mind n soul

Lirih Bumi

MERIS EDISI APRIL 2007

(untuk saudara2ku yang terkena musibah)

berita kepada kawan

barangkali disana ada jawabnya, mengapa di tanahku terjadi bencana

mungkin tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita

yang selalu salah dan bangga akan dosa-dosa

mungkin alam telah enggan bersahabat dengan kita

tanyakan saja pada rumput yang bergoyang

sepertinya Ebiet G. Ade sendiri tidak ingin mendengar lagunya terus menerus di putar sebagai backsound akan peristiwa bencana. mungkin pula, sewaktu mencipta lagu tersebut Ebiet tidak pernah menyangka di Negara ini akan terjadi banyak bencana. setiap lagunya diputar seakan menjadi alarm bagi penduduk Indonesia bahwa bencana kembali melanda. belum hilang dalam ingatan, banjir bandang yang menenggelamkan hampir sebagian kota Jakarta. lalu, longsor yang menimbun kota NTT. juga, kedatangan si Lusi (Lumpur Sidoarjo) yang entah kapan penanganannya ditindaklanjuti oleh pemerintah. selain itu, bencana yang disebabkan oleh kelalaian manusia itu sendiri yang terjadi di darat, laut, juga udara. belum selesai pencarian pesawat Adam Air yang hilang di Sulawesi, sudah direpotkan lagi dengan tenggelamnya beberapa kapal laut.

mengapa bumi kejam sekali kepada manusia? sebelum memberi perkataan seperti itu, coba ingat-ingat kembali hal apa yang sudah membuat bumi merasa tidak bersahabat dengan manusia. coba sejenak direnungkan. berusaha mendengar perkataan bumi yang merintih “oh…manusia, bukankah engkau makhluk Allah yang paling sempurna. lalu mengapa kau tidak menjaga aku sebagaimana Allah memerintahkan kepadamu. kau malah merusakku! tubuhku banyak lubang akibat ulahmu yang sering menggunduli hutan. aku ketakutan setiap kali kau ciptakan peperangan. tubuhku babak belur karena banyak bahan kimia yang kau ciptakan. kau selalu tidak sadar bila sampah yang kau buang sembarangan membuat wajahku jelek. wahai Allah, mengapa engkau biarkan mereka terus menyakitiku? aku hanya ingin mereka menjagaku. bukankah itu untuk kebaikan mereka juga. untuk apa Kau pancangkan gunung2 sebagai pasak. dan Kau lebarkan permadani diatas bumi, kalau bukan untuk dipelihara,” ujar bumi dengan merana.

Allah maha segalanya, Dia mendengar keluhan bumi. tetapi Allah tetap bermurah hati. Allah menyuruh bumi untuk bersabar dan menunggu manusia sadar dan akhirnya bertobat.

kemanakah lagi kutanyakan semuanya

kepada karang? kepada ombak? kepada matahari?

tetapi semua diam, tetapi semua bisu

tinggalah ku disini, terpaku menatap langit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s