mind n soul

batas waktu

Dalam setiap kehidupan, selalu ada dua sisi. Bagai pedang bermata dua. Terkadang mereka begitu dekat, saling berhadapan. Sebagai contoh, banyak yang mengatakan: “jangan sampai terlalu cinta, karena akan lebih mudah menjadi benci.” Apapun itu senang dan susah, hidup dan mati, kaya dan miskin, atau sehat dan sakit, harus dihadapi dengan tidak berlebihan. Semua diterima sesuai kondisinya. Agar tidak terjalin jarak psikologis yang terlalu jauh, apabila nanti akhirnya kedua hal yang menjadi teman tersebut berbalik menjadi musuh.

Pengantar diatas tadi, sebenarnya menggandeng saya untuk membicarakan pertemuan dan perpisahan. Sama-sama dua hal yang saling bertolak belakang. Namun, hadir satu paket tanpa bisa dipisahkan. Siapapun, pasti lebih memilih menghindar dari perpisahan. Tapi ada satu titik, dimana kita akan menjawab dengan standar ketika dihadapkan pada perpisahan “memang sudah waktunya”. Setelah segala upaya telah dikerahkan, pemikiran disaring menjadi jernih, permohonan terus dipanjatkan, dan perasaan dilatih kuat. Bermacam alasan bisa saja dilontarkan, sebagaimana sering saya lihat di infotainment, mengenai kabar seorang artis yang sedang menggugat cerai. Hubungannya dengan orang ketiga lah, komunikasi yang kurang terjalin lah, sampai sudah tidak cocok lagi lah.

Saya baru membaca tulisan Dee dengan judul “catatan tentang perpisahan.” Menggambarkan perpisahannya dengan sang suami. Dalam menganalogikannya saya merasa dia cukup berhasil. Disana menceritakan salah satu adegan dalam film “Earth” dimana seekor kijang berlari sekuat tenaganya hingga pada satu detik dia begitu berpasrah saat digigit oleh harimau, menghadapi ajalnya dengan begitu alami. Dikisahkan, adegan yang awalnya mencekam, malah berubah indah saat dapat mengapresiasikan kepasrahan. Sang kijang mengetahui benar ada kekuatan yang lebih besar darinya, yang tidak dapat dilawan lagi.

Sebagaimana manusia, ada hal-hal yang tidak rela dilepas, diperjuangkan habis-habisan terlebih dahulu. Hingga ketika dia merasa waktunya memang telah datang, akhirnya berlutut pasrah. Dan pada titik itu, segala perjuangan terhenti dengan alami. Bila perpisahan saat ini merupakan lukisan yang terindah, saya memilih untuk memberinya pigura. Kapanpun saya mau, saya dapat mengaguminya. Ada waktunya, lukisan tersebut akan di torehkan lagi warna-warni yang melengkapi. Tapi bisa juga terangkat dari dinding, lalu dilenyapkan.

Mungkin terlalu teoritis penjelasan saya diatas, sedangkan perpisahan adalah satu hal yang abstrak bagi perasaan kita. Percayalah, saya paham betul keadaan itu. kebenaran kadang memang sukar dipahami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s