fiction

Body of Lies


hitam

Tiga pekan yang lalu, saya sama tante dan sepupu, nonton film Body of Lies. Nonton nya di Platinum Screen, sekali-kali nyobain selain XXI. Awalnya, memilih film ini karena alternatif lainnya milik Indonesia, yang rada2 ga jelas. Ternyata, saya dibikin setengah kaget sama film ini. Walaupun, sampe sekarang sebenernya saya belum paham betul jalan ceritanya. Sepanjang alur cerita, buanyak banget pertanyaan yang ada di kepala saya. Soalnya, ini film mikir dengan strategi politik tingkat tinggi. Nanya tante disebelah geleng2 ga tau. Sepupu cuma sibuk minum n ngemil, sambil sesekali menyela “kapan seh selesenya? Laper neh…” Jadilah saya terus mantengin layer sendirian, sampai lupa berkedip. Takut kehilangan gambar atau teks walau sedetik. Nanti tambah ga ngerti.

Film ini hasil arahan sutradara Ridley Scott, diadaptasi dari novel karya David Ignatius dengan judul yang sama. Yang udah pernah nonton Kingdom of Heaven (mengejutkan karena ternyata itu film produksi Hollywood), pasti udah ga asing sama hasil bikinan sutradara yang sama ini. Lokasi film di Washington DC, Eropa, Maroko, dan Timur Tengah, kayak Jordania, Amman, Irak. Membuat mata kita disuguhkan pemandangan yang indah banget. TEMPO bilang “lokasi geografi yang melompat-lompat dalam alurnya itu bagai labirin. Penonton diajak mengumpulkan fakta demi fakta yang disuguhkan, bukan menebak-nebak akhir film”

Sang pemain utama, Leonardo Dicaprio (masih inget kan?), sebagai Roger Ferris beda banget penampilannya ma sebelum2nya, kayak di Titanic atau Romeo n Juliet. Badannya lebih berisi dan dikasih jenggot. (jenggot apa janggut seh yang bener?). yang lebih menarik perhatian, Dicaprio dan Mark Strong, sebagai Hani Salaam, seorang bos departemen intelijen Yordania, melafalkan ayat-ayat Al-Quran dengan fasih. Dialog sederhana, seperti: assalamualaikum, syukron jazakillah, afwan, dengan lancarnya keluar dari bibir seorang Dicaprio.

Kisah pertemanannya dengan perempuan arab, yang jadi perawatnya juga tidak terkesan ‘aneh’ tapi tetap islami. Pemakaian alat teknologi canggih, mewarnai film ini. Satelit milik AS yang dapat menangkap gambar objek di bumi dengan ketelitian sangat tinggi. Penonton pasti berdecak kagum liat alat ini bekerja. Apalagi waktu Roger mau diculik pasukan Al-qaeda, ada trik yang benar2 pintar, sehingga AS kehilangan jejak.

Pada akhir film, kita dikasih liat ruang bawah tanahnya al-qaeda. Bagaimana penyiksaannya untuk tahanan. Saya jadi berpikir, apa ini leotermasuk film propaganda untuk Amerika? Aduh, jadi ngeri kalo ngomongin ginian.

Tapi, sampai lewat beberapa minggu, banyak teman saya protes, kalo film yang saya rekomendasiin ini tidak ada di bioskop.

3 thoughts on “Body of Lies

  1. itulah dunia peran, walaupun beda suku, ras bahkan agama seorang aktor atau aktris dituntut untuk mampu melakukannya.
    Ambil hikmahnya merupakan nasehat lawas yang masih berlaku sampai kapanpun.
    Dan jangan lupa, jangan terlalu percaya terhadap ciptaan manusia, karena pasti ada intrik-intrik atau bahkan maksud tertentu.
    Jadi, ya…. ambil yang baik2 nya dan buang sisanya. he he he

  2. Dalam menonton, kita tidak hanya duduk rileks menikmati jalan cerita.. tapi kita mesti cerdas dalam melihat ada “PESAN” apa yang ingin disampaikan oleh pembuat cerita terhadap penikmat karyanya.

    Jadi hati-hati terhadap Propaganda Inteligen Asing. dan ini benar-benar terjadi. berapa banyak pemerintahan di belahan dunia lain, yang di obok-obok oleh tangan-tangan Amerika dalam hal ini CIA, hinga pemerintahan negara tersebut seperti boneka yang diatur dari White House.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s