mind n soul

kesesatan sejarah

Dalam kehidupan bermasyarakat, setiap peristiwa yang dijadikan momentum perayaan tahunan selalu punya sumber sejarah dan jejak peristiwa yang bisa dipercaya dan dilacak. Contohnya Maulid Nabi dan Isra Miraj. Kalau kita mau telusuri jejah sejarah dan lokasinya, gampang sekali didapat. Hal ini sekaligus menunjukan bahwa peristiwa yang punya sumber sahih dan jelas akan memberi dampak positif kepada orang-orang yang mengenangnya. Dalam sejarah kita mengenal Saladin atau Salahuddin Al-Ayubi yang berhasil membakar semangat para prajuritnya dengan perayaan Maulid Nabi. Namun, sebaliknya, peristiwa yang cuma sekedar dongeng, apalagi isapan jempol, memberi efek yang negatif. Karena peristiwa itu tidak punya bukti dan sumber yang sahih, yang terjadi adalah pengertian yang menjadi ganda.dalam yang mengenangnya. Di satu sisi, karena peristiwa itu tidak pernah terjadi, ada distorsi sejarah berupa kebohongan publik oleh nenek moyang mereka, di sisi lain mereka terus mentradisikan peristiwa itu sepanjang hidup mereka seolah-olah peristiwa itu benar-benar pernah terjadi.

Peristiwa yang benar-benar terjadi akan meninggalkan kesan mendalam di benak orang yang pernah menyaksikannya secara langsung. Kesan itu tidak sekedar tertinggal dalam kenangan mereka, tetapi juga dalam jiwa mereka. Kemudian tampak dalam tindakan dan perbuatan mereka. Untuk keperluan penulisan dan penuturan sejarah, kesaksian mereka akan menjamin terpelihara dan tersampaikannya peristiwa itu ke generasi berikutnya. Kenapa? Sebenarnya sejarah itu seperti pengkabaran: bahwa telah terjadi sebuah peristiwa begini dan begitu, jauh sebelum kita lahir. Percaya atau tidaknya kita terhadap kabar itu, sangat bergantung pada benar atau tidaknya kabar itu. Benar atau tidaknya kabar itu, sangat bergantung pada sanad (jalan yang menghubungkan) kabar itu. Inilah yang menjadi dasar tersampaikannya hadis-hadis Nabi SAW ke tangan kita. Hadist adalah kabar yang dibawa oleh para perawi yang terdiri atas orang-orang yang hidup sezaman dengan Nabi dan mempraktikkan seluruh tindakan dan ucapan Nabi yang mereka lihat setiap hari. Karena ucapan dan tindakan itu dipraktikan, tidak heran kalau kemudian penyampaian hadis menjadi akurat dan efektif. Seorang sahabat akan menyampaikan hadis kepada anak-anaknya, demikian juga anak-anaknya kelak akan menyampaikannya kepada generasi berikutnya. Karena kabar-kabar itu disampaikan dalam bentuk tindakan yang diceritakan, keaslian dan kebenaran hadis terjaga dengan baik. Apalagi para ulama hadis menetapkan syarat yang ketat bagi kriteria perawi hadis, diantaranya tidak cacat moral (misalnya suka berdusta dan menyakiti orang lain) dan berdaya ingat kuat. Itulah mengapa para ulama membuat kategori-kategori nilai hadis, misalnya sahih, hasan sahih, mutawatir, dhaif, maudu’, dll. Semata-semata untuk menjaga ashalah (keaslian) informasi sejarah.

Tentu kita sudah tahu konsekuensi menerima informasi sejarah yang keliru, yaitu penyimpangan tujuan dan munculnya bid’ah (tindakan tanpa rujukan). Nah, itu baru sejarah yang keliru, bagaimana bila sejarahnya tidak terjadi sama sekali?

Itulah yang terjadi pada perayaan-perayaan seperti Valentine Day…(juga hallowen, dll). Sampai detik ini tidak sepotong fakta sejarahpun yang bisa menjelaskan siapa pembuat dan pencetus tradisi ini. Kalaupun terpaksa mau dijelaskan, yanfuck1g terjadi adalah kesimpangsiuran sejarah. Misalnya Valentine Siapa itu Santo Valentino, apa hubungannya dengan burung merpati, dan mengapa tanggal 14 Februari secara tidak resmi tahu-tahu dijadikan hari kasih sayang, penjelasannya sama sekali blank. Ini terjadi karena Valentine Day sama sekali tidak punya rujukan sejarah yang dapat dipercaya ucapannya.

Ada beberapa versi yang menandai peringatan hari kasih sayang ini. Versi pertama adalah pendeta bernama Saint Valentino yang dihukum mati oleh Kaisar Claudius II. Penguasa Romawi abad ke-3 Masehi ini menganggap sang pendeta bersalah karena memberkati sepasang remaja yang terlanjur bebas bergaul. Kematiannya disambut oleh musim berpasangannya burung. Mungkin karena bertepatan dengan musim semi yang biasanya banyak burung. Dan sebelum meninggal ia sempat mengirimkan surat selamat tinggal kepada kekasihnya yang isinya antara lain ”be my Valentine”

Versi lain peringatan ini dikaitkan dengan sebuah pesta bernama Lupercalia. Pesta ini merupakan ajang mencari jodoh masyarakat Romawi kuno. Muda-mudi berkenalan dan bercinta dalam pesta tersebut. Dengan kematian Saint Valentine tersebut, masyarakat mengganti nama Lupercalia dengan peringatan Valentine’s day.

Versi berikutnya, peringatan Valentine’s Day adalah pergeseran kepercayaan masyarakat Inggris purba. Mereka yang asalnya yakin bahwa musim semi adalah musim bercinta, kemudian makin yakin lagi, pasalnya pendeta yang dianggap pahlawan cinta pun mati di musim semi.

Jadilah 14 Februari diperingati sebagai hari bercinta. Sejak abad ketujuh Valentine’s Day dirayakan orang. Budaya ini makin berkembang pada abad ke-15 dengan ungkapan melalui benda berharga seperti: bunga, minyak wangi, dsb. Dan pada abad ke 17-18 kebiasaan tersebut berganti dengan mengirimkan kartu berbentuk hati yang tertusuk panah (norak enggak tuh?)

Terlepas dari berbagai versi asal muasal peringatannya, hari bercinta-yang entah dipelintir oleh siapa menjadi hari kasih sayang-ini intinya adalah sebuah bentuk membiasakan hubungan bebas lawan jenis. Bagi yang hadir pada pesta-pesta semacam ini jangan heran melihat pola pergaulan yang sangat tidak islami.

Jangan minder semata-mata menampilkan wajah islam yang sejati. Kita bisa baca mengenai sejarah dunia Islam, ada buku Muslim Menemukan Eropa karya Bernard Lewis, Pustaka Risalah. Islam hanya mengajarkan kasih sayang dengan dasar satu hal: semua manusia berasal dari satu nenek moyang yaitu Nabi Adam as. Sebagai muslim dan muslimah tentu saja kita enggak mau asal ngikut arus saja. Valentine’s Day yang enggak jelas juntrungan arahnya harus dianulir dari agenda acara kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s