Archive for the societa Category

BKKBN melakukan rebranding

Posted in societa on April 11, 2009 by anurannisa

Indopos, 9 Februari 2009kb

oleh: A. Nurannisa

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) seiring dengan perubahan paradigma di masyarakat dalam pengelolaan KB Nasional, ingin menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Pembangunan di Indonesia sejak awal reformasi, hingga era desentralisasi dan globalisasi, serta good government, akan banyak mewarnai perjalanan program KB ke depan.

Rencana dan strategi BKKBN dalam merumuskan kembali visi dan misi, yaitu “Seluruh keluarga ikut KB dan mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera” oleh Dr. Sugiri Syarif, MPA selaku Kepala BKKBN, dalam Talkshow Rebranding BKKBN, yang dilakukan di studio BKKBN, Halim Perdana Kusuma, beberapa waktu lalu, sempat mengulas sediit sejarah BKKBN.

Pada tahun 1970, pemerintah membentuk BKKBN, sebagai institusi yang melaksanakan program atau bertanggung jawab terhadap KB. Waktu itu pemerintah merasa bahwa masalah kependudukan harus ditangani secara serius. Sehingga tidak saja hanya pada pelayanan yang regular saja.

Dalam perjalanannya, BKKBN sukses melaksanakan programnya pada tahun 1980-1990. dengan adanya bukti, bahwa Indonesia sempat menjadi kiblat dunia Internasional dalam pengelolaan KB.diketahui juga tidak kurang dari sekitar 4 ribu peserta dari sekitar 97 negara telah belajar KB di Indonesia.

Read more »

Keluarga Anak Langit

Posted in societa on October 15, 2008 by anurannisa

Untuk mencapai basecamp anak langit, saya bersama rombongan harus nyasar dulu. Satu jam lebih. Padahal, sebenarnya cuma muter-muter deket situ aja. Iya, mbak Kie, kalo tadi kita lurus saja dari yayasan Budhi, pasti udah sampe cepet. Lo udah ngomong ribuan kali. Huehehe…

Tidak ada bangunan dari tembok. Tidak ada kamar-kamar beserta tempat tidurnya. Tidak ada teras didepan rumah. Juga, tidak ada atap dari genting. Yang ada hanya dua buah saung dari bambu. Di sebuah tanah liar, seluas hampir 1000 meter . dulunya tanah tersebut, hanya ditumbuhi ilalang setinggi hampir 5 meter. Tidak ada yang mau masuk kedalam. Tapi sebelas orang, yang peduli dengan nasib anak jalanan, bekerja keras, menyulap tanah tidak terurus tadi menjadi dreamland. Ya, pulau impian bagi mereka, anak-anak jalanan. Sebutan dreamland, sebenernya saya sendiri yang bikin seh, karena tanah tersebut, berada di tengah kali Cisadane, Tangerang. Jadi, serasa ada di dreamland gitu. Fantasi tingkat tinggi . Sembari berangan-angan juga disitu ada roller coaster sama rumah yang terbuat dari coklat. Setelah sebelumnya membayangkan petualangan kesebelas penemu pulau tadi, seperti adegan film columbus yang nemuin benua amerika. Dengan baju gaya perompak, ditambah burung beo yang hinggap di pundak, satu mata ditutup, dan tangan atau kaki dari kayu. Ngelantur neh…untungnya semua hanya khayalan. Kesebelas orang tadi telah melakukan sebuah petualangan lebih dahsyat dibanding pembuat dreemland itu sendiri. ada yang menjadi PNS, mantan anak jalanan, juga aktivis. Dan diantaranya, baru tiga orang yang sudah saya temui. Pertama, uwak Husein, tapi karena kesibukannya, seingga ia jarang ada di tempat. Kedua, bang Edi, yang penampilannya ng-punk abis dengan muka yang sangar. Tapi, ternyata dia S.Ag bo! Enggak nyangka, sarjana agama. Ngomong sama bang Edi, harus siap-siap kena serangan jantung. Karena orangnya ceplas-ceplos n blak-blakan. Benar-benar tidak ada basa-basi, apalagi sok jaim (gw suka gaya lo!). Nah, yang terakhir ketemu, pas datang itu, namanya bang Mi’ing. Nemenin saya ngobrol.

bang Mi'ing

bang Mi'ing

Kata bang Mi’ing, sebelum anak jalanan (anjal) masuk kesini, terlebih dulu harus mengikuti psikohealing. Tempatnya masih dekat dengan basecamp anak langit. Nanti di tempat tersebut, anjal bisa share dengan relawan yang berprofesi sebagai psikolog. Agar dapat diketahui sampai di grade mana anjal ini berada. Bila, masing2 sudah diketahui tingkatannya, pola pengasuhan akan lebih mudah.

“dalam membina anak-anak, disini tidak ribet dengan teori sih, yang mengharuskan anak begini atau begitu. Anak-anak ya cuma harus menjadi anak-anak,” tegas Mi’ing. Ketika mereka tumbuh sewajarnya menghabiskan masa anak-anaknya dengan penuh. Maka, mereka juga akan tumbuh menjadi dewasa dengan matang. Jadi, enggak ada istilah ‘masa anak-anaknya kurang’ atau ‘masa kecil kurang bahagia’.

Read more »

only 4 girls

Posted in societa on September 5, 2008 by anurannisa

Hi girls, bener nggak seh, pertama kali yang diliat cowok dari cewek itu fisik? Kalo menurut saya benar. Eits, pernyataan saya tidak asal aja loh. Saya sudah bertanya ke beberapa makhluk yang berjenis kelamin laki-laki. Perlu saya tegaskan lagi, yang saya tanyakan itu waktu pertama kali melihat. Walaupun pada akhirnya, mereka menambahkan bahwa fisik bukan segalanya. Ini pernyataan serius yang jujur atau lebih ke pasrah, takutnya nggak bisa dapet yang cantik nantinya. Hehe…saya tidak tau deh. Lagian kalo ngomongin jodoh mah, pasti ujung2nya kita semua akan menyanyikan tembang lawas: “kalo jodoh tidak akan kemana.” Loh, jadi ngomongin jodoh.

Pada intinya, fisik yang utama. Tapi itu pernyataan dari segelintir orang yang saya dengar langsung. Mudah2an masih banyak lagi para kaum adam di luar sana yang tidak sependapat. Berapa perbandingannya juga saya tidak mengetahuinya dengan pasti. Sampai saat ini belum ada profesor yang dapat memberikan alat pengukur untuk menentukan indikatornya.

Umumnya, mereka senang dengan “pemandangan” indah tersebut. Putih…manis…dengan senyum ala iklan pepsodent, rambut di rebonding, kuku lentik di manicure. Kepala cowok bisa sampai miring2 melihatnya. Ada rubrik khusus pria di sebuah majalah sastra yang saya baca, bahwa laki-laki paling tidak bisa menjaga matanya. Termasuk untuk pandangan diatas tadi.

Maka, tidak salah kalo mereka menyenangi keindahan atas perempuan. Nah, hal ini yang di eksploitasi besar2an oleh kaum kapitalis. Memberi patokan bahwa perempuan cantik itu harus putih, dibuatlah krim pemutih badan, dengan iming2 dalam beberapa minggu bisa merubah kulit hitammu. Dalam iklannya, mereka membuat cerita bahwa perempuan kulit hitam tidak punya teman, dijauhi, dan hidupnya akan menderita. Come on girls! Don’t believe that. Untuk menyamarkannya, sekarang mereka tidak bilang membuat kulit putih lagi, tapi mencerahkan kulit.

Mereka sadar betul kalo kecantikan bisa menjadi komoditi yang akan laris manis dijual. Lihat saja, kontes2 kecantikan yang digelar. Walaupun, dibubuhi brain selain beauty-nya. SPG, receptionist, dan pramuniaga biasanya diisi oleh para perempuan cantik. Tujuannya jelas, untuk merangkup konsumen sebanyak-banyaknya.

Sayangnya, banyak juga perempuan yang senang jadi pusat perhatian. Jadilah mereka pelanggan setia produsen kapitalis itu. berusaha untuk masuk dalam jajaran kategori cantik menurut mereka. Bila tidak berhasil, misalnya dalam proses pemutihan bandannya, merasa hidupnya hancur berantakan dan tidak akan ada laki-laki yang menyukainya. Kamu mau, laki-laki yang mendekati kamu itu ternyata hanya suka dengan kulit putihmu saja?bukan kepribadianmu. Padahal, kulit hitam itu bukan berarti tidak cantik. Lihat saja wanita asia dengan kulit sawo matangnya, terlihat eksotis kan. Malah hidup lebih berwarna dengan beragamnya kebudayaan, ciri khas, sampai warna kulit.

Jangan sampai waktu kita habis cuma buat mempercantik diri. Cantik itu relatif. Lebih baik memperluas wawasan, pergaulan, dan wacana. Cantik tapi tidak peka terhadap keadaan lingkungan sekitarnya dan tidak dapat membawa diri didalam pergaulan, sama aja bolong dong.

Sssttt, katanya cewek pintar itu lebih mempesona loh. Siapapun, pasti betah diskusi lama-lama sama kamu, bukan karena kulit kamu yang putih, tapi karea pribadimu yang menyenangkan. Bila kita sudah punya paradigma seperti itu, maka segala hantaman dari kapitalis tersebut sudah ada penangkalnya. Diri kita akan disibukkan dengan, bagaimana kita bisa mengekspos kemampuan yang kita punya. Belajar bahasa, ikut kelas diskusi, menjadi voluntir, atau mengikuti pelatihan2.

Tapi, sebagai perempuan kita juga wajib menjaga apa yang sudah Allah berikan. Beda ya, antara mengubah dengan menjaga. Bukan mengubah kulit menjadi putih, tapi merawatnya supaya tetap bersih.

Ok, girls! Semua perempuan yang dilahirkan ke dunia itu sudah cantik ko’ apalagi kalo ditambah kepribadiannya yang penuh santun.

panti “Galih Pakuan”

Posted in societa on September 1, 2008 by anurannisa

Pagi ini saya ada di angkutan umum menuju parung seorang diri. Bersiap untuk meliput sebuah panti rehabilitasi untuk pecandu narkoba di daerah ciseeng. Tanpa kendala, tibalah saya di mobil terakhir yang akan mengantar ke tempat tujuan. Jalanannya berbatu dan rusak cukup parah. Pemandangan disamping jalan diisi oleh pepohonan yang rimbun. Sejuk! Di kejauhan gunung menyembulkan puncaknya. Pak supir sudah saya pesan untuk menurunkan di desa Putat Nutug. Menurut pegawai panti yang saya telpon sebelumnya, dari situ tinggal naik ojek sekitar 500 m.

Turun dari mobil, sudah ada ojek yang siap mengantar.

“panti bang!”

si abang ngangguk aja dan langsung ng-gas motornya. sampai gerbang utama ada gapura bertuliskan Panti “Galih Pakuan” masuk ke dalam di sisi kiri ada kantor. Sedangkan sisi kanannya terdapat rumah-rumah kecil berwarna orange, yang belakangan saya ketahui itu adalah rumah pekerja sosial yang mengurusi panti. Abangnya masih menjalankan motornya ke belakang. Padahal dalam hati saya bergumam “kan kantornya tadi di depan, ko jauh banget ke belakang. Berhenti di pos, ada beberapa anak remaja berusia sekitar 20 tahun keatas.

“dah sampe neng.” Kata abangnya.

“oh udah ya, kantornya yang mana pak?” saya malah balik bertanya.

“kantor? Eta mah ti payun” jawabnya berlogat sunda yang artinya kantor mah adanya di depan.

“Ealah…saya mau ke kantornya.”

“saya kira neng mau jenguk penghuni panti.”

Masih untung dikira mo ngjenguk, kalo disangka penghuni panti bisa gawat.

Selesai wawancara, saya diajak berkeliling panti sama koordinator lapangannya, pak Ishak. Keadaan panti cukup bersih. Pertama saya diajak ke asrama kelompok re-entry. Kelompok yang penghuninya bisa dibilang sudah lepas dari pengaruh narkoba. Asrama tampak kosong, karena para penghuninya sedang mengikuti kelas keterampilan. Saya dan pak Ishak menuju kelas keterampilan. Pertama, kelas komputer, wuah…lengkap loh perangkat komputernya. Layarnya aja pake yang flat, kalah deh yang di rumah saya. Kedua, kelas otomotif, penghuni sibuk membetulkan dan mencoba mesin yang disediakan untuk memperbaiki. Ketiga, kelas elektronika, semua serius memperhatikan.

Kehadiran saya di tengah-tengah mereka cukup bikin heboh. Apalagi saya sempat mengambil beberapa photo kegiatan mereka. Sumpeh…saya dah kaya artis yang lagi jumpa fans aja. Ruame…abis. kata pak Ishak, mereka emang jarang ngeliat cewe. Kebetulan juga penghuni panti semuanya laki-laki, tidak ada perempuannya. Abis deh saya di kerubutin kaya gula. Yang ada saya mau wawancara mereka, malah terbalik saya yang ditanya-tanya. Saya tidak bisa menjaga jarak, sudah jadi konsekuensi pekerjaan. Uh…untung ada pak Ishak, yang ternyata cukup ditakutin sama para penghuni. Saya cuma bisa ngasih senyum terindah…halah. ya…yang bisa saya kasih cuma itu, siapa tau bisa jadi semangat buat mereka.

Di pintu keluar, saya melambai ke arah mereka, sambil bilang:

“tengkyu ya…assalamualaikum.”

enggak ngerti deh apa yang mereka jawab, saking banyaknya suara yang menyahut. Saya dan pak Ishak ketawa-ketawa aja. Lanjut ke kelompok primary, dimana penjagaan semakin ketat aja. Penghuni primary, tidak bisa keluar masuk dengan bebas. Mereka masih dalam tahap pemulihan. 3 bulan pertama masuk, tidak boleh berinteraksi dengan dunia luar. Sebelum sampai di gerbang primary, saya melewati masjid, ruang makan bersama, dan tempat kreasi mereka. Semua tertata rapih.

Tanpa pak Ishak, saya tidak bisa masuk ke areal primary. Setelah gerbang dibuka, di depan saya sudah ada beberapa penjaga rumah, sebutan untuk penghuni panti yang sudah senior, dan sekarang bertugas membimbing adik-adiknya yang baru masuk. Kenalan satu-satu dengan penghuni di ikuti pandangan agresif, membuat saya agak deg-degan. Apalagi ada satu orang bernama Raymond yang mempunyai tatto di sepanjang lengannya. Reflek, saya kaget (abis belom pernah liat tatto sebanyak itu sedekat ini seh, saya tau ini salah. Seharusnya wartawan tidak melihat dengan tatapan itu) Raymond langsung nyeletuk “mba nya takut ya…” saya buru-buru senyum “enggak ko…bagus! ga bisa liat tatto Tora Sudiro, liat yang ini aja.” Jawab saya sok jayus huahaha…tapi berhasil bikin suasana kembali normal.

Keluar dari kandang buaya, masuk ke kandang macan, yang ini lebih parah. Sewaktu pak Ishak pamit shalat, saya ngobrol sama Raymond. Ternyata, baru dua bulan ini dia jadi mualaf. Kisahnya juga unik, hidayah itu datang sewaktu dia berkenalan dengan karyawati sebuah departemen negeri di daerah salemba, yang datang untuk melakukan orientasi di panti. Gadis berjilbab tersebut, telah membuka pintu Islam dan memasukan pancaran cahaya dari Allah. Raymond mantap masuk Islam dan langsung sunat. Kemudian melakukan ijab kabul dengan gadis pujaannya tersebut.

Raymond juga tidak pernah membayangkan nasibnya akan bahagia seperti ini. Padahal dulu dia menjadi budak narkoba. Hidupnya penuh dengan kesulitan dan masalah. Dari yayasan rehabilitasi, asal daerahnya di Manado, Raymond direkomendasikan ke panti ini. Sekarang, walaupun sudah sembuh, Raymond ingin mengabdikan dirinya di panti. “Daripada saya di rumah saja, bisa jadi pikiran istri.” Keep rock on ya Raymond, may Allah always bless u!

Kalo dipikir-pikir kisah Raymond itu mirip di sinetron ya…

Kedatangan saya bertepatan dengan acara yang bernama “Group” jadi penghuni primary dan penjaga rumah alias seniornya, duduk membentuk lingkaran. Pakaian yang mereka kenakan rapih bo! Pake kemeja dan celana bahan. Menurut Rano, salah satu penjaga rumah, acara ini memang cukup sakral. Dimana semua yang hadir dapat mencurahkan isi hatinya sebebas-bebasnya. (btw, tampang Rano ini mirip adly fairuz loh, tapi ya…tetep aja ngomongnya rada-rada pelo’ khas junki). Saya jadi penasaran sama acara Group ini. Sebelumnya saya cuma bisa liat sewaktu nonton filmnya “Hancock” scene will smith lagi di penjara. Ehm…seru! tapi saya nggak bisa cerita banyak, soalnya mendingan liat langsung.

Bagi penghuni panti yang melanggar ketentuan akan dikenakan hukuman. Untuk yang kabur dari panti dan ketangkap, atau yang ketahuan mencuri barang teman. Mereka wajib pake sarung selama menjalani hukuman, baik itu mencuci kamar mandi selama seminggu, atau mencabuti rumput. Ada juga yang tidak boleh ditegur dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Akan berpengaruh ke psikologi mereka.

Selesai berkeliling, saya bertemu dengan pak Ahmadin, pembina mental di panti. Bapak ini friendly dan selalu tersenyum. Dia cerita tentang pertanyaan2 anak panti yang kadang sukar dijawab. “antara logis dan unlogis” katanya bersemangat.

Raymond pernah bertanya masalah tatto dengan pak Ahmadin, “pak, kata Ustadz orang yang punya tatto nggak boleh shalat, terus untuk apa saya shalat?” saya benar2 dilematis ditanya seperti itu. Di satu sisi, dia mau baik, menjalankan shalat, sedangkan di sisi lain memang ada ketentuan bahwa tatto dapat menghalangi air wudhu masuk ke pori2 kulit. Otomatis wudhunya tidak sah, maka shalatnyapun tidak sah. Untuk menghilangkan tatto, jalan yang paling murah adalah dengan mensetrikanya. Tapi, menyiksa diri sendiri juga tidak diperbolehkan oleh agama. Masa seluruh badan harus disetrika?

Saya benar2 penasaran, apa yang dijawab pak Ahmadin, agar anak2 asuhnya tidak putus asa, dan malah berbalik bandel lagi. “saya jawab: ok! Mari kita shalat. Segala apapun yang kita punya, serahkan saja sepenuhnya pada Allah.” Katanya.

Sebagai lulusan pondok pesantren, pak Ahmadin tidak bisa menerapkan secara saklek apa yang dipelajarinya waktu masih nyantri. Ini itu serba nggak boleh.

Ada satu lagi pertanyaan yang masih saya ingat: “pak, kenapa Islam tidak adil? Yang berbuat dosa bagian kemaluan saya, ko yang disucikan bagian tangan, kaki, hidung, dan telinga dalam wudhu.” Pak ahmadin menjawab: “loh, justru itulah adilnya Islam. Kamu sakit mata, mau disuntik di mata?” hehe…bisa aja jawabnya. Tanpa penjelasan panjang lebar atau dipaparkan ayat2 yang banyak. Tapi langsung mengena. Memang jawaban seperti itulah yang mereka butuhkan. Kalo disuruh menguraikan makna dari sebuah ayat, mereka belum sanggup. Pak Ahmadin menambahkan: “kamu sakit mata, tapi mungkin malah kamu akan di suntik di bokong, karena ada saraf2 yang menghubungkan ke mata. Begitupula Islam, ada nash yang sudah mengatur.”

Pulang dari sana, perasaan saya “penuh” dan bersyukur masih berjalan dalam koridor-Nya. Pak Ahmadin menyuruh saya untuk datang pas bulan Ramadhan. Karena kegiatan berpuasa di panti, menurut pengakuannya, banyak hal yang dapat dipelajari. Pengen juga seh, pasti bakal beda suasananya.

I wish i can…