Daily

Satu Sabtu

Sudah satu bulan lebih saya tidak mengunjungi dua sepupu kecil yang ada di Bogor. Dulunya dua ‘tuyul’ ini tinggal di rumah, setelah sebelumnya bermukim di Medan. Pindah karena abangnya yang sulung meninggal terkena penyakit DBD. Ibunya, yang tak lain tante saya, tidak sanggup terus tinggal di rumah yang mengingatkannya pada si anak. Lagipula, jauh dari keluarga, yang mayoritas berada di Jakarta. Sedangkan mau balik ke rumah yang ada di Bogor, sudah terlanjur di kontrakan pada orang lain, sebelum mereka berangkat ke Medan.Masa jatuh temponya pun masih lama, sekitar 2 tahun. Jadilah, tante saya tinggal di rumah. Senang banget, soalnya jadi punya ‘maenan’ hidup. Apalagi saya tidak punya adik. Si bungsu, masih bayi dan kakaknya mau masuk TK kecil.

Ma sudah terus bernyanyi setiap hari, agar saya meluangkan waktu untuk istirahat and spent many time with family. Memaksakan hati untuk tega tidak melihat jadwal acara di Sabtu ini. Saya dan ma berangkat ke Bogor naik kereta ekonomi AC. Dengan membayar karcis seharga Rp. 6.000, diberi imbalan kursi yang empuk dan pendingin udara, tanpa tukang jualan, juga sesaknya penumpang. Biasanya diantar pa, tapi dari hari Jumat pa pergi ke Solo.

Saya sudah tidak sabar bertemu Adek Emir dan Kakak Salsa. Dari cerita ma yang sering bolak-balik Depok-Bogor, Adek Emir nanyain saya terus. Akhir bulan lalu, dia memang sempat dirawat di RS karena muntaber. Saya tidak sempat menengok, ada monthly review, liputan, daurah, dan lainnya. Jadi ngerasa bersalah. Sampai keluar RS masih mencari saya terus dan membujuk ibunya untuk ke Depok, ingin bertemu dan bermain bersama saya katanya. Sampai depan rumahnya, sudah disambut dengan teriakan:

“teteh ane…”

Sesiangan itu saya habiskan untuk main-main sama tuyul-tuyul itu. kita jalan ke minimarket terus beli ice cream. Dengan mukanya yang sok digalakin, adek Emir bilang sama saya “teteh jangan ce me es an melulu dong” iya deh! Di rumah, adek n kakaknya saya dongengin cerita yang ada di majalah anak (niy anak 2 emang kelinci percobaan gw) setelah bercerita, saya bilang “ayo…sekarang kita nyanyi Boneka Baru” yang saya kaget, biasanya mereka senang kalo disuruh nyanyi, dengan serempak menjawab: “kita? Lo aja kali, gw enggak” oh God!

Pulangnya, seperti biasa, ada ritual ngambek pengen ikut. 1001 bujukan terlontar dari semua yang ada. Mempannya, setelah dikatakan: “minggu depan aja ya ikutnya. Terus, dia mengulang kata-kata itu: “minggu belakang aja ya ikutnya?” ko minggu belakang?

Sore pulang, habis maghrib saya ke senayan untuk melihat Festival Jajanan Bango (FJB) bersama teman saya. Surga untuk para pecinta kuliner. Berpuluh-puluh stand makanan dari Nusantara numplek disana. Tahun lalu, acara ini memberi kesan yang mendalam buat saya. Ceritanya, saya mau ke JHCC untuk mengunjungi pameran elektronik, tapi secara tidak sengaja melihat FJB, eh…malah ngendon disitu. Udah gitu, saya makan di stand-nya “mbah Jingkrak” makanan disitu tuh hampir semua pedes. Menunya aja ada ayam rambut nenek sihir dan sambel iblis, serem! Rekor bagi saya yang tidak suka pedes, habis lagi makannya. Kalo ada yang mau coba, tempatnya di Bulungan, blok M, depan SMA 70.

Tahun ini, saya tidak terlalu bersemangat hunting makanan di acara ini. Selain capek, juga semakin ramai. Saya menemukan makanan yang tidak biasa, namanya “Bubur Ase Betawi” awalnya saya bingung, ko’ bubur dipake-in kuah asinan plus sayur mayur. Rasanya? Aneh…hehe…yang terlihat panjang antriannya adalah “warung iga bakar” rasanya juga aneh. Ko aneh semua she yang saya makan? Apa orangnya yang aneh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s