Archive for the fiction Category

Kalabendu dan Kalatida

Posted in fiction on November 1, 2009 by anurannisa

sebagai bahan perenungan…

Penyair besar Ronggowarsito, di pertengahan abad 19, menggambarkan
zaman pancaroba sebagai “Kalatida” dan “Kalabendu”.
r
Zaman “Kalatida” adalah zaman ketika akal sehat diremehkan. Perbedaan
antara benar dan salah, baik dan buruk, adil dan tak adil, tidak
digubris. Krisis moral adalah buah dari krisis akal sehat. Kekuasaan
korupsi merata dan merajalela karena erosi tata nilai terjadi di
lapisan atas dan bawah.

Zaman “Kalabendu” adalah zaman yang mantap stabilitasnya, tetapi alat
stabilitas itu adalah penindasan. Ketidakadilan malah didewakan.
Ulama-ulama menghianati kitab suci. Penguasa lalim tak bisa ditegur.
Korupsi dilindungi. Kemewahan dipamerkan di samping jeritan kaum
miskin dan tertindas. Penjahat dipahlawankan, orang jujur ditertawakan
dan disingkirkan.

Read more »

Poetry

Posted in fiction on February 6, 2009 by anurannisa

semester ini saya  dapet matkul “poetry”. pertama kali tau, saya bingung, puisi aja ko ada matkul khusus nya ya…

masalahnya, puisi yang pake bahasa Indonesia aja saya ga bisa ngerti, apalagi bahasa Inggris. apa seninya berpuisi aja saya masih ga paham. kadang ngrasa ajaib juga ngliat orang2 bisa ngarang puisi, ko bisa ya…bahasanya berbunga2 gitu, dapet darimana ya kata2 nya (yang pasti seh bukan dari lemari lu ne) kaya nya saya udah me-melankolis-kan diri semelankolis2-nya ga bisa juga. “ya Allah kenapa saya tidak di beri sedikit saja rasa keindahan untuk memahami puisi” hehe…

sering banget saya coba baca satu puisi, selese baca, sedikitpun makna yang terkandung didalamnya ga nyantol di otak saya.

waktu kuliah di FKM, saya disuruh ngbedah makhluk hidup. sekarang, di sastra saya disuruh ngbedah puisi, dan ternyata gampangan nyari letak pembuluh vena dibanding nyari maksud dari puisi.

kurang lebih 2 bulan matkul poetry ini berlangsung, saya mulai suka. apalagi kalo miss elve (dosennya) dah ngasih clue2 dari sebuah puisi. kalo dah bisa ngartiin semua vocab dan tau makna dari puisi itu ehm…rasanya kaya berhasil naek ke puncak gunung gede (maklum baru pernah naek gunung gede, jadi tau nya itu doang). jadi anak sastra emang harus agak “miring” tapi saya lebih bisa enjoy sama puisi Inggris dibanding Indonesia. ternyata romantis…(mang lu tau ne romantis?). mo saya tulis disini kepanjangan.

ini puisi yang saya dapet waktu UTS:                                                                       Meeting at Night By Robert Browning

The gray sea and the long black land;                                                                       And the yellow half-moon large and low;                                                               And the startled little waves that leap                                                                          In fiery ringlets from their sleep,                                                                                  As I gain the cove with pushing prow,                                                                      And quench its speed i’ the slushy sand.

Then a mile of warm sea-scented beach;                                                                   Three fields to cross till a farm appears;                                                                        A tap at the pane, the quick sharp scratch                                                                 And blue spurt of a lighted match,                                                                                 And a voice less loud, through its joys and fears,                                                Than the two hearts beating each to each

ini puisi pertama yang saya kerjain bener2 sendiri dan berhasil. mungkin kalo orang lain bisa gampang dan cepet ngartiin nya ya…tapi karna saya baru bisa, jadi agak norak deh :)

nah ini puisi saya pas UAS:

VIRTUE By George Herbert

Sweet day, so cool, so bright,                                                                                        The bridal of the earth and sky,                                                                                     The dew shall weep thy fall to night,                                                                          For thou must die.

Sweet rose, whose hue, angry and brave,                                                                 Bids the rash gazer wipe his eye his eye,                                                                  Thy root is ever in its grave,                                                                                           And thou must die.

Sweet spring, full of sweet days and roses,                                                                    A box where sweets compacted lie;                                                                               My music shows ye have your closes,                                                                        And all must die.

Only a sweet and virtues soul,                                                                                         Like seasoned timber never gives;                                                                              But though the whole world turn to coal,                                                                  Then chiefly lives.

dan saya juga berhasil ngerjain puisi ini beserta majas2nya dan stanza mean nya. puisi ini ternyata bagus loh artinya, bahwa bila kita selalu berbuat baik di dunia, pasti apapun yang kita dapet di manapun itu selalu untuk orang2 yang selalu mempunyai jiwa yang baik, seperti judulnya VIRTUE.

Body of Lies

Posted in fiction on November 20, 2008 by anurannisa


hitam

Tiga pekan yang lalu, saya sama tante dan sepupu, nonton film Body of Lies. Nonton nya di Platinum Screen, sekali-kali nyobain selain XXI. Awalnya, memilih film ini karena alternatif lainnya milik Indonesia, yang rada2 ga jelas. Ternyata, saya dibikin setengah kaget sama film ini. Walaupun, sampe sekarang sebenernya saya belum paham betul jalan ceritanya. Sepanjang alur cerita, buanyak banget pertanyaan yang ada di kepala saya. Soalnya, ini film mikir dengan strategi politik tingkat tinggi. Nanya tante disebelah geleng2 ga tau. Sepupu cuma sibuk minum n ngemil, sambil sesekali menyela “kapan seh selesenya? Laper neh…” Jadilah saya terus mantengin layer sendirian, sampai lupa berkedip. Takut kehilangan gambar atau teks walau sedetik. Nanti tambah ga ngerti.

Film ini hasil arahan sutradara Ridley Scott, diadaptasi dari novel karya David Ignatius dengan judul yang sama. Yang udah pernah nonton Kingdom of Heaven (mengejutkan karena ternyata itu film produksi Hollywood), pasti udah ga asing sama hasil bikinan sutradara yang sama ini. Lokasi film di Washington DC, Eropa, Maroko, dan Timur Tengah, kayak Jordania, Amman, Irak. Membuat mata kita disuguhkan pemandangan yang indah banget. TEMPO bilang “lokasi geografi yang melompat-lompat dalam alurnya itu bagai labirin. Penonton diajak mengumpulkan fakta demi fakta yang disuguhkan, bukan menebak-nebak akhir film”

Sang pemain utama, Leonardo Dicaprio (masih inget kan?), sebagai Roger Ferris beda banget penampilannya ma sebelum2nya, kayak di Titanic atau Romeo n Juliet. Badannya lebih berisi dan dikasih jenggot. (jenggot apa janggut seh yang bener?). yang lebih menarik perhatian, Dicaprio dan Mark Strong, sebagai Hani Salaam, seorang bos departemen intelijen Yordania, melafalkan ayat-ayat Al-Quran dengan fasih. Dialog sederhana, seperti: assalamualaikum, syukron jazakillah, afwan, dengan lancarnya keluar dari bibir seorang Dicaprio.

Kisah pertemanannya dengan perempuan arab, yang jadi perawatnya juga tidak terkesan ‘aneh’ tapi tetap islami. Pemakaian alat teknologi canggih, mewarnai film ini. Satelit milik AS yang dapat menangkap gambar objek di bumi dengan ketelitian sangat tinggi. Penonton pasti berdecak kagum liat alat ini bekerja. Apalagi waktu Roger mau diculik pasukan Al-qaeda, ada trik yang benar2 pintar, sehingga AS kehilangan jejak.

Pada akhir film, kita dikasih liat ruang bawah tanahnya al-qaeda. Bagaimana penyiksaannya untuk tahanan. Saya jadi berpikir, apa ini leotermasuk film propaganda untuk Amerika? Aduh, jadi ngeri kalo ngomongin ginian.

Tapi, sampai lewat beberapa minggu, banyak teman saya protes, kalo film yang saya rekomendasiin ini tidak ada di bioskop.

dari Laskar Pelangi

Posted in fiction on October 17, 2008 by anurannisa

Memberilah sebanyak-banyaknya, jangan menerima sebanyak-banyaknya

Kata-kata pak Harfan didalam buku Laskar Pelangi. Satu-satunya filosofi yang saya ingat dari buku tersebut. Buku yang saya baca 2 tahun lalu, bulan puasa tahun 2006. saya masih ingat, waktu buku itu saya bawa ke kampus, temen-temen pada bilang, “buku apaan tuh ne? Ko pengarangnya ga terkenal seh?” sampe saya selese bacapun, tidak bisa berdiskusi mengenai isi buku itu ke siapa2, karena belom ada yang baca.

Setahun kemudian, ketika atmosfer keharuan dari buku itu telah menguap. Baru ada yang ngajak discusse, gw udah lupa….

Seperti biasa, kalo cerita di novel dijadiin film, pasti kritikannya senada: enggak sebagus novelnya. Saya sih, enggak mau membanding-bandingkan. Karena sudah jelas, novel dan film adalah suatu karya yang berbeda.

Saya juga bukan kritikus film, jadi tidak mau berbicara tentang kekurangannya. Saya hanya penikmat seluruh genre film dan semua karya. Untuk laskar pelangi, bagi saya, novel dan filmnya, masing-masing punya karakter yang kuat. Dialog dan celoteh sederhananya, menjadi keunggulan dari film ini. Anak-anak laskar pelangi lutju banget. Setelah di film kan, saya paling suka sama Mahar. Tokohnya ‘nyastra’ banget. Seperti kata-katanya:

Jangan berpikir bila sedang jatuh cinta

semua, yang ada hanya keindahan

bunga-bunga bermekaran

Read more »

Sang Murrobi

Posted in fiction on September 23, 2008 by anurannisa

Seonggok kemanusiaan terkapar, siapa yang mengaku bertanggung bertanggungjawab? Bila semua menghindar, biarlah saya yang menanggungnya, semua atau sebagiannya (Syaikut Tarbiyah, Ustadz Rahmat Abdullah)

- Kinetransfer. Memindahkan format betacam digital ke Seluloid atau membuat Copy Master yang biasa disebut Copy A, biayanya sebesar $30.000 atau Rp.300.000.000,- dengan kurs dollar sebesar Rp.10 ribu. Pekerjaannya pun tidak dapat dilakukan di Indonesia(karena memang belum ada fasilitas untuk itu) melainkan di Bangkok, India, atau Australia.

- Audio Post Dolby Stereo. Untuk dapat dinikmati dengan baik di bioskop biasanya audio dalam film menggunakan Sistem Dolby Stereo. Biaya untuk Audio Post ini sekitar 100 juta rupiah.

- Lisensi untuk dapat menggunakan System Dolby Stereo sekitar 2.500 pondsterling, berarti kurang lebih 50 juta rupiah, kalau kita anggap kurs dari poundsterling ke rupiah 20 juta rupiah.

- Setelah Master Copy A jadi, maka dibuatlah Copy B sebanyak jumlah layar bioskop yang hendak kita putar. Satu Copy B menelan biaya antara 10 s/d 60 juta tergantung kualitas positif filmnya. Kita anggap saja, kita memerlukan 20 Copy B dengan kualitas sedang. Berarti 20×20 juta, sama dengan Rp.400juta.

- Total biaya yang diperlukan untuk dapat diputar di 10 bioskop adalah Rp.850juta.

Diatas adalah hitung-hitungan untuk memproduksi sebuah film. Sang Murrobi saat ini menjual filmnya dalam bentuk DVD dan VCD, dengan sistim pemesanan. Guna mendobrak kapitalisme produksi film, yang kebanyakan hanya menjual mimpi.

Pertanyaannya kemudian adalah: sanggupkah film Sang Murabbi meruntuhkan tembok raksasa ini? jawabnya: Tunggu dan lihat!

the alchemist

Posted in fiction on September 5, 2008 by anurannisa

Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita? tanya si anak, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu. Sebab, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada. Demikian selintas percakapan antara sang Alkemis dan Santiago, anak gembala yang mengikuti suara hatinya dan berkelana mengejar mimpinya. Perjalanan tersebut membawanya ke Tangier serta padang gurun Mesir, dan di sanalah dia bertemu sang alkemis yang menuntunnya menuju harta karunnya, serta mengajarinya tentang Jiwa Dunia, cinta, kesabaran, dan kegigihan.

yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian jadi kenyataan……..

Percakapan tersebut ada di buku karangan Paulo Coelho yang berjudul “The Alchemist” Buku yang mengantarkan saya menjadi dewasa. Berani memutuskan pilihan hidup sendiri. Walaupun jauh sebelum itu saya selalu percaya kata hati sendiri. Sejak saya mempelajari asal-usul manusia dari buku agama. Disana diceritakan, bahwa manusia sewaktu dalam kandungan sudah mengadakan perjanjian dengan Allah. Man robbuka? Lalu, kita semua menjawab, Allah. Tapi apa yang terjadi, setelah kita dilahirkan, melihat keindahan dunia, dan memperturutkan hawa nafsu, kita lupa sama janji tersebut.

Ingat2 lagi deh, di saat kita mau berbuat yang dilarang agama, pasti ada kata hati kita, seperti berkata melarang. Itulah, sebenarnya perkataan Allah, yang sudah terekam sejak perjanjian dilakukan. Jadi, apa yang dikatakan kata hati kita, itu adalah perkataan Allah. Dalam keadaan kalut dan butuh jawaban, coba dengarkan dengan khusyuk kata hatimu, dengan jiwa yang bersih dan hanya memohon kepada Allah, insya Allah kata hati akan memberi jawabannya.

“Masa depan adalah milik Tuhan,
dan hanya Dia-lah yang bisa mengungkapnya,
dalam keadaan-keadaan tertentu.
Bagaimana
caraku menebak masa depan?
Berdasarkan pertanda-pertanda yang ada sekarang ini.
Rahasianya ada pada saat sekarang ini.
Kalau kau menaruh perhatian pada saat sekarang,
kau bisa memperbaikinya.
Dan kalau kau memperbaiki saat sekarang ini.
apa yang ak
an datang juga akan lebih baik.
Lupakan soal masa depan, jalani setiap hari sesuai
ajaran-ajaran yang telah kau terima,


Dalam buku alchemist ini, Paulo menggambarkan latar belakang Tibet dengan sangat detil. Lekuk topografinya tersentuh dengan baik. Bikin saya mau mengunjungi Tibet someday. Kata-katanya mengalun indah. Keajaiban kalimatnya menyihir pembaca. Dengan makna hidup yang tersusun rapih. Cerita sederhana namun kaya arti. Coelho dapat membuat perumpamaan, tapi berhasil diterjemahkan secara seragam oleh pembacanya. Penulis kelahiran 1947 di Rio de Janeiro ini, sebelumnya aktif menulis juga bekerja sebagai sutradara teater, penulis lagu, dan jurnalis.

Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sama setiap hari,
pada akhirnya kita menjadi bagian dari hidup orang itu.
Lalu kita
ingin orang itu berubah.
Kalau orang itu tidak seperti yang dikehendaki orang-orang lain,
maka orang-orang lain ini menjadi marah.
Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu,
bagaimana seharusnya menjalani hidup,
tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri.


Buku ini juga menguatkan teori “mestakung” (semesta mendukung) yang saya baca. Dalam teori ini dikatakan bahwa bila kita berkeinginan kuat akan sesuatu yang baik, seluruh alam semesta akan mendukung. Angin, air, gunung, pohon, dll. Persisnya saya tidak tahu, tapi yang pasti bukan seperti adegan pohon yang berjalan sendiri dan ikut berperang dalam film “Narnia” itu seh terlalu ekstrem. Saya Cuma yakin, sebenarnya alam semesta ini sehari-hari ikut bersama kita. Bertasbih dan menyembah Allah.

wont go home without you

Posted in fiction on August 19, 2008 by anurannisa

Every night you cry yourself to sleep
thinking: “Why does this happen to me?
why does every moment have to be so hard?”
hard to believe it
it’s not over tonight
just give me one more chance to make it right
I may not make it through the night
I won’t go home without you

Deadline ditemenin lagu ini. memang tidak baik menyimpan masalah lama-lama…

Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Posted in fiction with tags on August 11, 2008 by anurannisa
Ksatria jatuh cinta pada Puteri bungsu dari kerajaan Bidadari
Sang Puteri naik ke langit
Ksatria kebingungan
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang
Tapi tidak tahu caranya terbang
Ksatria keluar dari kastil untuk belajar terbang pada kupu-kupu
Tetapi kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon
Ksatria lalu belajar pada burung gereja
Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara
Ksatria kemudian berguru pada burung elang
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi
Ksatria sedih
Tapi tak putus asa
Ksatria memohon pada angin
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi
Lebih tinggi dari gunung dan awan
Namun sang Puteri masih jauh di awang-awang
Dan tak ada angin yang mampu menusuk langit
Ksatria sedih dan kali ini putus asa
Sampai satu malam ada bintang jatuh
Yang berhenti mendengar tangis dukanya
Ia menawari ksatria untuk mampu melesat secepat cahaya
Melesat lebih cepat dari kilat dan setinggi sejuta langit dijadikan satu
Namun kalau Ksatria tak mampu mendarat tepat di Puterinya
Maka ia akan mati hancur dalam kecepatan yang membahayakan
Menjadi serbuk yang membedaki langit
Dan tamat
Ksatria setuju
Read more »