fiction · Uncategorized

the alchemist

Mengapa kita harus mendengarkan suara hati kita? tanya si anak, ketika mereka mendirikan tenda pada hari itu. Sebab, di mana hatimu berada, di situlah hartamu berada. Demikian selintas percakapan antara sang Alkemis dan Santiago, anak gembala yang mengikuti suara hatinya dan berkelana mengejar mimpinya. Perjalanan tersebut membawanya ke Tangier serta padang gurun Mesir, dan di sanalah dia bertemu sang alkemis yang menuntunnya menuju harta karunnya, serta mengajarinya tentang Jiwa Dunia, cinta, kesabaran, dan kegigihan.

yang membuat hidup ini menarik adalah kemungkinan untuk mewujudkan impian jadi kenyataan……..

Percakapan tersebut ada di buku karangan Paulo Coelho yang berjudul “The Alchemist” Buku yang mengantarkan saya menjadi dewasa. Berani memutuskan pilihan hidup sendiri. Walaupun jauh sebelum itu saya selalu percaya kata hati sendiri. Sejak saya mempelajari asal-usul manusia dari buku agama. Disana diceritakan, bahwa manusia sewaktu dalam kandungan sudah mengadakan perjanjian dengan Allah. Man robbuka? Lalu, kita semua menjawab, Allah. Tapi apa yang terjadi, setelah kita dilahirkan, melihat keindahan dunia, dan memperturutkan hawa nafsu, kita lupa sama janji tersebut.

Ingat2 lagi deh, di saat kita mau berbuat yang dilarang agama, pasti ada kata hati kita, seperti berkata melarang. Itulah, sebenarnya perkataan Allah, yang sudah terekam sejak perjanjian dilakukan. Jadi, apa yang dikatakan kata hati kita, itu adalah perkataan Allah. Dalam keadaan kalut dan butuh jawaban, coba dengarkan dengan khusyuk kata hatimu, dengan jiwa yang bersih dan hanya memohon kepada Allah, insya Allah kata hati akan memberi jawabannya.

“Masa depan adalah milik Tuhan,
dan hanya Dia-lah yang bisa mengungkapnya,
dalam keadaan-keadaan tertentu.
Bagaimana
caraku menebak masa depan?
Berdasarkan pertanda-pertanda yang ada sekarang ini.
Rahasianya ada pada saat sekarang ini.
Kalau kau menaruh perhatian pada saat sekarang,
kau bisa memperbaikinya.
Dan kalau kau memperbaiki saat sekarang ini.
apa yang ak
an datang juga akan lebih baik.
Lupakan soal masa depan, jalani setiap hari sesuai
ajaran-ajaran yang telah kau terima,


Dalam buku alchemist ini, Paulo menggambarkan latar belakang Tibet dengan sangat detil. Lekuk topografinya tersentuh dengan baik. Bikin saya mau mengunjungi Tibet someday. Kata-katanya mengalun indah. Keajaiban kalimatnya menyihir pembaca. Dengan makna hidup yang tersusun rapih. Cerita sederhana namun kaya arti. Coelho dapat membuat perumpamaan, tapi berhasil diterjemahkan secara seragam oleh pembacanya. Penulis kelahiran 1947 di Rio de Janeiro ini, sebelumnya aktif menulis juga bekerja sebagai sutradara teater, penulis lagu, dan jurnalis.

Kalau kita bergaul dengan orang-orang yang sama setiap hari,
pada akhirnya kita menjadi bagian dari hidup orang itu.
Lalu kita
ingin orang itu berubah.
Kalau orang itu tidak seperti yang dikehendaki orang-orang lain,
maka orang-orang lain ini menjadi marah.
Orang tampaknya selalu merasa lebih tahu,
bagaimana seharusnya menjalani hidup,
tapi mereka tidak tahu bagaimana seharusnya menjalani hidup sendiri.


Buku ini juga menguatkan teori “mestakung” (semesta mendukung) yang saya baca. Dalam teori ini dikatakan bahwa bila kita berkeinginan kuat akan sesuatu yang baik, seluruh alam semesta akan mendukung. Angin, air, gunung, pohon, dll. Persisnya saya tidak tahu, tapi yang pasti bukan seperti adegan pohon yang berjalan sendiri dan ikut berperang dalam film “Narnia” itu seh terlalu ekstrem. Saya Cuma yakin, sebenarnya alam semesta ini sehari-hari ikut bersama kita. Bertasbih dan menyembah Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s