Daily

Balada OB

Kantor abis heboh dengan ulah OB. Lebih dahsyat dibanding tingkahnya Sayuti, Susi, Saodah, n Ismail di sitkom OB RCTI. Namanya Muhdorun, sudah 1 tahun jadi OB di PT. Reka Gagas Cipta ini. Berarti bisa dibilang lebih senior dia, dibanding saya yang baru 1 bulan. Perawakannya kecil dengan kulit agak gelap. Pembawaannya diam dan terlihat tenang. Umurnya juga tergolong masih muda, kelahiran ’84. Semua itu seakan tidak mengabaikan masalah besar yang sedang menghadangnya: menghamili anak orang di luar nikah, di saat sang istri yang ada di kampung sedang hamil juga.

Itu memang masalah pribadinya dia. Kalo saja, pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya tidak terbengkalai, mungkin saya beserta pasukan PT. RGC tidak turut ikut campur. Walaupun disini saya hanya menjadi pemerhati pasif, sebagai penikmat berita bersambung ini. Seringkali, hari Sabtu atau Ahad, yang seharusnya menjadi hari dimana dia menjaga kantor, bergantian dengan OB satunya, malah dipakai untuk berkencan dengan pacarnya itu. Akhirnya buntut dari masalah utama semakin panjang. Ehm…mainnya tidak ‘cantik’

Sekarang saja, sudah 2 hari dia tidak masuk kantor. Padahal baju dan upah yang seharusnya dia terima akhir bulan ini masih ada di kantor. Berhubung dia memang tinggal di kantor (lebih mirip dibilang rumah sih). Mungkin keresahan tidak begitu terasa pada saya atau teman yang lain. Tapi, untuk Bapak2 perusahaan, hal ini sangat mengganggu karena jelas pekerjaan jadi terhambat dan menyita banyak perhatian. Apalagi dia pergi dengan membawa serta STNK motor kantor. Ada ancaman dari dia yang mengatakan bila gaji bulan ini tidak diberikan pihak kantor, maka STNK nya tetap dia tahan. Lucu, semua hanya tertawa mendengar gertakannya. Malah Pemred saya dengan ringan berseloroh “ambil aja sana, kita bikin STNK baru.”

Berkaitan dengan masalah ini, yang agak menakutkan adalah pada saat kantor hanya dihuni 3 perempuan, termasuk saya. Sedangkan yang lain sedang menunaikan ibadah shalat Jumat. Muh datang dan mencoba membuka pintu pagar, yang untungnya sudah di kunci gembok. Kita yang didalam hanya berani mengintip di jendela dan berusaha dengan perlahan mengunci serta semua pintu. Waktunya lumayan lama, kita didalam jingkrak2 tidak karuan (seneng apa takut?).

Sorenya, dia berani bertemu dengan PU dan Redpel, berbicara di teras depan. Tidak berapa lama, dia datang ke ruangan kerja, diikuti Pak Iwan dan Pak Dipo. Raut wajahnya menyiratkan antara kebingungan, kemarahan, dan keresahan (duh…ga jago baca raut wajah orang neh). Dia menyalami kami satu persatu tanpa berkata apa-apa. Kami pun tidak menanyakan sesuatu, sepertinya dia memang tidak ingin berbicara apa-apa.

Permasalahan tidak berhenti sampai disitu. Keesokan harinya Orangtua, istri yang sedang mengandung besar, serta anaknya yang masih kecil (mirip banget sama Muh bow!) dari Wonosobo datang ke kantor pagi2. Ternyata, ada seseorang misterius yang memberitahu kabar ini ke keluarganya. Mungkin temannya Muh yang prihatin dengan nasib istrinya. Pak Iwan menemani ngobrol keluarga Muh sampai siang. Berkali-kali di telpon dan dicari-cari di rumah pacarnya tidak ketemu.

Jadi mikir, si pacarnya ini sudah tau Muh punya istri dan anak, ko’ masih mau aja ya. Sudah kadung cinta…cuih! Apalagi di rahimnya sudah bersemayam buah kasih mereka berdua. Pokoknya ampe detik ini masih ribet aja deh masalahnya. Mau menceraikan istri yang sedang hamil tidak boleh, tapi mau menikahi pacar yang sudah keburu hamil juga musti ada persetujuan dari istrinya.

Punya saran nggak cowok kaya gini enaknya diapain? Kaya’nya sunat aja ampe habis ya…biar sekalian nggak bisa ngapa2in.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s