Archive for the mind n soul Category

Identitas Bahasa

Posted in mind n soul on October 30, 2009 by anurannisa

Bahasa menunjukan bangsa

Masih inget dialog Cinta Laura pada satu sinetronnya: “mana ujan, enggak ada ojek…” yang malah ditambahin ”becek!” dengan logat khasnya. Sehari-harinya, artis ini terbiasa berbicara memakai bahasa sono, terkadang campur aduk dengan bahasa Indonesia juga.

Semangat ber-Inggris ria sekarang melanda luas di berbagai kalangan. Percakapan sehari-hari di kalangan pekerja kantoran, tak jarang menyelipkan istilah Inggris, seperti: Meeting, Outing, dll. Bukan hal yang langka lagi menemukan orang berdialog dengan bahasa gado-gado seperti itu, entah di Mall, kantor, bahkan teman2 terdekat kita. Seperti yang saya lihat, seorang Ibu berwajah oriental asyik bercerita melalui ponselnya menggunakan bahasa Inggris-Indonesia, ketika kita sedang sama2 menunggu antrian di tempat praktek dokter gigi. Untungnya, bahasa Inggrisnya fasih dengan grammar yang tepat. Lucunya, ada satu pasien di Rumah Bersalin Puskesmas-yang letaknya di ndeso-saya bekerja, sedang berusaha untuk melahirkan. Sepanjang proses kelahiran bayinya, sang ibu tidak berhenti berteriak: “don’t hurt me…don’t hurt me” jiah….taunya cuma don’t hurt me doang kale! (lagian syapa yang nyakitin, lah mang melahirkan itu sakit dudul…).

Menurut cerita mantan pemred saya Pak Iwan (dulu waktu masih kerja di media) di blog nya:

Read more »

galeri pemilu 2009

Posted in mind n soul on April 11, 2009 by anurannisa
ini salah percetakannya atau syapa ya???

ini salah percetakannya atau syapa ya???

Read more »

Lirih Bumi

Posted in mind n soul on March 31, 2009 by anurannisa

MERIS EDISI APRIL 2007

(untuk saudara2ku yang terkena musibah)

berita kepada kawan

barangkali disana ada jawabnya, mengapa di tanahku terjadi bencana

mungkin tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita

yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa

mungkin alam telah enggan bersahabat dengan kita

tanyakan saja pada rumput yang bergoyang

sepertinya Ebiet G. Ade sendiri tidak ingin mendengar lagunya terus menerus di putar sebagai backsound akan peristiwa bencana. mungkin pula, sewaktu mencipta lagu tersebut Ebiet tidak pernah menyangka di Negara ini akan terjadi banyak bencana. setiap lagunya diputar seakan menjadi alarm bagi penduduk Indonesia bahwa bencana kembali melanda. belum hilang dalam ingatan, banjir bandang yang menenggelamkan hampir sebagian kota Jakarta. lalu, longsor yang menimbun kota NTT. juga, kedatangan si Lusi (Lumpur Sidoarjo) yang entah kapan penanganannya ditindaklanjuti oleh pemerintah. selain itu, bencana yang disebabkan oleh kelalaian manusia itu sendiri yang terjadi di darat, laut, juga udara. belum selesai pencarian pesawat Adam Air yang hilang di Sulawesi, sudah direpotkan lagi dengan tenggelamnya beberapa kapal laut.

mengapa bumi kejam sekali kepada manusia? sebelum memberi perkataan seperti itu, coba ingat-ingat kembali hal apa yang sudah membuat bumi merasa tidak bersahabat dengan manusia. coba sejenak direnungkan. berusaha mendengar perkataan bumi yang merintih “oh…manusia, bukankah engkau makhluk Allah yang paling sempurna. lalu mengapa kau tidak menjaga aku sebagaimana Allah memerintahkan kepadamu. kau malah merusakku! tubuhku banyak lubang akibat ulahmu yang sering menggunduli hutan. aku ketakutan setiap kali kau ciptakan peperangan. tubuhku babak belur karena banyak bahan kimia yang kau ciptakan. kau selalu tidak sadar bila sampah yang kau buang sembarangan membuat wajahku jelek. wahai Allah, mengapa engkau biarkan mereka terus menyakitiku? aku hanya ingin mereka menjagaku. bukankah itu untuk kebaikan mereka juga. untuk apa Kau pancangkan gunung2 sebagai pasak. dan Kau lebarkan permadani diatas bumi, kalau bukan untuk dipelihara,” ujar bumi dengan merana.

Allah maha segalanya, Dia mendengar keluhan bumi. tetapi Allah tetap bermurah hati. Allah menyuruh bumi untuk bersabar dan menunggu manusia sadar dan akhirnya bertobat.

kemanakah lagi kutanyakan semuanya

kepada karang? kepada ombak? kepada matahari?

tetapi semua diam, tetapi semua bisu

tinggalah ku disini, terpaku menatap langit

orang yang kamu sayang, bapak tua, atau ibu hamil?

Posted in mind n soul on March 8, 2009 by anurannisa

Ada sebuah pertanyaan: (Baca dengan seksama)

Pada satu ketika, kamu berada di sebuah halte atau semacam tempat untuk menunggu. Kamu berada disana karna hujan tengah turun dengan deras. Kamu tidak sendiri, melainkan ditemani seorang yang kamu sayangi, seorang Bapak setengah baya, dan seorang Ibu yang tengah mengandung dan ingin melahirkan. Semua menunggu berhentinya guyuran air dari langit. Nah, setelah hujan reda, kamu berniat melanjutkan perjalanan dengan sepeda motormu. Hanya ada satu orang yang dapat mengisi sisa tempat duduk di motor yang kamu kendarai. Siapa yang akan kamu ajak serta? Orang yang kamu sayangi, Bapak tua, atau Ibu hamil?

Ayo siapa? (pikirkan dengan matang)

Coba jawab dengan jujur, karna toh pertanyaan ini tidak ada jawaban yang benar atau salah. Semua terserah kamu, tergantung darimana kamu memprioritaskannya. Sekali lagi, ini bukan pertanyaan benar atau salah…

Saya juga punya jawaban sendiri. Tapi, mungkin jawaban saya tidak jauh berbada dengan kebanyakan. Satu diantara ketiga kandidat diatas.

Saya mau menuliskan jawaban dari seseorang yang juga pernah mendapatkan pertanyaan ini persis seperti diatas. Pertanyaan ini dia dapat, sewaktu mengikuti test di departemen luar negeri. Sekarang orang tersebut sudah ditugaskan di New York, dengan hasil test yang sangat sangat sangat memuaskan.

Jawaban dia:

“saya akan meminjamkan motor tersebut kepada Bapak tua untuk mengantarkan Ibu hamil tadi ke rumah sakit terdekat. Lalu saya akan menghabiskan waktu sepanjang hari itu dengan orang yang saya sayangi.”

thanks to mba dala, ida, n ari

untuk cerita sore nya

kesesatan sejarah

Posted in mind n soul on February 16, 2009 by anurannisa

Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap peristiwa yang dijadikan momentum perayaan tahunan selalu punya sumber sejarah dan jejak peristiwa yang bisa dipercaya dan dilacak. Contohnya Maulid Nabi dan Isra Miraj. Kalau kita mau telusuri jejah sejarah dan lokasinya, gampang sekali didapat. Hal ini sekaligus menunjukan bahwa peristiwa yang punya sumber sahih dan jelas akan memberi dampak positif kepada orang-orang yang mengenangnya. Dalam sejarah kita mengenal Saladin atau Salahuddin Al-Ayubi yang berhasil membakar semangat para prajuritnya dengan perayaan Maulid Nabi. Namun, sebaliknya, peristiwa yang cuma sekedar dongeng, apalagi isapan jempol, memberi efek yang negatif. Karena peristiwa itu tidak punya bukti dan sumber yang sahih, yang terjadi adalah pengertian yang menjadi ganda.dalam yang mengenangnya. Di satu sisi, karena peristiwa itu tidak pernah terjadi, ada distorsi sejarah berupa kebohongan publik oleh nenek moyang mereka, di sisi lain mereka terus mentradisikan peristiwa itu sepanjang hidup mereka seolah-olah peristiwa itu benar-benar pernah terjadi.

Peristiwa yang benar-benar terjadi akan meninggalkan kesan mendalam di benak orang yang pernah menyaksikannya secara langsung. Kesan itu tidak sekedar tertinggal dalam kenangan mereka, tetapi juga dalam jiwa mereka. Kemudian tampak dalam tindakan dan perbuatan mereka. Untuk keperluan penulisan dan penuturan sejarah, kesaksian mereka akan menjamin terpelihara dan tersampaikannya peristiwa itu ke generasi berikutnya. Kenapa? Sebenarnya sejarah itu seperti pengkabaran: bahwa telah terjadi sebuah peristiwa begini dan begitu, jauh sebelum kita lahir. Percaya atau tidaknya kita terhadap kabar itu, sangat bergantung pada benar atau tidaknya kabar itu. Benar atau tidaknya kabar itu, sangat bergantung pada sanad (jalan yang menghubungkan) kabar itu. Inilah yang menjadi dasar tersampaikannya hadis-hadis Nabi SAW ke tangan kita. Hadist adalah kabar yang dibawa oleh para perawi yang terdiri atas orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi dan mempraktikkan seluruh tindakan dan ucapan Nabi yang mereka lihat setiap hari. Karena ucapan dan tindakan itu dipraktikan, tidak heran kalau kemudian penyampaian hadis menjadi akurat dan efektif. Seorang sahabat akan menyampaikan hadis kepada anak-anaknya, demikian juga anak-anaknya kelak akan menyampaikannya kepada generasi berikutnya. Karena kabar-kabar itu disampaikan dalam bentuk tindakan yang diceritakan, keaslian dan kebenaran hadis terjaga dengan baik. Apalagi para ulama hadis menetapkan syarat yang ketat bagi kriteria perawi hadis, diantaranya tidak cacat moral (misalnya suka berdusta dan menyakiti orang lain) dan berdaya ingat kuat. Itulah mengapa para ulama membuat kategori-kategori nilai hadis, misalnya sahih, hasan sahih, mutawatir, dhaif, maudu’, dll. Semata-semata untuk menjaga ashalah (keaslian) informasi sejarah.

Tentu kita sudah tahu konsekuensi menerima informasi sejarah yang keliru, yaitu penyimpangan tujuan dan munculnya bid’ah (tindakan tanpa rujukan). Nah, itu baru sejarah yang keliru, bagaimana bila sejarahnya tidak terjadi sama sekali?

Itulah yang terjadi pada perayaan-perayaan seperti Valentine Day…(juga hallowen, dll). Sampai detik ini tidak sepotong fakta sejarahpun yang bisa menjelaskan siapa pembuat dan pencetus tradisi ini. Kalaupun terpaksa mau dijelaskan, yanfuck1g terjadi adalah kesimpangsiuran sejarah. Misalnya Valentine Siapa itu Santo Valentino, apa hubungannya dengan burung merpati, dan mengapa tanggal 14 Februari secara tidak resmi tahu-tahu dijadikan hari kasih sayang, penjelasannya sama sekali blank. Ini terjadi karena Valentine Day sama sekali tidak punya rujukan sejarah yang dapat dipercaya ucapannya.

Ada beberapa versi yang menandai peringatan hari kasih sayang ini. Versi pertama adalah pendeta bernama Saint Valentino yang dihukum mati oleh Kaisar Claudius II. Penguasa Romawi abad ke-3 Masehi ini menganggap sang pendeta bersalah karena memberkati sepasang remaja yang terlanjur bebas bergaul. Kematiannya disambut oleh musim berpasangannya burung. Mungkin karena bertepatan dengan musim semi yang biasanya banyak burung. Dan sebelum meninggal ia sempat mengirimkan surat selamat tinggal kepada kekasihnya yang isinya antara lain ”be my Valentine”

Versi lain peringatan ini dikaitkan dengan sebuah pesta bernama Lupercalia. Pesta ini merupakan ajang mencari jodoh masyarakat Romawi kuno. Muda-mudi berkenalan dan bercinta dalam pesta tersebut. Dengan kematian Saint Valentine tersebut, masyarakat mengganti nama Lupercalia dengan peringatan Valentine’s day.

Versi berikutnya, peringatan Valentine’s Day adalah pergeseran kepercayaan masyarakat Inggris purba. Mereka yang asalnya yakin bahwa musim semi adalah musim bercinta, kemudian makin yakin lagi, pasalnya pendeta yang dianggap pahlawan cinta pun mati di musim semi.

Jadilah 14 Februari diperingati sebagai hari bercinta. Sejak abad ketujuh Valentine’s Day dirayakan orang. Budaya ini makin berkembang pada abad ke-15 dengan ungkapan melalui benda berharga seperti: bunga, minyak wangi, dsb. Dan pada abad ke 17-18 kebiasaan tersebut berganti dengan mengirimkan kartu berbentuk hati yang tertusuk panah (norak enggak tuh?)

Terlepas dari berbagai versi asal muasal peringatannya, hari bercinta-yang entah dipelintir oleh siapa menjadi hari kasih sayang-ini intinya adalah sebuah bentuk membiasakan hubungan bebas lawan jenis. Bagi yang hadir pada pesta-pesta semacam ini jangan heran melihat pola pergaulan yang sangat tidak islami.

Jangan minder semata-mata menampilkan wajah islam yang sejati. Kita bisa baca mengenai sejarah dunia Islam, ada buku Muslim Menemukan Eropa karya Bernard Lewis, Pustaka Risalah. Islam hanya mengajarkan kasih sayang dengan dasar satu hal: semua manusia berasal dari satu nenek moyang yaitu Nabi Adam as. Sebagai muslim dan muslimah tentu saja kita enggak mau asal ngikut arus saja. Valentine’s Day yang enggak jelas juntrungan arahnya harus dianulir dari agenda acara kita

tidak seperti yang dulu

Posted in mind n soul on January 28, 2009 by anurannisa

1430 H – 2009

“Musik tahun baru kami adalah deru suara pesawat tempur Israel, kembang api tahun baru kami adalah percikan-percikan sinar dari misil-misil Israel.”(Raed Samir).

Tahun baru selalu membuat saya merasa bagai berada di dua sisi, bagai uang logam yang mempunyai gambar di masing2 bagiannya. Seneng, pasti! Sudah terbayang rencana2 baru. Tapi, kalo inget kesalahan kemarin, kayanya saya lebih mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain, dibanding kesalahan diri sendiri.

Para peramal berlomba2 menerawang kejadian apa aja yang akan terjadi di hari esok. Mama loreng, ki joko bodo amat (bukan nama sebenarnya-red.), beserta peramal2 terkenal lainnya muncul silih berganti di berbagai tayangan infotainment dan talkshow. Mereka bilang, tahun ini akan ada perkawinan, perceraian, kematian, dan kelahiran…haghaghag…lucu ya, bukannya itu memang sudah siklus kehidupan. Saya perhatikan, enggak ada tuh yang dengan detil menyebutkan nama, tempat, dan waktu kejadian akan berlangsung. Mungkin itu kode etiknya dukun ya…

Apakah ada yang benar-benar baru dalam diri saya pada tahun ini? Pada kalender masehi, tanggal 31 Desember 2008, tiupan terompet dan ledakan mercon di tengah malam pergantian tahun masih seperti yang dulu. Memekakan telinga dan mengurut dada. Panggung gembira yang disesaki pengunjung saat merayakan malam tahun baru, juga masih seperti yang dulu. Membuat lelah dan tanda tanya besar: hal apakah yang sudah dilakukan sampai harus mengikuti acara semalam suntuk begitu? Memang semua masih seperti yang dulu (ko jadi kaya lagu seh…).

Tahun berganti dan usia kita berkurang, tapi kesadaran kita akan berkurangnya usia, tak juga bertambah. Tahun berganti dan kita semakin tua, tetapi kedewasaan kita akan makin tuanya diri, juga tak juga tumbuh. Tahun berganti dan persoalan kita semakin kompleks (study, kerjaan, organisasi, sampai krisis global, peperangan, pembunuhan, pornografi…), tetapi keterampilan kita dalam mengatasi berbagai persoalan itu, tak juga terasah. Tahun berganti dan tantangan bagi keimanan kita semakin dahsyat, tetapi ibadah yang kita lakukan untuk menangkalnya, masih juga terasa lemah. Lantas, apa yang sudah kita lakukan di tahun-tahun yang sudah lewat dibelakang sana?

Kalau segalanya masih juga seperti yang dulu, bukankah itu berarti kita tak berbuat apa2? Kalau semuanya tak juga berubah menjadi baik, bukankah berarti tak ada kebaikan yang kita lakukan untuk menggantikan keburukan-keburukan? Kalau apa saja masih begitu-begitu saja, bukankah itu berarti tak ada yang salah dalam cara kerja kita? Nah, menurut saya, mestinya takberbuat apa2, dan tak ada perbaikan, dan kesalahan dalam bekerja itulah yang menjadi agenda penting untuk mengisi malam pergantian waktu. Bermuhasabah. Bukan suara tanpa makna, ledakan tanpa arti, dan kelelahan tanpa manfaat apa2. Jangan sampai riuh rendah gemerlap suasana tahun baru, membuat tak secuil pun ruang dalam kesadaran untuk merenung barang sebentar, lalu bangkit melakukan perbaikan, pembaruan, dan perubahan.

Tahun baru, semangat baru? Bagus itu! Tapi semangat tanpa perencanaan, wah namanya semangat bonek dong (ane ekstrim banget bahasanya). Bayangin aja niy yah (tunggu, dibayangin dulu) kalo nyimpen baju di lemari dapur, terus bumbu dapur di rak sepatu, dan buku2 di kamar mandi…pusing? Jelas. Akan ada banyak waktu yang terbuang sia2 hanya karna ketidakrapian kita. Buat hal kecil kaya gitu aja kita dituntut untuk rapi, apalagi hal2 penting dan besar: mengatur hidup. Kata ustadz Anis Matta dalam bukunya “Model Manusia Muslim” yaitu: setiap usia yang kita lewati seluruhnya adalah batu bata yang dipakai untuk menyusun bangunan rumah kita di akhirat nanti. Pertanyaannya: sudahkah kita sedikit demi sedikit menyusun batu bata tersebut? Katanya seh kalo mo nyusun planning manajemen hidup harus yang logis. Artinya, kita yakin dapat meluluskannya sesuai jadwal. Jadi, ga perlu ngawang2 githu…dan idealnya kalo mo bikin planning dibuat sampai seumur hidup (tolak ukurnya seumur nabi deh). Hhuuu…lama banget! Saya bikin 10 tahun aja dulu deh

Tahun 1 = lepas behel…

Jadi, tahun ini targetnya cuma lepas behel…hihi…

Tahun 2 = lulus kuliah untuk kedua kalinya

Biar si SKM ada temennya, si SS

Tahun 3 = menjadi praktisi kesehatan, pengajar bhs. Inggris, dan penulis yang baik

Tahunnya kerja

Tahun 5 = lulus S2

Pengennya seh…ya nama nya juga belajar, ka nada pepatahnya “kejarlah ilmu sampai ke liang lahat” walaupun ga ngotot amat tapi boleh juga kalo dibayarin dari kantor.

Tahun 7 = punya taman bacaan masyarakat dan PAUD gratis

Impian yang harus terwujud, insyaAllah!

Tahun 10 = menunaikan rukun Islam yang k-5

Saya baca di satu majalah Islam, tips biar bisa naik haji, salah satunya dengan menabung atau ikut asuransi. Nah saya pilih opsi 2. kalo nabung sendiri takutnya ga disiplin. karna ikutnya baru tahun ini, jadi ya jatoh temponya 10 tahun lagi. Biar lama yang penting pasti. Atau ada yang mo ngajak sekarang? Ga nolak!

to: yang kemaren bilang “ada tuh yang wordpress nya 2 bulan ga dibuka2″ bikin semangat nulis disini lagi…

batas waktu

Posted in mind n soul on August 7, 2008 by anurannisa

Dalam setiap kehidupan, selalu ada dua sisi. Bagai pedang bermata dua. Terkadang mereka begitu dekat, saling berhadapan. Sebagai contoh, banyak yang mengatakan: “jangan sampai terlalu cinta, karena akan lebih mudah menjadi benci.” Apapun itu senang dan susah, hidup dan mati, kaya dan miskin, atau sehat dan sakit, harus dihadapi dengan tidak berlebihan. Semua diterima sesuai kondisinya. Agar tidak terjalin jarak psikologis yang terlalu jauh, apabila nanti akhirnya kedua hal yang menjadi teman tersebut berbalik menjadi musuh.

Pengantar diatas tadi, sebenarnya menggandeng saya untuk membicarakan pertemuan dan perpisahan. Sama-sama dua hal yang saling bertolak belakang. Namun, hadir satu paket tanpa bisa dipisahkan. Siapapun, pasti lebih memilih menghindar dari perpisahan. Tapi ada satu titik, dimana kita akan menjawab dengan standar ketika dihadapkan pada perpisahan “memang sudah waktunya”. Setelah segala upaya telah dikerahkan, pemikiran disaring menjadi jernih, permohonan terus dipanjatkan, dan perasaan dilatih kuat. Bermacam alasan bisa saja dilontarkan, sebagaimana sering saya lihat di infotainment, mengenai kabar seorang artis yang sedang menggugat cerai. Hubungannya dengan orang ketiga lah, komunikasi yang kurang terjalin lah, sampai sudah tidak cocok lagi lah.

Read more »