societa

panti “Galih Pakuan”

Pagi ini saya ada di angkutan umum menuju parung seorang diri. Bersiap untuk meliput sebuah panti rehabilitasi untuk pecandu narkoba di daerah ciseeng. Tanpa kendala, tibalah saya di mobil terakhir yang akan mengantar ke tempat tujuan. Jalanannya berbatu dan rusak cukup parah. Pemandangan disamping jalan diisi oleh pepohonan yang rimbun. Sejuk! Di kejauhan gunung menyembulkan puncaknya. Pak supir sudah saya pesan untuk menurunkan di desa Putat Nutug. Menurut pegawai panti yang saya telpon sebelumnya, dari situ tinggal naik ojek sekitar 500 m.

Turun dari mobil, sudah ada ojek yang siap mengantar.

“panti bang!”

si abang ngangguk aja dan langsung ng-gas motornya. sampai gerbang utama ada gapura bertuliskan Panti “Galih Pakuan” masuk ke dalam di sisi kiri ada kantor. Sedangkan sisi kanannya terdapat rumah-rumah kecil berwarna orange, yang belakangan saya ketahui itu adalah rumah pekerja sosial yang mengurusi panti. Abangnya masih menjalankan motornya ke belakang. Padahal dalam hati saya bergumam “kan kantornya tadi di depan, ko jauh banget ke belakang. Berhenti di pos, ada beberapa anak remaja berusia sekitar 20 tahun keatas.

“dah sampe neng.” Kata abangnya.

“oh udah ya, kantornya yang mana pak?” saya malah balik bertanya.

“kantor? Eta mah ti payun” jawabnya berlogat sunda yang artinya kantor mah adanya di depan.

“Ealah…saya mau ke kantornya.”

“saya kira neng mau jenguk penghuni panti.”

Masih untung dikira mo ngjenguk, kalo disangka penghuni panti bisa gawat.

Selesai wawancara, saya diajak berkeliling panti sama koordinator lapangannya, pak Ishak. Keadaan panti cukup bersih. Pertama saya diajak ke asrama kelompok re-entry. Kelompok yang penghuninya bisa dibilang sudah lepas dari pengaruh narkoba. Asrama tampak kosong, karena para penghuninya sedang mengikuti kelas keterampilan. Saya dan pak Ishak menuju kelas keterampilan. Pertama, kelas komputer, wuah…lengkap loh perangkat komputernya. Layarnya aja pake yang flat, kalah deh yang di rumah saya. Kedua, kelas otomotif, penghuni sibuk membetulkan dan mencoba mesin yang disediakan untuk memperbaiki. Ketiga, kelas elektronika, semua serius memperhatikan.

Kehadiran saya di tengah-tengah mereka cukup bikin heboh. Apalagi saya sempat mengambil beberapa photo kegiatan mereka. Sumpeh…saya dah kaya artis yang lagi jumpa fans aja. Ruame…abis. kata pak Ishak, mereka emang jarang ngeliat cewe. Kebetulan juga penghuni panti semuanya laki-laki, tidak ada perempuannya. Abis deh saya di kerubutin kaya gula. Yang ada saya mau wawancara mereka, malah terbalik saya yang ditanya-tanya. Saya tidak bisa menjaga jarak, sudah jadi konsekuensi pekerjaan. Uh…untung ada pak Ishak, yang ternyata cukup ditakutin sama para penghuni. Saya cuma bisa ngasih senyum terindah…halah. ya…yang bisa saya kasih cuma itu, siapa tau bisa jadi semangat buat mereka.

Di pintu keluar, saya melambai ke arah mereka, sambil bilang:

“tengkyu ya…assalamualaikum.”

enggak ngerti deh apa yang mereka jawab, saking banyaknya suara yang menyahut. Saya dan pak Ishak ketawa-ketawa aja. Lanjut ke kelompok primary, dimana penjagaan semakin ketat aja. Penghuni primary, tidak bisa keluar masuk dengan bebas. Mereka masih dalam tahap pemulihan. 3 bulan pertama masuk, tidak boleh berinteraksi dengan dunia luar. Sebelum sampai di gerbang primary, saya melewati masjid, ruang makan bersama, dan tempat kreasi mereka. Semua tertata rapih.

Tanpa pak Ishak, saya tidak bisa masuk ke areal primary. Setelah gerbang dibuka, di depan saya sudah ada beberapa penjaga rumah, sebutan untuk penghuni panti yang sudah senior, dan sekarang bertugas membimbing adik-adiknya yang baru masuk. Kenalan satu-satu dengan penghuni di ikuti pandangan agresif, membuat saya agak deg-degan. Apalagi ada satu orang bernama Raymond yang mempunyai tatto di sepanjang lengannya. Reflek, saya kaget (abis belom pernah liat tatto sebanyak itu sedekat ini seh, saya tau ini salah. Seharusnya wartawan tidak melihat dengan tatapan itu) Raymond langsung nyeletuk “mba nya takut ya…” saya buru-buru senyum “enggak ko…bagus! ga bisa liat tatto Tora Sudiro, liat yang ini aja.” Jawab saya sok jayus huahaha…tapi berhasil bikin suasana kembali normal.

Keluar dari kandang buaya, masuk ke kandang macan, yang ini lebih parah. Sewaktu pak Ishak pamit shalat, saya ngobrol sama Raymond. Ternyata, baru dua bulan ini dia jadi mualaf. Kisahnya juga unik, hidayah itu datang sewaktu dia berkenalan dengan karyawati sebuah departemen negeri di daerah salemba, yang datang untuk melakukan orientasi di panti. Gadis berjilbab tersebut, telah membuka pintu Islam dan memasukan pancaran cahaya dari Allah. Raymond mantap masuk Islam dan langsung sunat. Kemudian melakukan ijab kabul dengan gadis pujaannya tersebut.

Raymond juga tidak pernah membayangkan nasibnya akan bahagia seperti ini. Padahal dulu dia menjadi budak narkoba. Hidupnya penuh dengan kesulitan dan masalah. Dari yayasan rehabilitasi, asal daerahnya di Manado, Raymond direkomendasikan ke panti ini. Sekarang, walaupun sudah sembuh, Raymond ingin mengabdikan dirinya di panti. “Daripada saya di rumah saja, bisa jadi pikiran istri.” Keep rock on ya Raymond, may Allah always bless u!

Kalo dipikir-pikir kisah Raymond itu mirip di sinetron ya…

Kedatangan saya bertepatan dengan acara yang bernama “Group” jadi penghuni primary dan penjaga rumah alias seniornya, duduk membentuk lingkaran. Pakaian yang mereka kenakan rapih bo! Pake kemeja dan celana bahan. Menurut Rano, salah satu penjaga rumah, acara ini memang cukup sakral. Dimana semua yang hadir dapat mencurahkan isi hatinya sebebas-bebasnya. (btw, tampang Rano ini mirip adly fairuz loh, tapi ya…tetep aja ngomongnya rada-rada pelo’ khas junki). Saya jadi penasaran sama acara Group ini. Sebelumnya saya cuma bisa liat sewaktu nonton filmnya “Hancock” scene will smith lagi di penjara. Ehm…seru! tapi saya nggak bisa cerita banyak, soalnya mendingan liat langsung.

Bagi penghuni panti yang melanggar ketentuan akan dikenakan hukuman. Untuk yang kabur dari panti dan ketangkap, atau yang ketahuan mencuri barang teman. Mereka wajib pake sarung selama menjalani hukuman, baik itu mencuci kamar mandi selama seminggu, atau mencabuti rumput. Ada juga yang tidak boleh ditegur dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Akan berpengaruh ke psikologi mereka.

Selesai berkeliling, saya bertemu dengan pak Ahmadin, pembina mental di panti. Bapak ini friendly dan selalu tersenyum. Dia cerita tentang pertanyaan2 anak panti yang kadang sukar dijawab. “antara logis dan unlogis” katanya bersemangat.

Raymond pernah bertanya masalah tatto dengan pak Ahmadin, “pak, kata Ustadz orang yang punya tatto nggak boleh shalat, terus untuk apa saya shalat?” saya benar2 dilematis ditanya seperti itu. Di satu sisi, dia mau baik, menjalankan shalat, sedangkan di sisi lain memang ada ketentuan bahwa tatto dapat menghalangi air wudhu masuk ke pori2 kulit. Otomatis wudhunya tidak sah, maka shalatnyapun tidak sah. Untuk menghilangkan tatto, jalan yang paling murah adalah dengan mensetrikanya. Tapi, menyiksa diri sendiri juga tidak diperbolehkan oleh agama. Masa seluruh badan harus disetrika?

Saya benar2 penasaran, apa yang dijawab pak Ahmadin, agar anak2 asuhnya tidak putus asa, dan malah berbalik bandel lagi. “saya jawab: ok! Mari kita shalat. Segala apapun yang kita punya, serahkan saja sepenuhnya pada Allah.” Katanya.

Sebagai lulusan pondok pesantren, pak Ahmadin tidak bisa menerapkan secara saklek apa yang dipelajarinya waktu masih nyantri. Ini itu serba nggak boleh.

Ada satu lagi pertanyaan yang masih saya ingat: “pak, kenapa Islam tidak adil? Yang berbuat dosa bagian kemaluan saya, ko yang disucikan bagian tangan, kaki, hidung, dan telinga dalam wudhu.” Pak ahmadin menjawab: “loh, justru itulah adilnya Islam. Kamu sakit mata, mau disuntik di mata?” hehe…bisa aja jawabnya. Tanpa penjelasan panjang lebar atau dipaparkan ayat2 yang banyak. Tapi langsung mengena. Memang jawaban seperti itulah yang mereka butuhkan. Kalo disuruh menguraikan makna dari sebuah ayat, mereka belum sanggup. Pak Ahmadin menambahkan: “kamu sakit mata, tapi mungkin malah kamu akan di suntik di bokong, karena ada saraf2 yang menghubungkan ke mata. Begitupula Islam, ada nash yang sudah mengatur.”

Pulang dari sana, perasaan saya “penuh” dan bersyukur masih berjalan dalam koridor-Nya. Pak Ahmadin menyuruh saya untuk datang pas bulan Ramadhan. Karena kegiatan berpuasa di panti, menurut pengakuannya, banyak hal yang dapat dipelajari. Pengen juga seh, pasti bakal beda suasananya.

I wish i can…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s