Daily

1.500

07.05

Jarak dari rumah saya, Depok, menuju kantor, yang terletak didaerah Kalibata, sebenernya deket. Tapi berhubung lewat rute macet, pasar minggu, jadi perjalanan bisa memakan waktu hampir 2 jam. Ada seh alat transportasi yang ga ikutan macet, kereta api. Bayangkan perbedaannya, hanya 20 menit bisa sampe kantor. Tapi, takut ah! Ntar nyasar lagi, naek kereta yang ke jawa, hegh! Terus, terkadang radar hidung saya akan menangkap signal bau yang tidak terdeteksi ID-nya. Enggak tau itu bau ketek orang (yaiyalah masa kambing, abis hampir sama seh. Coba kalo tangannya diangkat keatas, laksana kambing sedang mengembik, scene di iklan.), entah bau keringet, atau parfum cap nyong2. pokoknya campur aduk, bikin mau bersin.

Tapi, alasan itu tidak berlaku bagi saya untuk pagi ini. waktu tidak mau berkompromi untuk berjalan lebih perlahan. “andaikan waktu dapat berhenti berputar,” kata2 ajaib pak Dipo, kalo kerjaan lagi ga selese2 di kantor hihi… Saya harus merelakan hidung ini menderita karena akan menjumpai bau2 asing. Membiarkan raga ini berjajar berdesak-desakan bagai ikan dalam kaleng sarden. Demi melewati waktu yang tinggal hitungan menit lagi. Soalnya, kalo sampe telat ngantor, saya ga bisa kuliah sorenya. Padahal, di kampus juga saya udah ga bisa bolos lagi. Jatah ga masuknya udah abis hehe…sampe dosennya pas pertama lihat saya masuk kelas, bilang “where have you been nisa?” So,i must come to the office early morning.

07.10

Sampai pada pagi ini, saya telat berangkat. Ditambah kabar buruk, bahwa si mbak yang membantu dirumah, lagi ke rumah mertuanya di Bogor. Jelas, ga ada yang bisa nganterin. Tawaran pa yang mengajak naik mobil, saya tolak langsung. “mo jam berapa sampe kantor?” akhirnya pa ngalah, nganterin saya dulu naik motor ke stasiun.

07.25

Sampe di stasiun, dari seberang rel, terdengar halo2 dari speaker petugas, bahwa kereta ekonomi jurusan Jakarta akan datang. Hua…go…go…seru juga lari2an ngejar kereta. Di loket karcis, bersyukur antrian tidak panjang. Tiba giliran saya, cepat saya katakan “Jakarta, satu!” sambil menyorongkan selembar uang seratusribuan baru, lewat celah kaca dibawah. Petugas yang melihat uang saya, langsung mendorong balik, “tukerin dulu mbak, ga ada kembaliannya,” padahal di depan saya, sebuah benda panjang yang digerakan dengan listrik sudah datang dengan tersenyum lebar (darimana lo tau dia senyum?) karena yang nungguin dia banyak, jadi serasa dibutuhin banget gitu. Curang neh kereta. Masa giliran penumpang yang telat dia ga mo nungguin, tapi giliran dia yang telat, penumpang dengan setia nungguin. Balik lagi, saya masih berusaha untuk memaksa petugas memberikan karcis, yang hanya seharga 1.500, tapi sangat saya butuhkan saat ini. “enggak ada pak,” jawab saya tegas. si bapak juga masih kekeuh dengan pendiriannya bahwa kembaliannya tidak ada. Saya rada2 ga percaya seh, secara yang naek kereta se-alaihim gambreng. Kalo uang saya limaribu, terus ga ada kembaliannya seh saya masih ikhlas. Ehm…kalo seratusribu, kayaknya mikir dulu deh. Tapi, niy kereta bakal dateng 20 menit lagi. Naek yang ekonomi AC, ga berenti di kalibata.

07.27

Tinggal hitungan detik lagi kereta akan berhenti sebentar, lalu berangkat lagi. Saya panik. Soalnya kalo saya ga dapet karcis itu, saya telat sampai kantor, kerjaan belum selese, otomatis ga bisa kuliah, ga lulus matkulnya, ngulang, nambah beberapa semester lagi, skripsi molor, temen2 dah pada lulus duluan, cuma saya yang belum, depresi, stress, mulai senyum2 sendiri, terus masuk RSJ,… (lebay lo ne!). implikasi dari 1.500 ini akan banyak sekali.

07.28.05

Lagi berkhayal jadi penghuni RSJ, masih belum beranjak dari depan loket, tiba2 diatas tangan sya yang masih tergeletak pasrah menggantung dimeja kayu kecil petugas sudah ada karcis. Ya, karcis jurusan Jakarta seharga 1.500 itu. 1.500 yang jadi halangan saya pagi ini. makanya ne, kalo punya recehan jangan suka ditaruh dimana aja, sekarang perlu kan. Iya deh, besok2 enggak, sorry ya! Masih belum percaya, saya langsung berlari kearah kereta. Sambil mendongak mencari siapa yang telah menjadi pahlawan kepagian saya itu. Sambil samar2 seh tadi saya sempet liat tangan dari orang disebelah saya mengantri, berkemeja hitam menjatuhkan karcis ini. tapi mana orangnya? Saya cuma mau bilang 3M: Makasih…Makasih…Makasih… ehm…itu dia, saya masih melihat punggungnya yang berjalan menuju kearah kereta. Saya ingin menyusulnya, tapi padatnya lalu lalang orang menghambat langkah saya yang udah ga sabar pengen cepet2 lari.

07.29.30

Tiba di tangga koridor kereta saya masih berusaha mencari sosok laki2 berkacamata itu. Tadi dia sempat menoleh sebentar, jadi saya sedikit punya gambaran. Tinggal beberapa detik lagi dari jam 07.30, kereta akan segera bergerak. Oh…itu, saya melihatnya. Tinggal hitungan langkah, tunggu! Teriak saya dalam hati. Sayang, dia sudah masuk dalam gerbong dan menghilang ditengah sesaknya penumpang kereta. Sayapun segera masuk dalam gerbong lainnya, setelah bimbang antara ingin mengejar dan takut tertinggal kereta. Pluit dari masinis terdengar nyaring, tanda kereta akan segera berangkat. Saya sudah berdiri aman diantara tubuh2 tinggi. Apakah dia seorang malaikat…

One thought on “1.500

  1. who’s the guy? ru still thinking bout him…😀
    pertolongan selalu datang pada waktu dan hal2 yg tidak terduga… lebih banyaklah memberi… karena memberi akan membuat mereka tersenyum… senyum polos ikhlas dr hati… senyuman yang bermakna…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s