milik Pramudya, karya berjudul “Pasarmalam” bercerita tentang kegigihan seorang Ayah yang menjadi guru.

“…ayah sendiri pernah mendapat tawaran jadi anggota perwakilan daerah. Dan ayah menolak angkatan itu.”

“menolak? Bukankah itu suatu kesempatan baik untuk memperbaiki keadaan masyarakat?” aku bertanya.

“aku tidak tahu. Hanya saja ayah bilang begini, perwakilan rakyat? Perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tidak suka menjadi badut-sekalipun badut besar. Dan ayah tetap menolak. Ayah pun pernah mendapat tawaran jadi kordinator pengajaran untuk mengatur pengajaran untuk seluruh daerah Pati. Tapi ayah menolak juga dan bilang, tempatku bukan di kantor. Tempatku ada di sekolahan. Ya, barangkali pendiriannya yang seperti itu juga yang menyebabkan ayah tak mau meneruskan jadi pengawas sekolah, dan kembali menjadi guru. Dan ayah bilang juga, kita guru-guru di tanahair kita ini jangan sampai kurang seorang pun juga.”

“ya,” kataku tak bertujuan. (hal. 65)

—————————-

Semua adik-adikku duduk di bale di tentang ranjang ayah.

“aku tak mau jadi ulama,” sambung ayah dengan suara tegas. “aku mau jadi nasionalis,” diam lagi. “karena itu aku jadi guru.” Diam lagi. “membukakan pintu hati anak-anak untuk pergi ke taman–,” tertahan sebentar, “patriotisme. Dengar?”

“dengar, Bapak.”

“mengerti?”

“mengerti, bapak.”

“karena itu aku jadi nasionalis.” Diam sebentar lagi.

“berat, anakku,” diam lagi. “sungguh berat jadi seorang nasionalis.”

Namun olehku mata ayah bersinar sedikit. Dan aku menyahut:

“ya, bapak.”

“karena itu aku memilih jadi guru.”

“ya, bapak.”

“jadi lembaga bangsa.”

Hatiku mulai tersayat oleh kata-katanya yang akhir itu.

“tapi aku rela jadi nasionalis. Aku rela jadi qurban semua ini.”

Sekali ini aku tak bisa menahan hatiku lagi. Peganganku pada ayah kueratkan dan tersontaklah tangisku—(hal. 88)

menularkan semangat optomisme, dibalik banyak nya berita guru yang menyedihkan saat ini. seminggu ini saja saya sudah membaca 3 kasus guru yang melakukan perbuatan asusila terhadap anak muridnya. ehm…memprihatinkan.

tapi saya yakin, guru yang menghabiskan banyak pikiran dan tenaganya untuk kemajuan bangsa lebih banyak daripada itu. beberapa bulan yang lalu, dalam sehari saya mewawancarai 4 kepala sekolah dari berbagai propinsi. subhanallah! perjuangan nya luar biasa.

buat mba kie dan teman-temanku lainnya yang jadi guru, selamat hari guru.ketika seorang guru berangkat ke sekolah untuk mengajar, kemudian di tengah jalan ia meninggal, maka sama saja ia dengan orang yang mati berjihad.

olimpiade olahraga siswa nasional

Posted in education on August 13, 2008 by anurannisa

“We are the champions – my friends
And well keep on fighting – till the end -
We are the champions…we are the champions
No time for losers
cause we are the champions – of the world –“

LENGKINGAN suara Anik, siswi SLB Jawa Timur memenuhi ruangan Istora Senayan Jakarta, awal Agustus lalu. Lantunan lagu ”We are the Champion” milik grup musik legendaris Queen yang dia bawakan, seakan menggetarkan hati para peserts Olimpiade Olahraga Siswa Nasional dan undangan yang hadir pada acara pembukaan.
”Suasana sangat meriah sekali. Sangat luar biasa. Biasanya saya hanya lihat melalui televisi namun saat ini saya mengalami secara langsung,” kata Elvin Lampelulu, S.Pd. Guru SD Inpres 1 Kawatuna, official tim Sulawesi tengah.

Suasana meriah tampak di acara pembukaan. Ada penampilan rancak 100 orang cheerleaders yang menari, melompat, bersalto dengan lincah dan teratur di antara alunan musik dan gemerlap lampu warna-warni. Mereka adalah siswa-siswi SMP Jakarta.

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo didampingi Ketua Umum KONI Rita Subowo membuka perhelatan yang rencananya akan digelar rutin setiap tahun. Raungan sirine menjadi tanda dimulainya ajang olahraga bergengsi tingkat nasional ini. Menteri sempat menyatakan kekagumannya atas meriahnya suasana pembukaan. “Hal ini membuktikan bahwa pendidikan bisa melakukan sesuatu yang menggetarkan,” kata Bambang.

Olimpiade olahraga ini di tahun sebelumnya dilaksanakan terpisah-pisah. Masing-masing jenjang menggelar sendiri-sendiri. Mulai tahun 2008 olimpiade digelar bersama, seperti halnya olimpiade sains nasional yang sejak 2004 digelar bersama untuk semua jenjang pendidikan. Kelebihan Olimpiade Olahraga ini juga diikuti siswa SMK dan Sekolah Luar Biasa (SLB).

”Atlet-atlet tersebut diharapkan menjadi atlet profesional yang bisa menjadi wakil Indonesia di berbagai ajang seperti SEA Games, ASIAN Games, dan sebagainya,” katanya.

Total peserta yang hadir sebanyak 5016 ini. Mereka wakil dari 33 provinsi yang datang dengan seragam masing-masing kontingen. “Mereka yang ikut di acara ini merupakan hasil seleksi yang diadakan mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten hingga provinsi. Peserta O2SN ini adalah para juara di tingkat provinsi,” kata Prof. Suyanto, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Selain sebagai ajang mencari atlet handal Mendiknas mengatakan O2SN juga dimaksudkan untuk menjadi perekat NKRI. Kata Menteri di even ni siswa-siswi terbaik di bidang olahraga dari seluruh provinsi di Indonesia, berkumpul di Istora Senayan untuk silaturahmi dan berinteraksi secara multikultural. O2SN menjadi wahana pendidikan di bidang multikultural siswa-siswi bisa berinteraksi untuk saling mengenal, saling membangun jejaring agar terbiasa dengan pergaulan tingkat nasional. ”Melalui O2SN ini kami ingin bangun nasionalisme di bidang pendidikan, persatuan dan kesatuan Indonesia bisa makin kokoh melalui berbagai lomba yang ada melalui O2SN para peserta akan membawa nama baik sekolah,” kata Bambang.

MF ARIEF DAN ANURANNISA

SBI

Posted in education on August 11, 2008 by anurannisa

SBI atau Sekolah Bertaraf Internasional, saat ini diserbu oleh para orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya. SBI cream of the cream, sekolah ini memang sudah tersaring dari yang tersaring. Bisa digambarkan: dari 8.000 SMP yang ada di Indonesia, hanya 60 SMP yang masuk dalam kategori SBI, begitupula dengan SMA dan SMK, ada sekitar 18.000, yang akhirnya meraih gelar SBI hanya masing-masing 100 untuk SMA dan 100 untuk SMK. Total dari SMP, SMA, dan SMK ada 260 SBI.

Lalu, apa perbedaannya dengan sekolah biasa, bertaraf international. Ada 3 point yang harus diutamakan,

Read more »