children

read-a-loud

Read a Loud, semua tahu dalam bahasa Indonesia, artinya membaca keras. Dapat diperluas menjadi mendongeng, memang bukan hal yang asing lagi. Tapi kegiatannya yang menjadikannya langka. Coba saja tengok, dari sekian juta ibu yang mempunyai anak kecil, berapa jumlah yang sadar untuk menceritakan sebuah buku. Meluangkan waktu sejenak untuk menanamkan nilai budi pekerti dari sebuah cerita. Bila dijelajahi lebih dalam lagi, manfaatnya tidak hanya itu, melainkan banyak sekali, seperti merekatkan hubungan ibu dan anak, meningkatkan kontak batin, serta mengajarkan membaca anak mulai dari usia dini. Sudah ada penelitian yang menyebutkan bahwa anak yang terbiasa dibacakan buku cerita lebih cepat menulis dan membaca.

Dalam sebuah workshop yang saya ikuti, Reading Bugs, diberitahukan: sebaiknya mendongeng sudah dilakukan sejak bayi masih dalam kandungan. “Huah…emang tuh bayi bisa ngerti?” itu pertanyaan pertama dari saya yang terlontar, mungkin sama dengan apa yang ada di benak semua yang hadir. Tapi, ada kenyataan dari yang mencoba hal ini, ketika si anak mulai belajar berbicara, cerita pertama yang keluar dari mulutnya adalah dongeng yang selalu sang Ibu bacakan ketika sedang mengandungnya. Minimal calon jabang bayi bisa mendengar kalo ibunya sedang membacakannya sebuah cerita. Perasaan kasih sayang pasti akan menjalar, karena calon bayi merasa ia diperhatikan.

Orangtua dapat membagi pengalamannya dengan mendongeng. Dalam aktivitasnya, ibu maupun anak dapat sama-sama melepas ekspresi. Imajinasi anak yang harus berkembang seluas-luasnya dapat dirangsang dari sini. Hal tersebut tidak akan bisa diajarkan oleh televisi yang semakin mendesak daya imajinasinya, karena telah memvisualisasikan. Bahkan, untuk mengenalkan lingkungan, sosial, teknologi, serta budaya dapat diselingi di tengah kegiatan mendongeng. Interaksi yang terjalin akan menguatkan pondasi kebersamaan sampai kelak dewasa. Kesulitan komunikasi yang dirasakan orangtua ketika anak beranjak remaja dapat di tanggulangi.

Tentu bahasa yang dipakai juga sederhana. Bagi saya yang senang sastra, mungkin bisa mengenalkan anak pada pola bahasa, mengembangkan perbendaharaan kata, dan mendorong seni mendengar. Paling penting, dongeng melatih anak berpikir rasional dan praktis, menyelesaikan masalah, serta mengambil keputusan. Maka, jangan langsung melarang anak untuk tidak melakukan ini atau itu. tapi, tanyakan dulu pendapat mereka. Bagaimana mereka memandang sebuah masalah dan memahaminya. Setelah itu baru orangtua bisa memberikan pendapatnya. Menciptakan suasana demokratis.

Dalam workshop ini disarankan untuk dalam sehari kita biasakan mendongeng. Sepupu kecil yang waktu itu tinggal dirumah sudah pndah. Jadi, mo praktek sama siapa dong? Masa ngomong sama boneka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s