mind n soul

tidak seperti yang dulu

1430 H – 2009

“Musik tahun baru kami adalah deru suara pesawat tempur Israel, kembang api tahun baru kami adalah percikan-percikan sinar dari misil-misil Israel.”(Raed Samir).

Tahun baru selalu membuat saya merasa bagai berada di dua sisi, bagai uang logam yang mempunyai gambar di masing2 bagiannya. Seneng, pasti! Sudah terbayang rencana2 baru. Tapi, kalo inget kesalahan kemarin, kayanya saya lebih mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain, dibanding kesalahan diri sendiri.

Para peramal berlomba2 menerawang kejadian apa aja yang akan terjadi di hari esok. Mama loreng, ki joko bodo amat (bukan nama sebenarnya-red.), beserta peramal2 terkenal lainnya muncul silih berganti di berbagai tayangan infotainment dan talkshow. Mereka bilang, tahun ini akan ada perkawinan, perceraian, kematian, dan kelahiran…haghaghag…lucu ya, bukannya itu memang sudah siklus kehidupan. Saya perhatikan, enggak ada tuh yang dengan detil menyebutkan nama, tempat, dan waktu kejadian akan berlangsung. Mungkin itu kode etiknya dukun ya…

Apakah ada yang benar-benar baru dalam diri saya pada tahun ini? Pada kalender masehi, tanggal 31 Desember 2008, tiupan terompet dan ledakan mercon di tengah malam pergantian tahun masih seperti yang dulu. Memekakan telinga dan mengurut dada. Panggung gembira yang disesaki pengunjung saat merayakan malam tahun baru, juga masih seperti yang dulu. Membuat lelah dan tanda tanya besar: hal apakah yang sudah dilakukan sampai harus mengikuti acara semalam suntuk begitu? Memang semua masih seperti yang dulu (ko jadi kaya lagu seh…).

Tahun berganti dan usia kita berkurang, tapi kesadaran kita akan berkurangnya usia, tak juga bertambah. Tahun berganti dan kita semakin tua, tetapi kedewasaan kita akan makin tuanya diri, juga tak juga tumbuh. Tahun berganti dan persoalan kita semakin kompleks (study, kerjaan, organisasi, sampai krisis global, peperangan, pembunuhan, pornografi…), tetapi keterampilan kita dalam mengatasi berbagai persoalan itu, tak juga terasah. Tahun berganti dan tantangan bagi keimanan kita semakin dahsyat, tetapi ibadah yang kita lakukan untuk menangkalnya, masih juga terasa lemah. Lantas, apa yang sudah kita lakukan di tahun-tahun yang sudah lewat dibelakang sana?

Kalau segalanya masih juga seperti yang dulu, bukankah itu berarti kita tak berbuat apa2? Kalau semuanya tak juga berubah menjadi baik, bukankah berarti tak ada kebaikan yang kita lakukan untuk menggantikan keburukan-keburukan? Kalau apa saja masih begitu-begitu saja, bukankah itu berarti tak ada yang salah dalam cara kerja kita? Nah, menurut saya, mestinya takberbuat apa2, dan tak ada perbaikan, dan kesalahan dalam bekerja itulah yang menjadi agenda penting untuk mengisi malam pergantian waktu. Bermuhasabah. Bukan suara tanpa makna, ledakan tanpa arti, dan kelelahan tanpa manfaat apa2. Jangan sampai riuh rendah gemerlap suasana tahun baru, membuat tak secuil pun ruang dalam kesadaran untuk merenung barang sebentar, lalu bangkit melakukan perbaikan, pembaruan, dan perubahan.

Tahun baru, semangat baru? Bagus itu! Tapi semangat tanpa perencanaan, wah namanya semangat bonek dong (ane ekstrim banget bahasanya). Bayangin aja niy yah (tunggu, dibayangin dulu) kalo nyimpen baju di lemari dapur, terus bumbu dapur di rak sepatu, dan buku2 di kamar mandi…pusing? Jelas. Akan ada banyak waktu yang terbuang sia2 hanya karna ketidakrapian kita. Buat hal kecil kaya gitu aja kita dituntut untuk rapi, apalagi hal2 penting dan besar: mengatur hidup. Kata ustadz Anis Matta dalam bukunya “Model Manusia Muslim” yaitu: setiap usia yang kita lewati seluruhnya adalah batu bata yang dipakai untuk menyusun bangunan rumah kita di akhirat nanti. Pertanyaannya: sudahkah kita sedikit demi sedikit menyusun batu bata tersebut? Katanya seh kalo mo nyusun planning manajemen hidup harus yang logis. Artinya, kita yakin dapat meluluskannya sesuai jadwal. Jadi, ga perlu ngawang2 githu…dan idealnya kalo mo bikin planning dibuat sampai seumur hidup (tolak ukurnya seumur nabi deh). Hhuuu…lama banget! Saya bikin 10 tahun aja dulu deh

Tahun 1 = lepas behel…

Jadi, tahun ini targetnya cuma lepas behel…hihi…

Tahun 2 = lulus kuliah untuk kedua kalinya

Biar si SKM ada temennya, si SS

Tahun 3 = menjadi praktisi kesehatan, pengajar bhs. Inggris, dan penulis yang baik

Tahunnya kerja

Tahun 5 = lulus S2

Pengennya seh…ya nama nya juga belajar, ka nada pepatahnya “kejarlah ilmu sampai ke liang lahat” walaupun ga ngotot amat tapi boleh juga kalo dibayarin dari kantor.

Tahun 7 = punya taman bacaan masyarakat dan PAUD gratis

Impian yang harus terwujud, insyaAllah!

Tahun 10 = menunaikan rukun Islam yang k-5

Saya baca di satu majalah Islam, tips biar bisa naik haji, salah satunya dengan menabung atau ikut asuransi. Nah saya pilih opsi 2. kalo nabung sendiri takutnya ga disiplin. karna ikutnya baru tahun ini, jadi ya jatoh temponya 10 tahun lagi. Biar lama yang penting pasti. Atau ada yang mo ngajak sekarang? Ga nolak!

to: yang kemaren bilang “ada tuh yang wordpress nya 2 bulan ga dibuka2” bikin semangat nulis disini lagi…

One thought on “tidak seperti yang dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s