motivation

Given

Pprraanngg…! Bunyi benda pecah belah membuat saya menoleh ke arah suara. Disana mematung seorang yang sengaja saya suruh untuk memindahkan meja. Semua alat-alat praktikum mikrobiologi yang sudah saya susun dan takar volumenya sesuai kebutuhan tergeletak tidak karuan di lantai. Sebagian ada yang tumpah dan pecah, walaupun tidak semuanya. Saya terdiam beberapa detik, lalu ikut membantu membersihkan. Orang yang memindahkan meja tadi sibuk meminta maaf sambil melarangku ikut turun tangan membersihkan.

Marahkah saya? Kesalkah saya? Sedihkah saya? Alhamdulillah…segala puji untuk Allah, secara manusiawi perasaan tidak mengenakkan otomatis merambat, tapi jangan sampai mengakar. Yang saya lakukan hanya menutup mulut. Sikap itu saya pilih karena saya sadar sesadar sadarnyanya dan seyakin yakinnya bahwa semua ini sudah menjadi ketetapan-Nya. Dan masih dalam keadaan sadar dan yakin itu juga saya tahu ketetapan-Nya tidak mungkin buruk. Bukankah Allah sudah menjanjikan setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Terucap sebanyak dua kali dalam surat Al-Insyirrah. Allah selalu menepati janji-Nya untuk perkataan yang sangat sedikit sekalipun.

Fa inna maal usri yusron, inna maal usri yusron

Sejenak saya merenung, shalat 5 waktu wajib, puasa sunnah sudah, Qiyyamul lail diupayakan terus, membagi berkah harus. Dan akhirnya saya semakin yakin, bahwa Allah pasti akan terus menguji setiap hamba-Nya, walaupun kita sudah merasa beriman. Dalam QS. Al-Ankabut:2 ”Apakah manusia itu mengira mereka dibiarkan saja mengatakan ”kami telah beriman’ sedang mereka tidak diuji lagi?

Seorang dosen saja, pasti akan terus menyuruh mahasiswa kesayangannya. Disuruh jadi assistent dosen, dan ditanya apabila ada penurunan nilai. Kalau tidak sayang jangankan disuruh, diingatnya saja tidak. Maka Allah juga begitu. Bila Dia sayang dengan seorang hamba-Nya, ujian-ujian itu akan terus menghampiri. Karena hal itu akan meningkatkan derajat hamba tersebut. Jadi jangan senang dulu kalau justru tidak pernah diuji.

Kejadian yang selalu menimpa kita semua adalah ”given” (ga mau nulis anugerah ah). Sebagai manusia yang penuh hawa nafsu kita punya keinginan, begitu juga dengan Allah. Dan yang pasti terjadi keinginan-Nya. Baik atau buruk. Tinggal kita melihat hal ini dalam kacamata tauhid. Ketetapan dari Dzat yang Mahabijaksana, Mahatinggi, Mahapintar.

”Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, Dan boleh pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak.”

Rabiah Al-Adawiyah, seorang tokoh sufi pernah berkata, ”bila yang aku harapkan adalah surga, maka jauhkanlah dariku ya Allah. Tetapi bila yang aku takuti neraka, maka dekatkanlah dariku. Sesungguhnya hamba hanya mengharapkan Ridho Allah.”

Dengan kata lain, dia beribadah bukan karena surga atau neraka, tetapi hanya berharap Ridho Allah. Dan kini, apa yang akan saya lakukan dan apapun yang tejadi, hanya Ridho dari-Mu yang kuharapkan.

Tidak ada manusia yang sempurna, selain Allah. Karena hal itu, tulisan ini dibuat sebagai warning dan cambuk agar penulis khususnya dan saudara saya seiman ingat untuk selalu menempa diri menjadi pribadi yang hanya mengingat Allah dalam kondisi apapun. Dan, saya hanya mengingatkan bahwa tulisan ini masih berupa bahan yang mentah. Perlu direnungkan dan dikaji lebih dalam lagi. Insya Allah, bahan mentah berupa sayur, tempe, ikan akan lebih bermanfaat bila diolah menjadi lauk pauk yang dapat menyehatkan tubih kita. Dibanding hanya teronggok tak berdaya dalam lemari pendingin sampai busuk. Amin ya robbal alamin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s