<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Anurannisa's Weblog</title>
	<atom:link href="http://anurannisa.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://anurannisa.wordpress.com</link>
	<description>now is Reader n Writer, tomorrow is a Leader</description>
	<lastBuildDate>Sun, 22 Nov 2009 02:31:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='anurannisa.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/c3ba953fab97a21f52c899dc84d5ea00?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Anurannisa's Weblog</title>
		<link>http://anurannisa.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Qurban Terbaik</title>
		<link>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/22/486/</link>
		<comments>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/22/486/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Nov 2009 02:29:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anurannisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anurannisa.wordpress.com/?p=486</guid>
		<description><![CDATA[Seiring mendekati Idul Adha,saya selalu teringat kisah Khalifah Umar bin Khatab ra yang memiliki seekor unta istimewa yang sangat mahal harganya. Unta tersebut besar dan kuat. Pantas menjadi hewan kesayangan Umar. Lalu, beliau bertanya kepada Rasulullah SAW: “manakah yang lebih baik, ku jual unta itu dan membeli sepuluh ekor unta biasa untuk kurban, atau unta [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=486&subd=anurannisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Seiring mendekati Idul Adha,saya selalu teringat kisah Khalifah Umar bin Khatab ra yang memiliki seekor unta istimewa yang sangat mahal harganya. Unta tersebut besar dan kuat. Pantas menjadi hewan kesayangan Umar. Lalu, beliau bertanya kepada Rasulullah SAW: “manakah yang lebih baik, ku jual unta itu dan membeli sepuluh ekor unta biasa untuk kurban, atau unta istimewa itu saja yang kukurbankan?” Rasulullah menjawab:  “kurbankanunta istimewa kesayanganmu itu!” secara logika tentu saja daging sepuluh unta lebih banyak daripada daging seekor unta istimewa apapun. Namun, sesuatu yang sangat istimewa bagi kita juga melebihi apapun. Nah, nilai pengorbanan untuk Allah itulah yang paling tinggi derajatnya. Rela berkorban dengan menyerahkan yang paling kita sayang lebih tinggi nilainya dalam pandangan Allah.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/ane-menatap-kambingnya.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-487" title="ane-menatap-kambingnya" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/ane-menatap-kambingnya.jpg?w=200&#038;h=300" alt="" width="200" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Allahumma Shalli&#8217; ala Muhammad wa &#8216;ala ali Muhammad kama Shalli &#8216;ala Ibrahim wa &#8216;ala ali Ibrahim</em></p>
<p style="text-align:justify;">Tentu ada sebab mengapa seluruh umat Islam dalam setiap sholatnya diharuskan membaca shalawat kepada Muhammad SAW disandingkan dengan Nabiyallah Ibrahim as. Ya, beliau memang sangat Istimewa. Perjalanan nabi Ibrahim menemukan Allah azza wa jalla melalui proses berliku yang sangat panjang. Perjalanan itu berujung pada sikap tidak tergoyahkan yang menempatkannya pada posisi yang istimewa juga. Ibrahim mempunyai keyakinan kepada Allah yang sangat tinggi.</p>
<p style="text-align:justify;">Contohnya, dalam kisah ketika Ibrahim menentang Raja Namrud. Padahal kekuatan keduanya sangat tidak sebanding. Suatu ketika mereka berdua sepakat berjanji bertemua pada tempat dan waktu yang telah ditentukan. Ibrahim datang seorang diri. Sedangkan raja Namrud disertai pasukan lengkap. “Mana tuhanmu? Mengapa engkau datang seorang diri?” ejek Namrud. Sapaan ga sopan itu dibalas Allah dengan mengirim segerombolan nyamuk besar. Serangan mendadak tersebut mengacaukan konsentrasi pasukan Namrud. Dengungan dan sengatannya tak henti menyeranga mereka. Mengganggu pendengaran danpenglihatan semua. Pasukan Namrud yang bersenjata lengkap dan berpakaian perang tidak  mampu mengusir para prajurit Allah tersebut. Namrud dan pasukan lari tunggang langgang dipermalukan oleh nyamuk sebelum akhirnya menemui ajal.</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak hanya sampai disitu, Ibrahim kembali diuji keyakinannya oleh Allah. Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih anak tersayangnya, Ismail as. Dalam pandangan kita sebagai manusia, tentu tidak dapat menerimanya. Bagaimana mungkin Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah yang melarang membunuh tanpa haq, malah memerintahkan pembunuhan oleh ayahnya kepada sang anak. Seperti yang kita tahu, kisah selanjutnya, sehingga pelaksanaan Qurban berlangsung setiap tahun sampai sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">The conclusion is Ikhlas. Allah tidak butuh nyawa, darah, atau daging Ismail as. Dia sekedar menguji keimanan dan keyakinan Ibrahim terhadap-Nya. Tidak ada pilihan lain kepada kita selai <em>sami&#8217;na wa atho&#8217;na </em>(saya mendengar lalu saya kerjakan). Esensi kurban bukanlah menyembelih hewan setahun sekali. Melainkan ketaatan penuh terhadap seluruh perintah Allah. Berikan kepada-Nya yang terbaik. Sebab, sesungguhnya Sang maha Pemilik tidak membutuhkan apapun dari kita. Kita lah yang selalu membutuhkan-Nya. Allah berfirman:</p>
<p style="text-align:justify;"><em>La yanalullahu luhumuha wala dima uha, wa lakin yanaluhu taqwa minkum</em></p>
<p style="text-align:justify;">“dan tidaklah sampai kepada Ku daging dan darahnya, sesungguhnya yang sampai kepadaKu adalah ketaqwaan kalian KepadaKu.”</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anurannisa.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anurannisa.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anurannisa.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anurannisa.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anurannisa.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anurannisa.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anurannisa.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anurannisa.wordpress.com/486/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anurannisa.wordpress.com/486/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anurannisa.wordpress.com/486/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=486&subd=anurannisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/22/486/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f499bb67e1f5bc654a4eb12a6c4bd06d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">anurannisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/ane-menatap-kambingnya.jpg?w=200" medium="image">
			<media:title type="html">ane-menatap-kambingnya</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/483/</link>
		<comments>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/483/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 08:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anurannisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anurannisa.wordpress.com/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali&#8221;(QS.19:33)
﻿
Beji Permai, 14 Nopember 1985-2009
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=483&subd=anurannisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote><p><strong>&#8220;Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali&#8221;(QS.19:33)</strong></p></blockquote>
<p>﻿</p>
<p>Beji Permai, 14 Nopember 1985-2009</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anurannisa.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anurannisa.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anurannisa.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anurannisa.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anurannisa.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anurannisa.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anurannisa.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anurannisa.wordpress.com/483/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anurannisa.wordpress.com/483/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anurannisa.wordpress.com/483/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=483&subd=anurannisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/483/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f499bb67e1f5bc654a4eb12a6c4bd06d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">anurannisa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bukan Perempuan dalam Islam</title>
		<link>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/bukan-perempuan-dalam-islam/</link>
		<comments>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/bukan-perempuan-dalam-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 04:17:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anurannisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind n soul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anurannisa.wordpress.com/?p=473</guid>
		<description><![CDATA[Swara adalah ketentuan adat dimana anak perempuan diserahkan sebagai pengantin. Dia menjadi tebusan atas kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh salah seorang anggota keluarganya yang laki2. Pengantin swara itu diserahkan kepada pihak keluarga yang anggotanya terbunuh. Tradisi ini sering dilakukan oleh suku Pashtun di Peshawar, Pakistan.
Surat kabar Khaleej Times memberitakan mengenai kasus swara, seorang bocah perempuan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=473&subd=anurannisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Swara adalah ketentuan adat dimana anak perempuan diserahkan sebagai pengantin. Dia menjadi tebusan atas kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh salah seorang anggota keluarganya yang laki2. Pengantin swara itu diserahkan kepada pihak keluarga yang anggotanya terbunuh. Tradisi ini sering dilakukan oleh suku Pashtun di Peshawar, Pakistan.</p>
<p style="text-align:justify;">Surat kabar Khaleej Times memberitakan mengenai kasus swara, seorang bocah perempuan bernama Afhseen berusia 9 tahun dinikahkan dengan laki-laki yang berumur 4x lebih tua darinya. Afheen di-swarakan karena ayahnya telah melakukan pembunuhan. Pada usia 19 tahun, Afhseen telah menjanda. Tapi itu belum menjadi akhir dari segalanya.salah seorang paman menyuruhnya meniah swara lagi dengan kakak ipar laki2nya. Demi menebus kesalahan anggota keluarga laki2nya yang lain.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-473"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Selain swara, ada Vani atau nikah kompensasi. Para gadis diserahkan untuk suatu pernikahan sebagai bentuk ganti rugi (kompensasi) atas kesalahan yang pernah diperbuat laki-laki dari keluarganya. Lebih mengerikan lagi, jabang bayi perempuan dalam  kandungan pun bisa dijadikan paket ganti rugi. Belum lahir saja sudah jadi pengantin vani. (<a href="http://www.alternatives.ca/">http://www.alternatives.ca</a>)</p>
<p style="text-align:justify;">Hukum ini dibuat oleh jirga atau panchayat (pengadilan adat) dan sudah ratusan tahun diberlakukan. Tujuan awalnya mungkin baik. Kedua keluarga yang bersengketa,daripada saling membunuh, lebih baik disatukan menjadi keluarga dalam ikatan pernikahan. Tapi bagaimana dengan psikologis dari perempuan yang menjadi pengantin paksaan tersebut?karena besar kemungkinan pengantin swara/vani tidak diperlakukan dengan layak sebagai menantu oleh pihak keluarga korban. Sebaliknya, mereka dipandang sebagai musuh. Kehadirannya menjadi pengingat abadi atas pembunuhan anggota keluarganya.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak menunaikan hukuman sebagai pengantin vani, Rubina Bibi langsung menghuni kandang binatang, karena hanya tempat itu yang menurut keluarganya pantas. Pada usia 17 tahun, Rubina Bibi ditemukan tewas setelah menyantap makanan. (<a href="http://www.pantau.or.id/">www.pantau.or.id</a>) dan masih banyak lagi pengantin swara/vani yang tewas dibunuh anggota keluarganya.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignnone size-full wp-image-475" title="sephia" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/sephia.jpg?w=109&#038;h=137" alt="sephia" width="109" height="137" /></p>
<p style="text-align:justify;">swara/vani sejatinya hukuman mati yang terselubung. Andaipun pengantinnya tidak dibunuh secara fisik, mereka tidak akan selamat dari kesengsaraan sepanjang hayat karena dihadapkan pada siksaan yang terus menerus. Mereka boleh saja masih hidup, tapi sebenarnya batinnya telah binasa.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, bagaimana dengan keluarga yang tidak memiliki anak perempuan? Nah, hal ini menciptakan kekejian model baru lainnya.Dimana ada peluang bisnis untuk orangtua yang ingin menjual anak gadisnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Surat kabar Daily Times merilis kabar: keluarga di Pakistan, Gul Sanga marah besar ketika tau anak gadisnya lari bersama pria asal keluarga Afsar Ali. Ketika masalah ini sampai pada Dewan Adat Jirga, menjatuhkan keputusan bahwa Afsar Ali harus menyediakan anak gadis sebagai kompensasi. Celakanya keluarga Afsar Ali tidak lagi memilikii satu gadispun untukkompensasi tersebut jalan keluarnya adalah dengan membeli anak perempuan. Musibah bagi gadis cilik, bernama Bibi Jan (13 tahun) yang dijual oleh ayahnya seharga 53,000 rupees. Kehinaan bagi Bibi Jan tidak sampai disitu saja. Keluarga Gul menolak karena mereka menuding Bibi Jan mengalami gangguan jiwa dan tidak sehat (<a href="http://www.western-resistance.com/">www.western-resistance.com</a>)</p>
<p style="text-align:justify;">Dera Ghazi Khan (9 tahun) menderita karena pernikahan vani. Dia menjadi tebusan karena kakak laki2nya melakukan affair dengan gadis dari keluarga suaminya. Dera melakukan pemberontakan dengan mengajukan petisi ke pengadilan. Perjuangan Dera akan sangat berat, karena suaminya, saudara laki2nya, dan bapaknya balik menggugat dirinya. (<a href="http://www.islam-watch.org/">www.islam-watch.org</a>)</p>
<p style="text-align:justify;">tradisi swara/vani sudah ada sebelum agama Islam datang. Padahal unsur paksaan membuat swara/vani tidak diakui sebagai pernikahan sah dalam Islam. Meski tradisi ini diharamkan Islam, tetapi media Barat menyebutnya sebagai tradisi masyarakat muslim.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika membaca tentang pernikahan swara-vani di atas, sama menyesakkan ketika saya menonton film “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS). Film bertema Islam yang sangat tidak Islami. Imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, Ali Mustafa Yaqub, seperti ditulis dalam harian Republika “saya malah menganjurkan tidak usah nonton saja, selesai, karena memeang film ini akan dapat menimbulkan salah paham terhadap Islam dan Pesantren,” kritik bernada sama juga datang dari MUI, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, dan ulama lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Temanya bagus: religius sangat dekat dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Hanya saja membentangkan realitas Islam dalam film tak bisa sepotong-sepotong dan kabur. Film, jika telah masuk dalam wilayah Islam, berarti mengungkapkan identifikasi profetik agama. Mesti ditampilkan jujur dan berdasarkan sumber sahih.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-474" title="PBS" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/pbs.jpg?w=95&#038;h=135" alt="PBS" width="95" height="135" /></p>
<p style="text-align:justify;">Film yang diterbitkan dengan dukungan Ford Foundation, sebuah organisasi berpusat di New York yang kerap mengangkat isu Feminisme dan bias gender dalam Islam, tampak sangat memaksakan persoalan masuk tanpa substansi jernih. Hanya menyodorkan pelecehan perempuan oleh Laki-laki di pesantren. Wacana rekrontruksi implementasi Islam yang mengekang perempuan, perlakuan seks vulgar, kekerasan fisik, dan pembicaraan yang serampangan tentang fikih. Penonton tak hentinya diperlihatkan aksi kekerasan fisik. Lelaki selevel pemimpin pesantren, Kiai Hanan selalu merendahkan putrinya dengan makian, bentakan, tamparan, dan diseret. Lalu pada scene ketika adzan berkumandang dan Annisa berwudhu syamsudin kalap meminta sang Istri menemani tidur (melecehkan dan memaksakan kehendaknya berpayung fikih Islam). Dan masih banyak lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Seakan Islam tidak menghargai ilmu. Pesantren digambarkan kolot, penghargaan pada ilmu tidak ada, karena perpustakaan dilarang keras. Jelas-jelas Islam menjunjung kebebasan dan aktualisasi diri perempuan dengan cara terhormat. Menurut Elzam pada Annida, Film ini sukses menggambarkan piciknya Islam sehingga perempuan tidak boleh berkarya selain jadi Ibu dan melahirkan. Film ini menggambarkan seolah Islam ajaran represif yang mengekang perempuan dengan penafsiran Al-quran, hadits, maupun kitab2 klasik. Hey, Islam sangat meMULIAkan perempuan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BPPN) Deddy Mizwar meminta LSF bertanggungjawab karena telah meloloskan film PBS. Begitu juga Misbach Yusa Biran, sineas senior, “saya tidak bisa menahan diri, inti cerita ini menurut saya sangat merugikan Islam dan merupakan propaganda buruk tentang pesantren.”</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anurannisa.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anurannisa.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anurannisa.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anurannisa.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anurannisa.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anurannisa.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anurannisa.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anurannisa.wordpress.com/473/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anurannisa.wordpress.com/473/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anurannisa.wordpress.com/473/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=473&subd=anurannisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/bukan-perempuan-dalam-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f499bb67e1f5bc654a4eb12a6c4bd06d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">anurannisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/sephia.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">sephia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/pbs.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">PBS</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Asal Gusur</title>
		<link>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/469/</link>
		<comments>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/469/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 04:09:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anurannisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Daily]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anurannisa.wordpress.com/?p=469</guid>
		<description><![CDATA[Kemarin dulu salah seorang temen saya yang bernama Cira mengadu kalo rumahnya terkena peringatan untuk digusur. Wilayah tempat tinggalnya yang di Grogol, Jakarta barat memang rawan penggusuran. Dalam bayangan saya, rumahnya yang belum lama saya datangi untuk bersilaturahmi akan luluh rata dengan tanah. Sebab itu, saya bertanya: “terus nanti rencananya mau tinggal dimana?” dia menjawab: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=469&subd=anurannisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Kemarin dulu salah seorang temen saya yang bernama Cira mengadu kalo rumahnya terkena peringatan untuk digusur. Wilayah tempat tinggalnya yang di Grogol, Jakarta barat memang rawan penggusuran. Dalam bayangan saya, rumahnya yang belum lama saya datangi untuk bersilaturahmi akan luluh rata dengan tanah. Sebab itu, saya bertanya: “terus nanti rencananya mau tinggal dimana?” dia menjawab: “ya tetep seh masih dirumah itu, soalnya yang digusur cuma sebagian doang.” oohh&#8230;paham saya bagian rumahnya yang hilang nantinya hanya depan atau belakangnya saja. Sehingga saya tidak bertanya lebih lanjut. Toh dia aman, huniannya masih dapat dipergunakan.</p>
<p style="text-align:justify;">Selang beberapa waktu, dia kembali melapor bahwa rumahnya sudah digusur. “main yuk, sekalian liat rumahku yang baru digusur.” katanya. Ok, kita ramai2 mengunjungi. Alamak, betapa kagetnya kita, ternyata rumahnya yang digusur bagian tengahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Begini, idealnya sebuah rumah terdiri dari ruang depan atau ruang tamu, ruang tengah atau ruang makan, dan ruang belakang atau dapur, beserta kamar tidur dan kamar mandi. Nah, berhubung rumah teman saya yang di bagian tengah atau ruang makan di bawah lantainya ada kali, maka hanya bagian itu yang harus di gusur. Jadi, keadaan rumah teman saya itu pertama masuk teras, ruang tamu, lalu kalo kebelakang lagi kita akan menemukan kali yang ada jembatannya, setelah itu baru dapur dan kamar mandi. Kalo mo ke dapur, berarti harus meniti jembatan dulu. Rumah2 yang sederet dengan rumah Cira juga sama keadaannya. Poko&#8217;nya bangunan yang diatasnya kali harus digusur, apapun itu keadaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Karena belum dirapihkan, kita bisa melihat dapur tetangga hehe&#8230;ada2 aja Jakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_468" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-468" title="S6302047" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/s6302047.jpg?w=300&#038;h=225" alt="S6302047" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">beginilah keadaan rumah teman saya itu...</p></div>
<p><img class="alignnone size-medium wp-image-470" title="100_3390" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/100_3390.jpg?w=300&#038;h=225" alt="100_3390" width="300" height="225" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anurannisa.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anurannisa.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anurannisa.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anurannisa.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anurannisa.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anurannisa.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anurannisa.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anurannisa.wordpress.com/469/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anurannisa.wordpress.com/469/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anurannisa.wordpress.com/469/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=469&subd=anurannisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/469/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f499bb67e1f5bc654a4eb12a6c4bd06d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">anurannisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/s6302047.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">S6302047</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/100_3390.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">100_3390</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AWAS PENCULIKAN ANAK MARAK KEMBALI</title>
		<link>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/awas-penculikan-anak-marak-kembali/</link>
		<comments>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/awas-penculikan-anak-marak-kembali/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 03:57:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anurannisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[children]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anurannisa.wordpress.com/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[
belum lama tersiar kabar, seorang Ibu yang baru melahirkan kehilangan bayinya di RS. ketika itu, waktu untuk memandikan bayi. seperti biasa si bayi di bawa oleh suster untuk dibersihkan, untuk kemudian di kasih ke ibunya untuk di kasih ASI. tunggu punya tunggu si bayi tidak di berikan ke ibunya yang sudah lama menunggu. ternyata si [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=464&subd=anurannisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter size-full wp-image-465" title="image001" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/image001.jpg?w=400&#038;h=338" alt="image001" width="400" height="338" /></p>
<p>belum lama tersiar kabar, seorang Ibu yang baru melahirkan kehilangan bayinya di RS. ketika itu, waktu untuk memandikan bayi. seperti biasa si bayi di bawa oleh suster untuk dibersihkan, untuk kemudian di kasih ke ibunya untuk di kasih ASI. tunggu punya tunggu si bayi tidak di berikan ke ibunya yang sudah lama menunggu. ternyata si bayi raib!</p>
<p>dan yang lebih menyakitkan, pihak RS hanya bilang itu sebuah &#8220;Musibah&#8221; niy saya kutip pernyataan RS dari tabloid Nova: &#8220;Namanya saja musibah, kita tidak tahu kapan akan terjadi. namanya RS kan pelayanan publik, kami harus positive thinking pada pengunjung (seorang wanita mengaku tantenya dan membawa si bayi pergi). kami beranggapan, pengunjung yang datang ke RS adalah orang baik. bla&#8230;bla&#8230;&#8221;</p>
<p>positive thinking? itu seh teledor namanya&#8230;</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-466" title="image003" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/image003.jpg?w=382&#038;h=400" alt="image003" width="382" height="400" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anurannisa.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anurannisa.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anurannisa.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anurannisa.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anurannisa.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anurannisa.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anurannisa.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anurannisa.wordpress.com/464/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anurannisa.wordpress.com/464/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anurannisa.wordpress.com/464/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=464&subd=anurannisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/awas-penculikan-anak-marak-kembali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f499bb67e1f5bc654a4eb12a6c4bd06d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">anurannisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/image001.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">image001</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/image003.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">image003</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Orang Yang Tidak Pernah Mati</title>
		<link>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/menjadi-orang-yang-tidak-pernah-mati/</link>
		<comments>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/menjadi-orang-yang-tidak-pernah-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 03:51:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anurannisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anurannisa.wordpress.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[ada sebuah cerita tentang seorang anak muda yang giat belajar dan berusaha keras untuk menjadi penulis terkenal. ketika ditanya apa yang dia maksud dengan penulis &#8220;terkenal&#8221; dia menjawab: &#8220;saya ingin tulisan saya dibaca oleh orang di seluruh dunia. orang yang membaca tulisan saya bisa terpengaruh emosi dan perasaannya, mereka akan menangis, sedih, atau marah.&#8221; cita-cita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=461&subd=anurannisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><em>ada sebuah cerita tentang seorang anak muda yang giat belajar dan berusaha keras untuk menjadi penulis terkenal. ketika ditanya apa yang dia maksud dengan penulis &#8220;terkenal&#8221; dia menjawab: &#8220;saya ingin tulisan saya dibaca oleh orang di seluruh dunia. orang yang membaca tulisan saya bisa terpengaruh emosi dan perasaannya, mereka akan menangis, sedih, atau marah.&#8221; cita-cita anak muda itu tercapai, sekarang dia bekerja pada perusahaan Microsoft sebagai penulis pesan &#8220;ERROR&#8221;</em></p>
<p style="text-align:center;"><em><img class="aligncenter size-full wp-image-462" title="writing" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/writing2.jpg?w=150&#038;h=101" alt="writing" width="150" height="101" /><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">Menulis adalah kebutuhan hasrat dan bukan sebuah pekerjaan untuk mencari masa depan, sepakatkah? Pekerjaan menulis sampai saat ini masih dianggap terlalu eksklusive bagi banyak orang. Padahal siapapun orangnya dan apapun pekerjaannya dapat menjadi penulis. Malah, ada beberapa Guru sekolah yang giat sekali menulis untuk beberapa media, karena seperti yang dikatakannya, penghasilan dari satu saja tulisan yang dimuat hampir setara dengan pendapatannya selama sebulan mengajar. Semua elemen profesi, baik itu politikus, artis, praktisi di berbagai bidang, sampai ibu rumah tangga dapat menjadi penulis.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-461"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kuntowijoyo pernah mengatakan, untuk menjadi penulis ada tiga langkah yang harus diikuti, yaitu: Menulis, Menulis, dan Menulis. Ya, hanya langsung Menulis. Tetapi untuk menjadikan menulis sebagai profesi, diperlukan juga wadah yang didalamnya berisi bimbingan dari orang-orang berpengalaman, agar tulisan yang sudah dibuat lebih terarah dan bernilai jual. Termasuk mengikuti pelatihan-pelatihan menulis yang sekarang banyak diadakan. Hal itu berguna selain untuk memperbaiki tulisan secara teknik juga menambah wacana dengan berkumpul bersama peminat yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan menulis,  kita dapat menjadi orang tidak pernah mati. Contohnya, william shakespeare, yang dengan tulisannya membuat umurnya jauh lebih panjang. padahal ia hidup pada tahun 1400-an lampau. tapi, rasanya sastrawan dengan karya legendaris itu baru kemarin meninggalkan kita. itu semua karena hasil karyanya. yang lebih dahsyat, hadits yang ditulis sahabat nabi dulu. yang ini seh enggak usah diceritain gimana bermanfaatnya buat kita. kalo yang sering baca pasti ngerasa deket sama rosul dan serasa berada di kehidupan Rosul. malah kita juga dikasih tau tentang keshahihannya</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah teori menyebutkan: seseorang yang sedang menulis, sesungguhnya sedang memproses informasi dalam bentuk fisik. Menulis sangat membantu kita yang ingin mempunyai sinkronisasi antara mata, tangan, dan otak yang baik, keren kan? Sesungguhnya tradisi menulis sangat bermanfaat, karena dapat menghubungkan antara satu masa dengan lainnya. Artinya penulis ibarat pelari yang memberikan tongkat estafet ke pelari berikutnya. Ketika sedang menulis sebenarnya kita sedang berinteraksi dengan dunia sekitar.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anurannisa.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anurannisa.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anurannisa.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anurannisa.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anurannisa.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anurannisa.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anurannisa.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anurannisa.wordpress.com/461/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anurannisa.wordpress.com/461/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anurannisa.wordpress.com/461/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=461&subd=anurannisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/menjadi-orang-yang-tidak-pernah-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f499bb67e1f5bc654a4eb12a6c4bd06d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">anurannisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/writing2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">writing</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ayo Nulis lagi!</title>
		<link>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/ayo-nulis-lagi/</link>
		<comments>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/ayo-nulis-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Nov 2009 03:32:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anurannisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anurannisa.wordpress.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[Dalam buku &#8220;Etika Kesarjanaan Muslim&#8221; karya Franz Rosenthal (yang pernah saya baca dalam tulisan Chandra Kurniawan) kita tentu mengenal Imam Malik, salah seorang imam mazhab. tetapi sedikit dari kita mengenal Imam Laits bin Sa&#8217;d. padahal menurut Imam Syafi&#8217;i, Imam Laits lebih faqih ketimbang Imam Malik. tapi, kenapa Imam Malik lebih populer daripada Imam Laits?
Jawabannya adalah, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=450&subd=anurannisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;">Dalam buku &#8220;Etika Kesarjanaan Muslim&#8221; karya Franz Rosenthal (yang pernah saya baca dalam tulisan Chandra Kurniawan) kita tentu mengenal Imam Malik, salah seorang imam mazhab. tetapi sedikit dari kita mengenal Imam Laits bin Sa&#8217;d. padahal menurut Imam Syafi&#8217;i, Imam Laits lebih faqih ketimbang Imam Malik. tapi, kenapa Imam Malik lebih populer daripada Imam Laits?</p>
<p style="text-align:justify;">Jawabannya adalah, Imam Malik telah menulis buku, yaitu kitab al-Muwatha. sedangkan Imam Laits, tidak. pemikiranya mati bersama kematian beliau.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-450"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Kita juga mengenal Imam Ibnu al-Jauzy, Imam Ibnu, Taimiyah, dan Imam Ibnu al-Qayyim karena buku2 mereka. bahkan Imam Ibnu Taimiyah tetap memaksakan diri menulis walaupun dengan arang, karena pada saat itu pena2nya disingkirkan oleh pemerintah zalim. beliau juga tetap menulis walaupun berada dalam penjara. Imam Ibnu al-Jauzy biasa menulis 40 halaman sehari dan buku2 yang ditulisnya mencapai 250 judul. satu judul buku ada yang mencapai 10 jilid.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tokoh lain, sedikit kita yang mengenal nama Yusuf bin Ashbat, seorang perawi hadits. kenapa? karena kitab hadits yang sudah lama ditulisnya, beliau kuburkan ke dalam tanah. alasannya? hanya ingin berkonsentrasi beribadah kepada Allah. dan menurut Imam Bukhari, di masa berikutnya Yusuf bin Ashbat ingin kembali meriwayatkan hadits, namun ingatannya melemah seiring bertambahnya usia. seandainya kitab yang ditulisnya masih ada, beliau dapat membacanya kembali jika lupa.</p>
<p style="text-align:justify;">Upaya yang paling gigih adalah apa yang dilakukan Imam Jalaluddin as-Suyuti. beliau telah menulis lebih dari 500 kitab. walaupun menurut Husayn Ahmad Amin-seorang pemikir Mesir-pemikiran orisinil Imam Suyuti tidak tampak dalam buku2nya, tetapi beliau telah melestarikan dan memenuhi kitab2nya dengan pendapat dan pemikiran ulama2 dahulu yang kitab2nya tidak ditemukan lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Artinya, Imam Suyuti ibarat pelari yang memberikan tongkat estafet ke pelari berikutnya. jika tidak ada buku2 Imam Suyuti, mungkin kita tidak mengetahui pendapat ulama A,B,C,dan sebagainya.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun, kita masih beruntung memiliki ulama2 yang gigih mengumpulkan kembali &#8220;puing2&#8243; reruntuhan itu. mereka berkelana ke segenap penjuru untuk menanyakan kepada banyak orang, apakah masih ada yang menyimpan salinan buku ini dan itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Sesungguhnya tradisi menulis sangat bermanfaat. karena dapat menghubungkan suatu masa satu dengan lainnya. penghancuran perpustakaan Islam oleh pasukan Mongol di Baghdad telah menghancurkan sebagian besar warisan masa silam. saking banyak nya buku yang dilempa ke sungai Tigris, sungai tersebut berubah menjadi hitam karena lunturnya tinta dalam buku.</p>
<p style="text-align:justify;">saya ingat pernah nulis ini beberapa tahun silam sebagai suntikan motivasi, agar banyak orang yang akhirnya terpacu untuk menulis. mengabadikan pada museum kehidupan mengenai kisahnya yang mungkin dapat berguna bagi orang lain. ya, pada waktu itu saya bekerja dengan kata2, dapat uang dari kata2, hidup dari kata2. sekarang setelah &#8220;kemabali ke jalan yang benar&#8221; alias bekerja dengan latar belakang ilmu pendidikan saya-yang jungkir balik dari dunia wartawan dan menulis-saya mulai malas membiasakan menulis. walaupun hanya untuk mengisi blog.</p>
<p style="text-align:justify;">sengaja saya pampangkan kembali tulisan motivasi tersebut. semoga bisa membuat kita semua sadar akan pentingnya menulis dan membaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Hidup Literasi Indonesia!<img class="alignnone size-full wp-image-451" title="literasi" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/literasi.jpg?w=107&#038;h=88" alt="literasi" width="107" height="88" /></p>
<p style="text-align:justify;">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anurannisa.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anurannisa.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anurannisa.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anurannisa.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anurannisa.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anurannisa.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anurannisa.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anurannisa.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anurannisa.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anurannisa.wordpress.com/450/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=450&subd=anurannisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/14/ayo-nulis-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f499bb67e1f5bc654a4eb12a6c4bd06d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">anurannisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/literasi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">literasi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kalabendu dan Kalatida</title>
		<link>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/01/kalabendu/</link>
		<comments>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/01/kalabendu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 02:34:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anurannisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anurannisa.wordpress.com/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[sebagai bahan perenungan&#8230;
Penyair besar Ronggowarsito, di pertengahan abad 19, menggambarkan
zaman pancaroba sebagai &#8220;Kalatida&#8221; dan &#8220;Kalabendu&#8221;.

Zaman &#8220;Kalatida&#8221; adalah zaman ketika akal sehat diremehkan. Perbedaan
antara benar dan salah, baik dan buruk, adil dan tak adil, tidak
digubris. Krisis moral adalah buah dari krisis akal sehat. Kekuasaan
korupsi merata dan merajalela karena erosi tata nilai terjadi di
lapisan atas dan bawah.
Zaman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=442&subd=anurannisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>sebagai bahan perenungan&#8230;</p>
<p><em>Penyair besar Ronggowarsito, di pertengahan abad 19, menggambarkan</em><br />
<em>zaman pancaroba sebagai &#8220;Kalatida&#8221; dan &#8220;Kalabendu&#8221;.</em><br />
<img class="alignnone size-full wp-image-444" title="r" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/r.jpg?w=108&#038;h=141" alt="r" width="108" height="141" /><br />
Zaman &#8220;Kalatida&#8221; adalah zaman ketika akal sehat diremehkan. Perbedaan<br />
antara benar dan salah, baik dan buruk, adil dan tak adil, tidak<br />
digubris. Krisis moral adalah buah dari krisis akal sehat. Kekuasaan<br />
korupsi merata dan merajalela karena erosi tata nilai terjadi di<br />
lapisan atas dan bawah.</p>
<p>Zaman &#8220;Kalabendu&#8221; adalah zaman yang mantap stabilitasnya, tetapi alat<br />
stabilitas itu adalah penindasan. Ketidakadilan malah didewakan.<br />
Ulama-ulama menghianati kitab suci. Penguasa lalim tak bisa ditegur.<br />
Korupsi dilindungi. Kemewahan dipamerkan di samping jeritan kaum<br />
miskin dan tertindas. Penjahat dipahlawankan, orang jujur ditertawakan<br />
dan disingkirkan.</p>
<p><span id="more-442"></span></p>
<p>Gambaran sifat dan tanda-tanda dari &#8220;Kalatida&#8221; dan &#8220;Kalabendu&#8221;<br />
tersebut di atas adalah saduran bebas dari isi tembang aslinya. Namun<br />
secara ringkas bisa dikatakan bahwa &#8220;Kalatida&#8221; adalah zaman edan,<br />
karena akal sehat diremehkan, dan &#8220;Kalabendu&#8221; adalah zaman hancur dan<br />
rusaknya kehidupan karena tata nilai dan tata kebenaran<br />
dijungkir-balikkan secara merata.</p>
<p>Lalu, menurut Ronggowarsito, dengan sendirinya, setelah &#8220;Kalatida&#8221; dan<br />
&#8220;Kalabendu&#8221; pasti akan muncul zaman &#8220;Kalasuba&#8221;, yaitu zaman stabilitas<br />
dan kemakmuran.</p>
<p>Apa yang dianjurkan oleh Ronggowarsito agar orang bisa selamat di masa<br />
&#8220;Kalatida&#8221; adalah selalu sadar dan waspada, tidak ikut dalam permainan<br />
gila. Sedangkan di masa &#8220;Kalabendu&#8221; harus berani prihatin, sabar,<br />
tawakal dan selalu berada di jalan Allah sebagaimana tercantum di<br />
dalam kitab suciNya. Maka nanti akan datang secara tiba-tiba masa<br />
&#8220;Kalasuba&#8221; yang ditegakkan oleh Ratu Adil.</p>
<p>Ternyata urutan zaman &#8220;Kalatida&#8221;, &#8220;Kalabendu&#8221;, dan &#8220;Kalasuba&#8221; tidak<br />
hanya terjadi di kerajaan Surakarta di abad ke 19, tetapi juga terjadi<br />
di mana-mana di dunia pada abad mana saja. Di Yunani purba, di<br />
Romawi,, di Reich pertama Germania, di Perancis, di Spanyol, Portugal,<br />
Italia, Iran, Irak, India, Russia, Korea, Cina, yah di manapun,<br />
kapanpun. Begitulah rupanya irama &#8220;wolak waliking zaman&#8221; atau &#8220;timbul<br />
tenggelamnya zaman&#8221;, atau &#8220;pergolakan zaman&#8221;. Alangkah tajamnya<br />
penglihatan mata batin penyair Ronggowarsito ini!</p>
<p>Republik Indonesia juga tidak luput dari &#8220;pergolakan zaman&#8221; serupa<br />
itu. Dan ini yang akan menjadi pusat renungan saya pagi ini.</p>
<p>Namun sebelum itu perkenankan saya mengingatkan bahwa menurut teori<br />
chaos dari dunia ilmu fisika modern diterangkan bahwa di dalam chaos<br />
terdapat kemampuan untuk muncul order, dan kemampuan itu tidak<br />
tergantung dari unsure luar. Hal ini sejajar dengan pandangan penyair<br />
Ronggowarsito mengenai &#8220;Kalasubo&#8221;. Kata Ratu Adil bukan lahir dari<br />
rekayasa manusia, tetapi seperti ditakdirkan ada begitu saja.<br />
Kesejajaran teori chaos dengan teori pergolakan zamannya Ronggowarsito<br />
menunjukkan sekali lagi ketazaman dan kepekaan mata batinnya.</p>
<p>Melewati pidato ini saya persembahkan sembah sungkan saya yang khidmat<br />
kepada penyair besar ronggowarsito.</p>
<p>Kembali pada renungan mengenai gelombang &#8220;Kalatida&#8221;, &#8220;Kalabendu&#8221; dan<br />
&#8220;Kalasuba&#8221; yang terjadi di Republik Indonesia.</p>
<p>Usaha setiap manusia yang hidup di dalam masyarakat, kapanpun dan di<br />
manapun, pada akhirnya akan tertumbuk pada &#8220;Mesin Budaya&#8221;. Adapun<br />
&#8220;Mesin Budaya&#8221; itu adalah aturan-aturan yang mengikat dan dan<br />
menimbulkan akibat. Etika umum, aturan politik, aturan ekonomi. Dan<br />
aturan hukum, itu semua adalah aturan-aturan yang tak bisa dilanggar<br />
begitu saja tanpa ada akibat. Semua usaha manusia dalam mengelola<br />
keinginan dan keperluannya akan berurusan dengan aturan-aturan itu,<br />
atau &#8220;Mesin Budaya&#8221; itu.</p>
<p>&#8220;Mesin Budaya&#8221; yang berdaulat rakyat, adil, berperikemanusiaan, dan<br />
menghargai dinamika kehidupan, adalah &#8220;Mesin budaya&#8221; yang mampu<br />
mendorong daya hidup dan daya cipta anggota masyarakat dalam Negara.<br />
Tetapi &#8220;Mesin budaya&#8221; yang berdaulat penguasa, yang menindas dan<br />
menjajah, yang elitis dan tidak populis, sangat berbahaya untuk daya<br />
hidup daya cipta bangsa.</p>
<p>Didalam masyarakat tradisional yang kuat hukum adatnya, rakyat dan<br />
alam lingkungannya hidup dalam harmoni yang baik, yang diatur oleh<br />
hukum adat. Selanjutnya hukum adat itu dijaga oleh para tetua adat<br />
atau dewan adat. Kemudian ketika hadir pemerintah, maka pemerintah<br />
berfungsi sebagai pengemban adat yang patuh kepada adat. Jadi hirarki<br />
tertinggi di dalam ketatanegaraan masyarakat seperti itu adalah hukum<br />
adat yang dijaga oleh dewan adat. Kedua tertinggi adalah pemegang<br />
kekuasaan pemerintahan. Sedangkan masyarakat dan alam lingkungannya<br />
terlindungi di dalam lingkaran dalam dari struktur ketatanegaraan</p>
<p>Dengan begitu kepentingan kekuasaan asing, yang politik ataupun yang<br />
dagang, tak bisa menjamah masyarakat dan alam lingkungannya tanpa<br />
melewati kontrol hukum adat, dewan adat dan penguasa pemerintahan.<br />
Itulah sebabnya masyarakat serupa itu sukar dijajah oleh kekuasaan asing.</p>
<p>Ditambah lagi kenyataan bahwa masyarakat dan alam lingkungan yang bisa<br />
hidup dalam harmoni baik berkat tatanan hukum yang adil, pada akhirnya<br />
akan melahirkan masyarakat yang mandiri, kreatif dan dinamis karena<br />
selalu punya ruang untuk berinisiatif. Begitulah daulat hukum yang<br />
adil akan melahirkan daulat rakyat dan daulat manusia. Syahdan, rakyat<br />
yang berdaulat sukar dijajah oleh kekuasaan asing.</p>
<p>Memang pada kenyataannya suku-suku bangsa di Indonesia yang kuat<br />
tatanan hukum adatnya, tak bisa dijajah oleh V.O.C. Dan juga sukar<br />
dijajah oleh pemerintah Hindia Belanda. Suku-suku itu baru bisa<br />
ditaklukkan oleh penjajah pada abad 19, setelah orang Belanda punya<br />
senapan yang bisa dikokang, senapan mesin dan dinamit. Sedangkan<br />
Sulawesi Selatan baru bisa ditaklukkan pada tahun 1905, Toraja 1910,<br />
Bali 1910 dan Ternate 1923 serta Ruteng 1928.<br />
Sedangkan pada suku bangsa yang masyarakat dan alam lingkungannya,<br />
tidak dilindungi oleh hukum adat, rakyatnya lemah karena tidak<br />
berdaulat, yang berdaulat cuma rajanya. Hukum yang berlaku adalah apa<br />
kata raja. Kekuasaan asing dan para pedagang asing bisa langsung<br />
menjamah masyarakat dan alam lingkungannya asal bisa mengalahkan<br />
rajanya atau bisa bersekutu dengan rajanya.</p>
<p>Kohesi rakyat dalam masyarakat adat kuat karena bersifat organis.<br />
Itulah tambahan keterangan kenapa mereka sukar dijajah. Sedangkan<br />
kohesi rakyat dalam masyarakat yang didominasi kedaulatan raja semata<br />
sangat lemah karena bersifat mekanis. Karenanya rentan terhadap<br />
penjajahan. Begitulah keadaan kerajaan Deli, Indragiri, Jambi,<br />
Palembang, Banten, Jayakarta, Cirebon, Mataram Islam, Kutai, dan<br />
Madura. Gampang ditaklukkan oleh V.O.C. Sejak abad 18 sudah terjajah.<br />
Para penjajah bersekutu dengan raja, langsung bisa mengatur kerja<br />
paksa dan tanam paksa. &#8220;Kalatida&#8221; dan &#8220;Kalabendu&#8221; melanda negara.</p>
<p>Ketika Hindia Belanda pada akhirnya bisa menaklukkan seluruh<br />
Nusantara, maka yang pertama mereka lakukan ialah dengan<br />
meng-erosi-kan hukum adat-hukum adat yang ada. Para penjaga adat diadu<br />
domba dengan para bangsawan di perintahan sehingga dengan melemahnya<br />
adat, melemah pulalah perlindungan daulat rakyat dan alam<br />
lingkungannya. Selanjutnya penghisapan kekayaan alam bisa lebih bebas<br />
dilakukan oleh para penjajah itu.</p>
<p>Di zaman penjajahan itu hukum adat yang sukar dilemahkan adalah yang<br />
ada di Bali karena hubungannya dengan agama dan pura, dan yang ada di<br />
Sumatra Barat karena hubungan dengan syariat dan kitab Allah.</p>
<p>Tata hukum dan tata negara sebagai &#8220;Mesin Budaya&#8221;, di zaman penjajahan<br />
Hindia Belanda menjadi &#8220;Mesin Budaya&#8221; yang buruk bagi kehidupan<br />
bangsa. Karena tata hukum dan tata Negara Hindia Belanda memang<br />
diciptakan untuk kepentingan penjajahan.<br />
Maka ketika membangun negara, pemerintah Hindia Belanda juga tidak<br />
punya kepentingan untuk memajukan bangsa, melainkan membangun untuk<br />
bisa menghisap keuntungan sebanyak-banyaknya untuk kepentingan<br />
kemakmuran dan kemajuan Kerajaan Belanda di Eropa.</p>
<p>Industrialisasi dilakukan dengan mendatangkan modal asing yang bebas<br />
pajak, alat berproduksi juga didatangkan dari luar negeri dengan bebas<br />
pajak, dan bahan baku juga diimport dengan bebas pajak pula, kemudian<br />
pabrik yang didirikan juga bebas dari pajak berikut tanahnya. Yang<br />
kena pajak cuma keuntungannya. Itupun boleh ditransfer keluar negeri.<br />
Jadi devisa terbuka! Alangkah total dan rapi pemerintah Hindia Belanda<br />
membangun &#8220;Mesin Budaya&#8221; penghisapan terhadap daya hidup rakyat dan<br />
kekayaan alam lingkungan Indonesia. Semuanya itu di kokohkan dengan<br />
&#8220;Ordonansi Pajak 1925&#8243;.</p>
<p>Setelah Indonesia Merdeka, ternyata cara membangun Hindia Belanda<br />
masih terus dilestarikan oleh elit politik kita. &#8220;Ordonansi Pajak<br />
1925&#8243; hanya dirubah judulnya menjadi &#8220;Undang-undang Penanaman Modal<br />
Asing&#8221;. Sehingga sampai sekarang kita sangat tergantung pada modal<br />
asing. Pembentukan modal dalam negeri serta perdagangan antar desa dan<br />
antar pulau tidak pernah dibangun secara serius.<br />
Pembentukan sumber daya manusia hanya terbatas sampai melahirkan<br />
tukang-tukang, mandor dan operator. Kreator dan produsir tak nampak<br />
ada. Mengkonsumsi teknologi yang dibeli disamakan dengan ambil alih<br />
teknologi.</p>
<p>Bagaimana mengembangkan sumber daya manusia tanpa menggalakkan<br />
lembaga-lembaga riset sebanyak-banyaknya! Tanpa riset kita hanya akan<br />
menjadi konsumen dalam perkembangan ilmu pengetahuan.</p>
<p>Dan juga melengahkan pembentukan industri hulu, seperti penjajah tempo<br />
dulu, itu tidak bisa diterima. Sangat menyedihkan bahwa pabrik baja<br />
kita ternyata tidak bisa mengolah bijih baja. Bisanya hanya mendaur<br />
ulang besi tua.</p>
<p>Akibat dari tidak adanya industri hulu, industri kita di hampir semua<br />
bidang: pesawat terbang,mobil, sepeda, obat batuk hitam, obat flu,<br />
cabe, kobis, padi , jagung, ayam potong, dll, dll, dll, semua<br />
assembling! Alat berproduksi dan bahan bakunya diimport!</p>
<p>Dan selagi kita belum mempunyai kemampuan menghasilkan mesin-mesin<br />
berat dan tenaga-tenaga manusia tingkat spesialis yang cukup<br />
jumlahnya, pemerintah kita, sejak zaman Orde Baru, telah menjual modal<br />
alam. Akibatnya yang memperoleh keuntungan besar adalah modal asing<br />
yang memiliki teknologi Barat dan tenaga-tenaga spesialis. Alam dan<br />
lingkungan rusak karena kita memang tak berdaya menghadapi kedahsyatan<br />
kekuatan modal asing.</p>
<p>Ketergantungan pada modal asing, pinjaman dari negeri-negeri asing dan<br />
bantuan-bantuan asing, menyebabkan pemerintah kita, dari sejak zaman<br />
Orde Baru, bisa tersesat ke dalam politik pertanian dan pangan dari<br />
lembaga-lembaga asing dan perusahaan-perusaha an multi nasional.</p>
<p>Dengan kedok &#8220;Revolusi Hijau&#8221; kekuatan asing bisa meyakinkan bahwa<br />
kita harus meningkatkan swadaya pangan. Dan tanpa ujung pangkal akal<br />
sehat, pemerintah Orde Baru menetapkan bahwa swadaya pangan itu pada<br />
intinya adalah swadaya beras. Seakan-akan dari Sabang sampai Merauke<br />
beras menjadi makanan utama, dan tanah dari Sabang sampai Merauke bisa<br />
ditanami beras. Dan solusi yang diambil untuk mengatasi kenyataan<br />
bahwa tanah yang bisa ditanami padi itu terbatas, maka para pakar<br />
asing menasehati agar ada intensifikasi pertanian padi, artinya:<br />
importlah bibit padi hibrida! Bibit asli terdesak dan akhirnya hampir<br />
punah. Bibit hibrida perlu pupuk. Didirikanlah pabrik pupuk dengan<br />
pinjaman asing. Pupuk itu mengandung beurat yang lama kelamaan tanah<br />
menjadi bantat.</p>
<p>Termasuk dalam program intensifikasi pangan dipakailah berbagai racun:<br />
Pestisida untuk membunuh hama tanaman. Fumisida untuk membunuh<br />
cendawan-cendawan, terutama cendawan di kebun buah-buahan. Herbisida<br />
untuk membasmi gulma. Maka gulma, jenis-jenis rumput yang ada di sela<br />
taman dan dianggap mengganggu. Sebenarnya gulma adalah bagian dari<br />
ekosistem tanah. Bisa disingkirkan secara sementara dengan disiangi.<br />
Tetapi kalau ditumpas dengan herbisida maka akan lenyaplah gulma<br />
selam-lamanya. Artinya rusaklah ekosistem. Dan pada hakekatnya<br />
herbisida itu berbahaya untuk semua organisme dan makhluk.</p>
<p>Beberapa ahli pertanian bersih hati mengatakan bahwa intensifikasi<br />
pemakaian pestisida, fumisida, dan herbisida ini menyebabkan<br />
agrikultur kehilangan &#8220;kultur&#8221; dan berubah menjadi &#8220;agrisida&#8221; atau &#8220;<br />
agriracun&#8221;.</p>
<p>Racun dari pestisida, fumisida dan herbisida ini pada akhirnya masuk<br />
ke tanah dan meracuni air tanah. Sehingga penduduk yang tinggal di<br />
sekitar perkebunan-perkebun an mengalami cacat badan dan melahirkan<br />
bayi-bayi cacat.</p>
<p>Pemakaian pupuk urea menyebabkan biaya produksi pangan naik tinggi<br />
karena padi hibrida menuntut peningkatan jumlah pemakaian pupuk,<br />
secara lama kelamaan. Mahalnya biaya produksi padi dan rusaknya tanah<br />
ini yang mendorong kita tergantung pada import bahan makanan. Maksud<br />
hati ber-swadaya pangan, tetapi hasilnya justru ketergantungan pangan.</p>
<p>Agrisida yang merusak lingkungan dan sumber pangan kita, serta<br />
explotasi modal alam dengan serakah sebelum kita menguasai pengadaan<br />
mesin-mesin berat, modal nasional yang kuat, dan cukup tenaga<br />
spesialis, yang juga menusuk alam lingkungan, adalah tanggung dari<br />
begawan-begawan ekonomi dan begawan-begawan pembangunan di zaman Orde<br />
Baru yang masih berkelanjutan sampai sekarang adalah salah satu faktor<br />
&#8220;Kalabendu&#8221; yang kita hadapi saat ini. Sama beratnya dengan korupsi<br />
dan pelanggaran terhadap hak azazi.</p>
<p>Pembangunan dalam negara kita juga melupakan sarana-sarana pembangunan<br />
rakyat kecil dan menengah kecil. Padahal mereka adalah tulang punggung<br />
yang tangguh dari kekuatan ekonomi bangsa. Jumlahnya mencapai 45 juta<br />
dan bisa menampung 70 juta tenaga kerja. Sedangkan sumbangannya pada<br />
Gross National Product adalah 62%. Lebih banyak dari sumbangan BUMN.<br />
Namun begitu tidak program pemerintah dengan positif membantu usaha<br />
mereka: Jalan-jalan darat yang menjadi penghubung antar desa, yang<br />
penting untuk kegiatan ekonomi, rusak dan tak terurus. Bahan baku<br />
selalu terbatas persediaannya. Banyak bank yang tidak ramah kepada<br />
mereka. Grosir-grosir mempermainkan dengan check yang berlaku mundur.<br />
Dan pemerintah tidak pintar melindungi kepentingan mereka dari<br />
permainan kartel-kartel yang menguasai bahan baku.</p>
<p>Dari sejak abad 7 telah terbukti bahwa rakyat kecil menengah itu<br />
sangat adaptif, kreatif, tinggi daya hidupnya, ulet daya tahannya. Di<br />
abad 7 mereka yang seni pertaniannya menanam jewawut, dengan cepat<br />
menyerap seni irigasi dan menanam padi serta berternak lembu yang<br />
dperkenalkan oleh Empu Maharkandia dari India Selatan. Selanjutnya<br />
mereka juga bisa menguasai seni menanam buah-buahan dari India semacam<br />
sawo, mangga, jambu, dsb. Bahkan pada tahun 1200, menurut laporan<br />
&#8220;Pararaton&#8221;, mereka sudah bisa punya perkebunan jambu. Begitu juga<br />
mereka cepat sekali menyerap seni menanam nila, bahkan sampai<br />
mengekspornya ke luar negeri. Begitu juga mereka adaptif dan kreatif<br />
di bidang kerajinan perak, emas, pertukangan kayu dan pandai besi,<br />
yang semuanya itu dilaporkan dalam kitab &#8220;Pararaton&#8221;.</p>
<p>Di jaman Islam masuk dari Utara, mereka juga cepat beradaptasi dengan<br />
tanaman-tanaman baru seperti kedele, ketan, wijen, soga, dsb. Dengan<br />
cepat mereka juga belajar membuat minyak goreng, krupuk, tahu, trasi,<br />
dendeng, manisan buah-buahan, dan kecap. Bahkan dengan kreatif mereka<br />
menciptakan tempe. Di bidang kerajinan tangan dengan cepat mereka<br />
menyerap seni membuat kain jumputan, membuat genting dari tanah,<br />
membangun atap limasan, menciptaan gandok dan pringgitan di dalam seni<br />
bangunan rumah. Pendeknya unsur-unsur perkembangan baru dalam<br />
kebudayaan cita rasa dan tata nilai cepat diserap oleh rakyat banyak.</p>
<p>Dan kemudian di jaman tanam paksa dan kerja paksa, ketika kehidupan<br />
rakyat di desa-desa sangat terpuruk, karena meskipun mereka bisa<br />
beradaptasi dengan tanaman baru seperti teh, kopi, karet, coklat,<br />
vanili, dsb. Tetapi mereka hanya bisa jadi buruh perkebunan atau<br />
paling jauh jadi mandor, tak mungkin mereka menjadi pemilik<br />
perkebunan; namun segera mereka belajar menanam sayuran baru seperti<br />
sledri, kapri, tomat, kentang, kobis, buncis, selada, wortel, dsb<br />
untuk dijual kepada &#8220;ndoro-ndoro penjajah&#8221; di perkebunan dan<br />
&#8220;ndoro-ndoro priyayi&#8221; di kota-kota. Akhirnya bencana menjadi<br />
keberuntungan. Petani-petani sayur mayur menjadi makmur.<br />
Dan sekarang meski mereka dalam keadaan teraniaya oleh keadaan dan<br />
tidak diperhatikan secara selayaknya oleh pemerintah, bahkan kini<br />
mereka digencet oleh kenaikan harga BBM, toh mereka tetap hidup dan<br />
bertahan. Kaki lima adalah ekspresi geliat perlawanan rakyat kecil<br />
terhadap kemiskinan. Luar biasa! Merekalah pahlawan pembangunan yang<br />
sebenarnya!</p>
<p>Seandainya pemerintah dan pemikir ekonomi memperhatikan dan membela<br />
kemampuan mereka, menciptakan sarana-sarana kemajuan untuk mereka,<br />
mereka adalah harapan kita untuk menjadi kekuatan ekonomi bangsa.</p>
<p>Tata Hukum dan Tata Negara yang berlaku sekarang ini masih meneruskan<br />
semangat undang-undang dan ketatanegaraan penjajah Hindia Belanda<br />
tempo dulu, yang sama-sama menerapkan keunggulan Daulat Pemerintah di<br />
atas Daulat Rakyat, dan juga sama-sama menerapkan aturan politik<br />
ketatanegaraan yang memusat, dan sama-sama pula memperteguh aturan<br />
berdasarkan kekuasaan dan keperkasaan dan tidak kepada etika, dengan<br />
sendirinya tak akan bisa berdaya mencegah krisis etika bangsa, bahkan<br />
malah mendorong para kuasa dan para perkasa untuk mengumbar nafsu<br />
jahat mereka, tanpa ada kontrol yang memadai.</p>
<p>Tentu saja ada Pancasila, sumber etika bangsa yang cukup lebar<br />
cakupannya. Tetapi ternyata Pancasila hanyalah bendera upacara yang<br />
tak boleh dikritik, tapi boleh dilanggar tanpa ada akibat hukumnya.<br />
Kemanusiaan yang adil dan beradab, satu sila yang indah dari Pancasila<br />
ternyata tak punya kekuatan undang-undang apapun bila dilanggar oleh<br />
orang-orang kuasa atau perkasa. Lihatlah kasus pembunuhan terhadap<br />
empat petani di Sampang Madura, pembunuhan terhadap Marsinah, Udin,<br />
Munir, dan pembunuhan-pembunuh an yang lain lagi.</p>
<p>Para buruh Cengkareng yang mogok dan berjuang untuk memperbaiki<br />
kesejahteraan hidupnya, dianiaya dan diharu biru oleh petugas<br />
keamanan. Biarpun kasusnya dimenangkan oleh pengadilan, tetapi<br />
keputusan pengadilan tak pernah digubris dan dilaksanakan oleh majikan<br />
pabrik. Malahan para aktivis buruh diteror oleh para petugas keamanan<br />
dan para preman yang dibayar oleh majikan.<br />
Rakyat juga tak pernah menang dalam perjuangan mereka untuk melindungi<br />
diri dari polusi yang ditimbulkan olah limbah pabrik. Petugas keamanan<br />
selalu memihak kepada kepentingan majikan pabrik.</p>
<p>Sila kemanusiaan yang adil dan beradab, keadilan sosial, dan<br />
kedaulatan rakyat, benar-benar tak ada implementasinya di dalam<br />
undang-undang pelaksanaan. KUHP, yang berlaku adalah warisan dari<br />
penjajah Hindia Belanda yang tidak punya dasar etika.</p>
<p>Sungguh ironis, bahwa di dalam negara yang merdeka, karena Kedaulatan<br />
Rakyat dan Kedaulatan Hukum diremehkan, maka hukum dan undang-undang<br />
justru menjadi sebab merosotnya etika bangsa.</p>
<p>Apabila para ahli hukum terlambat membahas dan memperbaiki kenyataan<br />
adanya gap antara ius dan lex, maka &#8220;Kalatida&#8221; akan berlaku<br />
berkepanjangan dan masuklah kita ke alam &#8220;Kalabendu&#8221;. Ah,<br />
gejala-gejala bahkan menujukkan bahwa &#8220;Kalabendu&#8221; sudah menjadi<br />
kenyataan. Inilah jaman kacau nilai, jaman kejahatan menang, penjahat<br />
dipuja, orang beragama menjadi algojo, kitab suci dikhianati justru<br />
oleh ulama, kekuasaan dan kekayaan diperdewa. Pepatah &#8220;mikul duwur<br />
mendem jero&#8221; sudah lepas dari konteks moralnya dan berganti makna<br />
menjadi: kalau anda berkuasa dan perkasa maka berdosa boleh saja!</p>
<p>Hukum, perundang-undangan dan ketatanegaraan yang menghargai daulat<br />
manusia, daulat rakyat, daulat akal sehat, dan daulat etika akan<br />
menjadi &#8220;Mesin Budaya&#8221; yang mampu merangsang dan mengakomodasi daya<br />
cipta dan daya hidup bangsa, sehingga daya tahan dan daya juang bangsa<br />
menjadi tinggi. Jadi sangat penting segera para ahli hukum membahas<br />
dan meninjau kembali mutu kegunaan tata hukum dan tata negara Republik<br />
Indonesia dalam menyejahterakan kehidupan berbangsa.</p>
<p>Bahkan menurut DR. Sutanto Supiadi ahli tata negara dari Surabaya<br />
berpendapat, bahwa redesigning konstitusi sangat diperlukan. Kenyataan<br />
memang menunjukkan bahwa setiap ada amandemen untuk membatasi<br />
kekuasaan presiden, tidak menghasilkan daulat rakyat yang lebih nyata,<br />
melainkan hanya menghasilkan daulat partai-partai yang lebih kuat.<br />
Bahkan, dalam proklamasi kemerdekaan dan UUD&#8217;45 yang asli, wilayah<br />
Republik Indonesia itu jelas ditunjukkan. Lalu pada amandemen ke<br />
empat, disebutkan munculnya pasal 25a, yang berbunyi: &#8220;Negara Kesatuan<br />
Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan yang berciri<br />
Nusantara dengan wilayah yang batas-batas dan hak-haknya ditetapkan<br />
dengan undang-undang&#8221; .</p>
<p>Tidak ada perkataan maritim di dalam rumusan itu. Nama negara pun<br />
hanya disebut sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal 60%<br />
dari negara kita terdiri dari lautan. Jadi lebih tepat kalau nama<br />
negara kita adalah Negara Kesatuan Maritim Republik Indonesia.</p>
<p>Negara kita adalah negara satu-satunya di dunia yang memiliki laut.<br />
Negara-negara lain hanya mempunyai pantai. Tetapi negara kita<br />
mempunyai Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Sulawesi, Laut Flores, Laut<br />
Banda, Laut Aru, Laut Arafuru, Laut Maluku, Laut Seram, Laut<br />
Halmahera, Laut Timor dan Laut Sawu. Namun toh ketatanegaraan kita<br />
tetap saja ketatanegaraan negara daratan. Inikah mental petani?</p>
<p>Sampai saat ini kita belum membentuk &#8220;Sea and Coast Guard&#8221;, padahal<br />
ini persyaratan Internasional, agar bisa diakui bahwa kita bisa<br />
mengamankan kita, maka kita harus mempunyai &#8220;Sea and Coast Guard&#8221;.<br />
Dunia International tidak mengakui Polisi Laut dan Angkatan Laut<br />
sebagai pengamanan laut di saat damai. Angkatan Laut, Polisi Laut itu<br />
dianggap alat perang. Jadi apa sulitnya membentuk &#8220;Sea and Coast<br />
Guard&#8221; yang berguna bagi negara dan bangsa? Apakah ini menyinggung<br />
kepentingan rejeki satu golongan? Tetapi kalau memang ada jiwa<br />
patriotik yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, bukankah<br />
tak akan kurang akal untuk mencari &#8220;win-win solution&#8221;.</p>
<p>Dalam soal perbatasan kita telah melengahkan pemetaan, pendirian<br />
beberapa mercu suar lagi, dan mengumumkan claim yang jelas dan<br />
rational mengenai batas-batas wilayah negara kita, teutama yang<br />
menyangkut wilayah di laut. Sudah saatnya pula lembaga inteligent kita<br />
mempunyai direktorat maritim.</p>
<p>Sudah saatnya wawasan ketatanegaraan kita, disegenap bidang, mencakup<br />
pengertian &#8220;Tanah Air&#8221;, dan tidak sekedar &#8220;Tanah&#8221; saja.</p>
<p>Pelabuhan-pelabuhan pun harus segera ditata sebagai &#8220;Negara Pelabuhan&#8221;<br />
yang dipimpin oleh &#8220;Syahbandar&#8221; yang berijasah international. Kemudian<br />
segera pula dicatatkan di PBB. Tanpa semua itu, maka negara kita tidak<br />
diakui punya pelabuhan, melainkan hanya diakui punya terminal-terminal<br />
belaka!</p>
<p>Perlu dicatat bahwa pembentukan Negara Nusantara untuk pertama kalinya<br />
diproklamasikan oleh Baron Van Der Capellen pada tahun 1821 dengan<br />
nama Nederlans Indie, dan sifat kedaulatannya negara maritim dengan<br />
batas-batas dan mercusuar-mercusuar yang jelas petanya.</p>
<p>Jadi Van Der Capllen tidak sekedar mengandalkan kekuatan angkatan laut<br />
untuk merpersatukan Nusantara, melainkan, alat politik untuk meyatukan<br />
Nusantara adalah tata hukum dan ketatanegaraan maritim.</p>
<p>Kita sebagai bangsa harus bersyukur kepada Perdana Menteri Juanda dan<br />
menteri luar negari Mochtar Kusumaatmaja, yang dengan gigih telah<br />
memperjuangkan kedaulatan maritim kita di dunia Internasional,<br />
sehingga diakui oleh Unclos dan PBB. Tetapi kita harus tanpa lengah<br />
meneruskan perjuangan itu sehingga kita mampu mengimplementasikan<br />
semua peraturan kelautan internasional yang telah kita ratifikasi.</p>
<p>Perlu disayangkan bahwa usaha untuk mendirikan Universitas Maritim<br />
yang bisa memberikan ijasah internasional untuk syahbandar dan<br />
nahkoda, belum juga mendapatkan ijin dari Departement Pendidikan<br />
Nasional. Saya menganggap sikap pemerintah seperti itu tidak patriotik<br />
dan tidak peka pada urgensi untuk menegakkan kedaulatan bangsa dan<br />
negara di lautan.</p>
<p>Tata hukum, tata kenegaraan dan tata pembangunan yang sableng seperti<br />
tersebut di atas itulah yang mendorong lahirnya &#8220;Kalatida&#8221; dan<br />
&#8220;Kalabendu&#8221; di negara kita.</p>
<p>Menurut penyair Ranggawarsita kita harus bersikap waspada, tidak<br />
mengkompromikan akal sehal. Dan juga harus sabar tawakal. Adapun<br />
&#8220;Kalasuba&#8221; pasti datang bersama dengan ratu adil.</p>
<p>Dalam hal ini saya agak berbeda sikap dalam mengantisipasi datangnya<br />
&#8220;Kalasuba&#8221;. Pertama, &#8220;Kalasuba&#8221; pasti akan tiba karena dalam setiap<br />
chaos secara &#8220;build-in&#8221; ada potensi untuk kestabilan dan keteraturan.<br />
Tetapi kestabilan itu belum tentu baik untuk kelangsungan kedaulatan<br />
rakyat dan kedaulatan manusia yang sangat penting untuk emansipasi<br />
kehidupan manusia secara jasmani, sosial, rohani, intelektual dan<br />
budaya. Dalam sejarah kita mengenal kenyataan, bahwa setelah chaos<br />
Revolusi Perancis, lahirlah kestabilan pemerintahan Napoleon yang<br />
bersifat diktator. Tentu masih banyak lagi contoh semacam itu di<br />
tempat lain dan di saat lain.</p>
<p>Kedua, harus ada usaha kita yang lain, tidak sekedar sabar dan<br />
tawakal. Tetapi toh kita tidak menghendaki &#8220;Kalasuba&#8221; yang dikuasai<br />
oleh diktator. Tidak pula yang dikuasai oleh kekuasaan asing seperti<br />
di Timor Leste. Oleh karena itu kita harus aktif memperkembangkan<br />
usaha untuk mendesak perubahan tata pembangunan, tata hukum dan tata<br />
kenegaraan sehingga menjadi lebih baik untuk daya hidup dan daya cipta<br />
bangsa.</p>
<p>Ketiga, situasi semacam itu tidak tergantung pada hadirnya Ratu Adil,<br />
tetapi tergantung pada Hukum yang Adil, Mandiri, dan Terkawal.</p>
<p>Wassalam,</p>
<p>RENDRA<br />
Cipayung Jaya, Depok<br />
Hotel Quality, Jogya</p>
<p>(<em>Pidato ini disampaikan di Balairung Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, ketika penyair WS Rendra menerima gelar doktor honoris causa, pada Selasa 4 Maret 2008.)</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anurannisa.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anurannisa.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anurannisa.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anurannisa.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anurannisa.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anurannisa.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anurannisa.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anurannisa.wordpress.com/442/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anurannisa.wordpress.com/442/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anurannisa.wordpress.com/442/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=442&subd=anurannisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anurannisa.wordpress.com/2009/11/01/kalabendu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f499bb67e1f5bc654a4eb12a6c4bd06d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">anurannisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/11/r.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">r</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Identitas Bahasa</title>
		<link>http://anurannisa.wordpress.com/2009/10/30/identitas-bahasa/</link>
		<comments>http://anurannisa.wordpress.com/2009/10/30/identitas-bahasa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 13:34:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anurannisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[mind n soul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anurannisa.wordpress.com/?p=432</guid>
		<description><![CDATA[Bahasa menunjukan bangsa
Masih inget dialog Cinta Laura pada satu sinetronnya: “mana ujan, enggak ada ojek&#8230;” yang malah ditambahin ”becek!” dengan logat khasnya. Sehari-harinya, artis ini terbiasa berbicara memakai bahasa sono, terkadang campur aduk dengan bahasa Indonesia juga.
Semangat ber-Inggris ria sekarang melanda luas di berbagai kalangan. Percakapan sehari-hari di kalangan pekerja kantoran, tak jarang menyelipkan istilah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=432&subd=anurannisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bahasa menunjukan bangsa</p>
<p>Masih inget dialog Cinta Laura pada satu sinetronnya: “mana ujan, enggak ada ojek&#8230;” yang malah ditambahin ”becek!” dengan logat khasnya. Sehari-harinya, artis ini terbiasa berbicara memakai bahasa sono, terkadang campur aduk dengan bahasa Indonesia juga.</p>
<p>Semangat ber-Inggris ria sekarang melanda luas di berbagai kalangan. Percakapan sehari-hari di kalangan pekerja kantoran, tak jarang menyelipkan istilah Inggris, seperti: Meeting, Outing, dll. Bukan hal yang langka lagi menemukan orang berdialog dengan bahasa gado-gado seperti itu, entah di Mall, kantor, bahkan teman2 terdekat kita. Seperti yang saya lihat, seorang Ibu berwajah oriental asyik bercerita melalui ponselnya menggunakan bahasa Inggris-Indonesia, ketika kita sedang sama2 menunggu antrian di tempat praktek dokter gigi. Untungnya, bahasa Inggrisnya fasih dengan grammar yang tepat. Lucunya, ada satu pasien di Rumah Bersalin Puskesmas-yang letaknya di ndeso-saya bekerja, sedang berusaha untuk melahirkan. Sepanjang proses kelahiran bayinya, sang ibu tidak berhenti berteriak: “don&#8217;t hurt me&#8230;don&#8217;t hurt me” jiah&#8230;.taunya cuma don&#8217;t hurt me doang kale! (lagian syapa yang nyakitin, lah mang melahirkan itu sakit dudul&#8230;).</p>
<p>Menurut cerita mantan pemred saya Pak Iwan (dulu waktu masih kerja di media) di blog nya:</p>
<p><span id="more-432"></span></p>
<p>Fenomena boom istilah asing pernah terjadi pada tahun 1980-an ketika terjadi booming ekonomi yang luar biasa. Ketika itu muncul properti di mana-mana. Penggunaan nama-nama asing sangat marak, bisa dijumpai di papan namanya: North Tower dan South Tower (ini untuk gedung utara dan gedung selatan, di Kuningan Plaza), ada Mulia Tower, Landmark.<br />
Pada tahun 1995, dilakukan pencanangan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Nama-nama gedung, perumahan dan pusat perbelanjaan yang berbau asing diganti dengan bahasa Indonesia. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama.<br />
Angin reformasi justru membawa perubahan buruk bagi bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa asing kembali marak. Malahan dengan alasan globalisasi, percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing justru semakin marak. Kata-kata seperti &#8216;new arrival&#8217;, &#8217;sale&#8217;, &#8216;discount&#8217;, terpampang dengan jelas di berbagai toko dan pusat perbelanjaan<br />
Pada tahun 1953, Poerwodarminta mengeluarkan Kamus Bahasa Indonesia yang pertama. Di situ tercatat jumlah lema (kata) dalam bahasa Indonesia mencapai 23.000. Pada tahun 1976, Pusat Bahasa menerbitkan Kamus Bahasa Indonesia, dan terdapat 1.000 kata baru. Artinya, dalam waktu 23 tahun hanya terdapat 1.000 penambahan kata baru.<br />
Tetapi pada tahun 1988, terjadi loncatan yang luar bisa. Dari 24.000 kata, telah berkembang menjadi 62.000. Selain itu, setelah bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, berhasil dibuat 340.000 istilah di berbagai bidang ilmu. Malahan sampai hari ini, Pusat Bahasa berhasil menambah 250.000 kata baru. Dengan demikian, sudah ada 590.000 kata di berbagai bidang ilmu. Sementara kata umum telah berjumlah 78.000.</p>
<p>Menurut penutur bahasa Indonesia, Pak Anton Moeliono, bila asas struktur subyek-predikat-obyek ditaati, dijamin, para remaja kita dapat nilai merah dalam pelajaran bahasa.</p>
<p>Apalagi kalau ketaatan menggunakan bahasa Indonesia yang jadi ukuran, mungkin banyak para pembuat reklame tidak ada yang lulus. Contoh:</p>
<p><strong>‘’Great Sale. Special Discount Up To 30%. Original Brand from USA’’</strong>.</p>
<p>Mana yang diterangkan dan menerangkan neh&#8230;</p>
<p>makin memprihatinkan dengan bahasa2 gaul yang tengah berkembang di kalangan ABG, seperti milik Debi Sahertian ini:</p>
<p><strong>Jali-jali di Mal</strong><em> </em><br />
<em>A: Akika mawar belalang spartakus nih. </em><br />
<em>B: Emang spartakus yang lambreta napose? </em><br />
<em>A: Sutra Rusia! B: Akika mawar belalang Tasmania. </em><br />
<em>A: Tasmania kawanua yang lambada jugra sutra Rusia? </em><br />
<em>B: Tinta … pingin gaya atitah! </em><br />
<em>A: Sihombing loe! B: Tinta … soraya kayangan anjas! He … he … </em><br />
<em>(Sahertian, 1999: 23-25)</em></p>
<p><em>btw, ngerti ga?</em></p>
<p><em>Dijamin, yang bukan penutur asli bahasa Indonesia ga bakal ngerti&#8230;</em></p>
<p>Masih menurut Pak Iwan Q.H:</p>
<p><em>Bahasa menunjukkan bangsa. Mungkin karena itu, orang Jerman, Prancis, dan Jepang, sangat bangga pada bahasanya.</em></p>
<p>Bahasa menunjukkan bangsa. Kita sepakat dengan hal itu. Di satu sisi, berbagai perkembangan kosa kata baru yang masuk ke dalam perbendaharaan bahasa kita menunjukkan, bahasa kita memang makin gaul. Makin dinamis. Bahasa memang tidak bisa mandek.<br />
Tapi, kalau sampai bahasa lokal tergerus oleh gempuran bahasa asing, kita tidak bisa berbangga lagi. Itu menunjukkan kita adalah bangsa yang tidak punya percaya diri.</p>
<div id="attachment_436" class="wp-caption alignnone" style="width: 410px"><img class="size-full wp-image-436" title="Beringharjo" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/10/beringharjo2.jpg?w=400&#038;h=300" alt="Beringharjo" width="400" height="300" /><p class="wp-caption-text">saya lebih bangga sama yg ini: pake tulisan jawa kuno...skrg msh ada yg ngerti ga ya?</p></div>
<p>BERBAHASA Indonesia itu tidak semudah yang kita bayangkan. Karena setiap hari kita sudah mudeng nonton tv, mendengarkan radio, ngobrol, dan baca koran, kita merasa diri kita sudah fluent, sudah cas-cis-cus berbahasa Indonesia. Akibatnya: meski di rak buku kita memiliki ratusan buku asing, kamus bahasa Indonesia-Jerman, kamus bahasa Prancis, tapi Kamus Besar Bahasa Indonesia banyak yang tak punya. Akibatnya lagi: acap kali kita terbata-bata dalam berbahasa.</p>
<p>Kesulitan lain yang muncul dalam berbahasa Indonesia adalah, kita makin merasa bahwa bahasa kita ini miskin kosakata. Bahasa sehari-hari yang kita pakai sangat banyak mengandung unsur serapan.<br />
Apa nama tempat pemberhentian bus? Jawabnya: halte. Itu dari bahasa Inggris. Kita juga mengenal istilah baru akhir-akhir ini: under pass (terowongan), fly over (jalan layang), traffic light. Kepolisian Daerah Jakarta mengenalkan lembaga yang mengontrol lalu lintas. Namanya: Traffic Management Centre alias TMC. Kenapa bukan PKL, Pusat Kendali Lalu Lintas? Mungkin khawatir derajatnya turun, disetarakan dengan pedagang kaki lima.</p>
<p>Sering kali istilah asing itu muncul lantaran kita malas mencari kata-kata padanannya dalam bahasa Indonesia. Atau kita merasa minder, merasa kalau dengan menggunakan bahasa Inggris, kita akan merasa menjadi kaum terpelajar.<br />
Tapi juga unsur lain, bahasa Indonesia memang tidak memiliki kata yang sama artinya. Contohnya saja: internet, komputer, bank, atom, neutron, derivatif. Bisa saja kita menerjemahkan, tapi akibatnya akan menjadi naskah dalam bahasa Indonesia yang tergagap-gagap. Salah satu yang sangat bersemangat untuk membuat terjemahan untuk setiap istilah adalah Prof. Sudjoko, guru besar ITB Bandung.<br />
Masuknya unsur serapan yang secara beruntun ditimpali dengan kemalasan mencari tahu grammar yang benar, dan cara penulisan yang benar. Akibatnya terjadilah tulisan: PHOTO COFFEE, HALTE PLY OFFER, TAMBAL BAN CUBE LESS.<img class="alignnone size-full wp-image-433" title="image008" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/10/image008.jpg?w=400&#038;h=300" alt="image008" width="400" height="300" /></p>
<p>Salah satu penyebab kesulitan berbahasa Indonesia juga bahasa kita sering tidak konsisten, tidak taat azas dalam menyerap unsur asing. Kita lebih mengenal Selandia Baru ketimbang New Zealand. Tapi untuk Papua New Guinea kita menerjemahkannya menjadi Papua Nugini. Kenapa bukan Papua Guinea Baru? United States of America kita terjemahkan sebagai Amerika Serikat. Kalau United Kingdom kenapa bukan Kerajaan Serikat ya, tapi malah jadi Kerajaan Inggris?<br />
Jaman gubernur Jakarta dijabat Pak Wiyogo Atmodarminto, pernah ada aturan untuk mewajibkan toko-toko, hotel, nama jalan, harus menggunakan aturan bahasa Indonesia yang baku. Artinya yang baik dan benar, mengikuti azas ‘’DM- diterangkan dan menerangkan’’.<br />
Maka: BNI Bank menjadi Bank BNI, BII Bank menjadi Bank BII. Tapi juga ada kata-kata yang terjemahaannya dipaksakan.</p>
<p>Sebuah hotel di Jalan HR Rasuna Said namanya ‘’Grand Melia’’. Kini berubah menjadi ‘’Gran Melia’’. Kenapa bukan Melia Raya ya? Anehnya, sebuah perumahan bernama ‘’Cassa Grand’’ berubah menjadi ‘’Cassa Grande’’.<br />
Nah, pusing kan? Wajar kalau kemudian muncul: Ply Over, Ply Offer, Fly Oper, dan Photo Coffee…<br />
Kalau cara berbahasa menunjukkan bagaimana sebuah bangsa, mungkin ini jawaban kenapa kok kita terus dipusing dengan beragam masalah….</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anurannisa.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anurannisa.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anurannisa.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anurannisa.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anurannisa.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anurannisa.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anurannisa.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anurannisa.wordpress.com/432/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anurannisa.wordpress.com/432/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anurannisa.wordpress.com/432/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=432&subd=anurannisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anurannisa.wordpress.com/2009/10/30/identitas-bahasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f499bb67e1f5bc654a4eb12a6c4bd06d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">anurannisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/10/beringharjo2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Beringharjo</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/10/image008.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">image008</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tradisi bermaafan sebelum dan sesudah lebaran</title>
		<link>http://anurannisa.wordpress.com/2009/10/30/tradisi-bermaafan-sebelum-dan-sesudah-lebaran/</link>
		<comments>http://anurannisa.wordpress.com/2009/10/30/tradisi-bermaafan-sebelum-dan-sesudah-lebaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 13:11:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anurannisa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://anurannisa.wordpress.com/?p=426</guid>
		<description><![CDATA[Wallahua&#8217;lam belum ditemukan nash hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan atau mencontohkan kita untuk saling bermaafan, khususnya saat menjelang masuknya bulan Ramadhan. Entahlah, tentu kalau ada dan shahih serta eksplisit redaksinya, kita pun wajib untuk melakukannya.

Meski tidak ada dalil khusus yang menunjukan bahwa Rasulullah SAW melakukan saling bermaafan menjelang Ramadhan, tetapi tidak ada salahnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=426&subd=anurannisa&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Wallahua&#8217;lam belum ditemukan nash hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW memerintahkan atau mencontohkan kita untuk saling bermaafan, khususnya saat menjelang masuknya bulan Ramadhan. Entahlah, tentu kalau ada dan shahih serta eksplisit redaksinya, kita pun wajib untuk melakukannya.</p>
<p><span id="more-426"></span></p>
<p>Meski tidak ada dalil khusus yang menunjukan bahwa Rasulullah SAW melakukan saling bermaafan menjelang Ramadhan, tetapi tidak ada salahnya bila setiap orang melakukannya. Memang seharusnya bukan hanya pada momentum Ramadhan saja, sebab meminta maaf kan bisa <em>anywhere </em>and <em>everywhere</em>. Adapun bermaaf-maafan secara umum, tidak terkait dengan masuknya bulan Ramadhan, sudah tidak perlu dipermasalahkan lagi. Begitu banyak dalil untuk meminta dan memberi maaf, seperti:</p>
<p>Rasulullah SAW: <em>“semua manusia (anak Adam) itu melakukan kesalahan,dan sebaik-baik orang yang melakuan kesalahan itu adalah orang-orang yang suka bertobat (minta maaf)” </em>(HR Tirmidzi)</p>
<p>Idealnya yang dilakukan bukan sekedar berbasa-basi minta maaf atau memaafkan, tetapi juga menyelesaikan semua urusan, seperti hutang-hutang dan lainnya. Agar ketika memasuki Ramadhan, kita sudah bersih dari segala sangkutan kepada sesama manusia.</p>
<p>Dari Abu hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, <em>“Siapa yang menegakkan Ramadhan dengan iman dan ihtisab, maka Allah telah mengampuni dosanya yang telah lalu.</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Nah, sekarang kalau Allah SWT aja sudah menjanjikan pengampunan dosa, maka tinggal memikirkan bagaimana meminta maaf  kepada sesama manusia. Sebab dosa yang bersifat langsung kepada Allah pasti diampuni sesuai janji Allah, tapi bagaimana dengan dosa kepada manusia?</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-427" title="cat-loves-dog" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/10/cat-loves-dog.jpg?w=450&#038;h=342" alt="cat-loves-dog" width="450" height="342" /></p>
<p>Jangankan orang yang menjalankan Ramadhan, bahkan mereka yang mati syahid sekalipun, kalau masih ada sangkutan dosa kepada orang lain, tetap belum bisa masuk surga.</p>
<p>Oleh karena itu, biar bisa dipastikan semua dosa terampuni, maka selain minta ampun kepada Allah di bulan Ramadhan, juga meminta maaf kepada sesama manusia, agar bisa lebih lengkap. Mungkin gitu kale ye latar belakangnya.</p>
<p>Bermaafan boleh dilakukan kapan saja, menjelang Ramadhan, sesudahnya atau pun di luar bulan itu. Dan rasanya tidak perlu kita sampai mengeluarkan vonis bid&#8217;ah bila ada fenomena demikian, hanya lantaran tidak ada dalil yang bersifat eksplisit.</p>
<p>Sebab kalau semua harus demikian, maka hidup kita ini akan selalu dibatasi dengan beragam bid&#8217;ah. Bukankah ceramah tarawih, ceramah shubuh, kultum menjelang buka puasa, bahan kepanitiaan i&#8217;tikaf ramadhan, pesantren kilat, undangan ifthar jama&#8217;i, semuanya pun tidak ada dalilnya yang bersifat eksplisit?</p>
<p>Lalu apakah kita akan mengatakan bahwa semua orang yang melakukan kegiatan itu sebagai ahli bid&#8217;ah dan calon penghuni neraka?kenapa jadi mudah sekali vonis demikian?</p>
<p>Apakah semua kegiatan itu dianggap sebagai sebuah penyimpangan esensial dari ajaran Islam? Hanya lantaran dianggap tidak sesuai dengan apa yang terjadi di masa Nabi?</p>
<p>Kita umat Islam tetap bisa membedakan mana ibadah mahdhah yang esensial, dan mana yang merupakan kegiatan yang bersifat teknis non-formal. Semua yang disebutkan di atas itu hanya semata kegiatan untuk memanfaatkan momentum Ramadhan agar lebih berarti. Sama sekali tidak ada kaitannya dengan niat untuk merusak dan menambahi masalah agama.</p>
<p>Toh, tujuan berpuasa adalah menjadi pribadi yang bertakwa kepada Allah, dan ciri-ciri orang yang bertakwa adalah yang selalu memaafkan.</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan tradisi bermaafan sesudah lebaran?</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-428" title="maaf" src="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/10/maaf.jpg?w=264&#038;h=264" alt="maaf" width="264" height="264" /></p>
<p>Jika merujuk nash, jelas hal ini wajib bin kudu dijalankan. Tunggu, saya mau membahas hal ini dari perbedaan ritual antara dulu dan sekarang. Di masa silam, ucapan “selamat Idul Fitri” banyak dikirim dengan kartu ucapan. Bila tujuannya jauh, perlu dibubuhkan perangko, untuk selanjutnya dititipkan d kantor pos. Sampai beberapa hari kemudian, baru dapat diterima dan dibaca oleh sasaran si pengirim. Ehm&#8230;bisa dibayangkan prosesnya yg lama, juga kocek yang perlu dikeluarkan untuk tiap lembar kartunya.</p>
<p>Sekarang seyh ibaratnya tinggal pencet tombol, terkirim deh tuh ucapan “Selamat Idul Fitri”. Yup, Short  Message Service via ponsel atau Email telah menggantikan posisi postman. Praktis, tidak perlu waktu lama dan biaya nya relatif murah, hanya ratusan rupiah.</p>
<p>Yang jadi perhatian saya adalah apa yang ditulis pada SMS ucapan lebaran. Coba disimak, puluhan SMS yang anda terima di hari lebaran, dari yang formil sampai yang pake pantun, berhiaskan huruf arab atau yang menyertakan gambar. Tidak ada yang salah dalam model tadi. Menurut saya, yang tidak tepat ada pada isi SMS tersebut. Ketika kita mengirim SMS lebaran yang berisi: permintaan maaf, kebanyakan membalas SMS tersebut dengan: permintaan maaf juga. Seharusnya kan: pernyataan diterimanya permintaan maaf kita. Ngerti kan? Misal: “saya memaafkan dgn tulus kesalahanmu, dan saya pun meminta maaf&#8230;” dsb.</p>
<p>Yang saya takutkan hanya orang tersebut ternyata belum benar2 memaafkan kita. Siapa yang tau seyh hati dan pikiran orang?</p>
<p><em>Dan segeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang memaafkan baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan</em> (QS. Ali Imran 132-133)</p>
<p>SELAMAT IDUL FITRI 1430H</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/anurannisa.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/anurannisa.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/anurannisa.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/anurannisa.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/anurannisa.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/anurannisa.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/anurannisa.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/anurannisa.wordpress.com/426/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/anurannisa.wordpress.com/426/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/anurannisa.wordpress.com/426/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=anurannisa.wordpress.com&blog=4428623&post=426&subd=anurannisa&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://anurannisa.wordpress.com/2009/10/30/tradisi-bermaafan-sebelum-dan-sesudah-lebaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f499bb67e1f5bc654a4eb12a6c4bd06d?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">anurannisa</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/10/cat-loves-dog.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cat-loves-dog</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://anurannisa.files.wordpress.com/2009/10/maaf.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">maaf</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>