societa

BKKBN melakukan rebranding

Indopos, 9 Februari 2009kb

oleh: A. Nurannisa

Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) seiring dengan perubahan paradigma di masyarakat dalam pengelolaan KB Nasional, ingin menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar. Pembangunan di Indonesia sejak awal reformasi, hingga era desentralisasi dan globalisasi, serta good government, akan banyak mewarnai perjalanan program KB ke depan.

Rencana dan strategi BKKBN dalam merumuskan kembali visi dan misi, yaitu “Seluruh keluarga ikut KB dan mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera” oleh Dr. Sugiri Syarif, MPA selaku Kepala BKKBN, dalam Talkshow Rebranding BKKBN, yang dilakukan di studio BKKBN, Halim Perdana Kusuma, beberapa waktu lalu, sempat mengulas sediit sejarah BKKBN.

Pada tahun 1970, pemerintah membentuk BKKBN, sebagai institusi yang melaksanakan program atau bertanggung jawab terhadap KB. Waktu itu pemerintah merasa bahwa masalah kependudukan harus ditangani secara serius. Sehingga tidak saja hanya pada pelayanan yang regular saja.

Dalam perjalanannya, BKKBN sukses melaksanakan programnya pada tahun 1980-1990. dengan adanya bukti, bahwa Indonesia sempat menjadi kiblat dunia Internasional dalam pengelolaan KB.diketahui juga tidak kurang dari sekitar 4 ribu peserta dari sekitar 97 negara telah belajar KB di Indonesia.

Tapi akhir-akhir ini terjadi penurunan citra dan nyaris tidak terdengar lagi kiprahnya. Suasana BKKBN setelah demokrasi melorot tajam. Banyak orang bertanya “Apakah BKKBN masih ada?” jawabannya “Masih ada” Sugiri menegaskan, hanya saja masih ada sesuatu yang perlu diperbaiki.

Untuk 5-6 tahun belakangan ini, tidak ada perkembangan yang bermakna dari visi BKKBN untuk menurunkan fertilitas sesuai dengan yang dicanangkan oleh pemerintah. Keadaan masih sama saja. Maka, perlu langkah-langkah yang terbetik agar bisa kembali bangkit.

Padahal dengan bermodalkan ikut program KB, masyarakat bisa meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Orangtua dapat me-manage keluarga dengan baik, bila mempunyai 2 anak, dibanding dengan mempunyai 10 anak. Bila suatu keluarga mempunyai kemampuan untuk mengelola keluarga lebih terencana, sudah pasti tingkat kesejahteraannya akan lebih baik.

Upaya untuk meningkatkan citra dari BKKBN yang menurun, dilakukanlah Rebranding. Tujuannya agar masyarakat menilai BKKBN kembali seperti semula di tahun 1980-1990. Untuk itu, BKKBN mencoba melakukan 4 pencitraan baru.

Pertama, adalah Institusi, dari yang dianggap tidak ada menjadi ada. Memberi kesan kuat eksistensi BKKBN yang ditugasi oleh pemerintah, dengan kewajiban dan tugas yang lebih berat dari yang dulu.

Kedua, yaitu Program, membangun citra baru dengan program-program yang inovatif. Menurut Sugiri, selama ini programnya banyak yang tidak karuan. Bahkan ada yang duplikasi dengan instansi lain. Tidak ada kegiatan sama sekali. Dulu partisipasi masyarakat terhadap KB cukup besar. Dimana-mana ada tulisan dan gambar KB. “Inilah yang diperlukan agar program-program KB menjadi milik masyarakat lagi” Ujar Sugiri.

Ketiga, Pengelolaannya sendiri. Peserta yang sudah menjadi KB lestari, diberikan penghargaan bahwa dia sudah menjadi pahlawan, karena sudah memberikan sumbangan besar kepada Negara. Sehingga Negara dapat maju. Pengelola program mencoba bangga menjadi pegawai BKKBN. Kader-kader di masyarakat juga bangga menjadi kader KB.

Lalu, yang terakhir adalah citra bersama-sama. KB adalah program Negara, bukan program provinsi A atau B, kabupaten A atau B. Persoalan penduduk adalah milik Negara, bukan individu. Maka, harus dipecahkan secara musyawarah, bukan kepentingan kelompok atau individu. Bila ini yang terjadi, Negara akan terpecah belah.

Empat ketahanan diatas tadi yang akan di maksimalkan dalam rebranding. BKKBN mencoba membangkitkan semangat dan identitasnya, mengubah paradigma, dan membalik mindset dalam melaksanakan program.

“Nah, dengan alasan itulah sekaligus dibarengi dengan momentum Rakernas BKKBN 2009, BKKBN akan meluncurkan logo baru yang tidak lain sebagai tanda spirit baru,” ungkap Sugiri.

“Dengan rebranding ini selain bermakna upaya mengktualkan produk-produk BKKBN sehingga lebih sesuai dengan pasar yang telah berubah, juga bertujuan membentuk persepsi dikalangan pegawai BKKBN bahwa semua harus bekerja dengan paradigma baru, semangat baru,” jelas lelaki yang telah hampir tiga tahun menjabat kepala BKKBN tersebut.

Pertama, merubah identitas. Kalau dulu, digambarkan dengan dua anak bergandengan dengan padi dan kapas. Sepertinya itu terlalu klasik dan formal. Sugiri menjelaskan, sekarang mencoba melahirkan citra, bahwa keluarga adalah komunitas yang merundingkan semua keputusan bersama. Bukan hanya Bapak atau Ibunya. Identitas baru ini harus dibangun menjadi tujuan bersama. Sehingga, KB pun menjadi keputusan bersama.

Strategi awal membidik target generasi muda. Terutama yang mau menikah, harus diberi pemahaman mengenai program KB. Karena menikah, tidak hanya melangsungkan acara saja, tapi membangun suatu komunitas sendiri, yang nantinya akan menjadi penopang bangsa di masa yang akan dating. Kesadaran itu yang belum tumbuh pada diri masing-masing. Tidak diskriminatif, Laki-laki dan Perempuan bisa melakukan KB.

Tantangan barunya adalah masyarakat Indonesia belum lazim akan hal ini. Karena kesan KB adalah hanya Perempuan yang menggunakan. Semua itu akan disosialisasikan ke generasi muda. Mereka bisa mendapatkan pemahaman mengenai menikah dan untung rugi dari jenis kontrasepsi. Bila mereka semua, baik Laki-laki atau Perempuan paham, maka keputusan KB bisa dilakukan secara bersama. Sehingga nanti tidak ada penolakan dari salah satu pihak. Program KB akan dianggap berhasil bila keputusannya dilakukan secara bersama. “saya yakin,” kata Sugiri tegas.

Seiring rebranding, otomatis ada perubahan visi dan misi, dan struktur organisasi yang mendukunya pun sudah dipersiapkan. Jangan sampai nanti ada program dalam upaya menyetarakan gender, tetapi tidak ada direktorat yang menanganinya. Inginnya, data BKKBN yang sekarang gemuk bisa menjadi kurus.

Kewenangan dari struktur organisasi tercermin dari fungsinya. Tentukan dulu kewenangannya, maka fungsinya akan muncul. Diakui, tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi banyak jalur yang harus dilalui untuk merubahnya.

Harapannya dengan rebranding ini, dalam Internal adalah semangat baru. Sehingga akan muncul lagi gagasan-gagasan baru. Serta mengingatkan kembali kepada para pengambil keputusan tentang makna dan pentingnya KB. Mulai presiden, cabinet, petinggi Negara, politisi, juga ulama. “KB itu penting dan belum saatnya diacuhkan,” kata Sugiri.

Teman-teman LSM KB banyak yang sudah mengundurkan diri, akan dibangkitkan kembali. Kepada para akademisi yang mengambil based kependudukan sudah pada hijrah, padahal masalah belum selesai. “pemikiran kalian semua masih dibutuhkan,” ujar Sugiri.

Terakhir kepada masyarakat, bahwa apa yang dibutuhkan sesuai dengan hak-hak masyarakat akan dipenuhi. Sehingga saling tidak mengecewakan.

“Karena tugas kita mulia, jadi harus dengan penuh semangat kerja keras dan ketulusan agar bisa sukses,” imbuhnya. Dan diungkapkannya mengenai pencitraan yang terakhir yang ingin dibangun kembali oleh BKKBN adalah Citra KB diwilayah NKRI, dimaksudkan bahwa keluarga berencana harus tetap eksis di seluruh wilayah NKRI, karena bukan saja mengendalikan penduduk, tapi juga akan berpengaruh pada kualitas SDM. (Ne)

Kesetaraan Gender Dalam KB

Komentar sekaligus tanggapan Prof. Dr Musdah Mulia, MPA, selaku pengurus PKBI (perkumpulan keluarga berencana Indonesia) sebagai narasumber dalam acara talkshow Rebranding BKKBN, yakni menitikberatkan pada kesamaan gender.

Sebagai aktifis feminisme, banyak pertanyaan yang bilang “kenapa sih KB selalu menjadikan perempuan sebagai akseptor?” karena menurut data, akseptor Laki-laki hanya 1,5% saja. Padahal keluarga yang normal terdiri dari Laki-laki dan Perempuan, Ayah dan Ibu, suami dan istri.dalam membangun keluarga, dua-duanya harus berpartisipasi aktif. “Sebenarnya secara medis, yang lebih aman menjadi akseptor itu laki-laki loh,” ucapnya. Ini menyangkut organ-organ reproduksi laki-laki yang lebih sederhana, sedangkan perempuan lebih rumit dan kompleks.

Tapi anggapan yang dibangun dalam masyarakat adalah harus perempuan yang melaksanakan KB. Ini yang harus dirubah. Sebaiknya keluarga bermusyawarah menentukan siapa yang pakai KB. Karena ini tanggung jawab bersama di keluarga. Membangun keluarga bahagia harus melibatkan Ayah dan Ibu, bila sudah punya anak, bisa dilibatkan. Anak bisa ditanya “kira-kira mau punya adik lagi tidak dan mempunyai saudara banyak?”. Tetap dengan mempertimbangkan kemampuan kedua orang tua. Sehingga budaya “banyak anak, banyak rezeki” akan ditinggalkan lama kelamaan dengan sendirinya. Masyarakat lebih berpikir rasional, bahwa itu tidak benar.

Rebranding dalam sudut persamaan gender, menurut Musdah adalah hak dan kesehatan reproduksi. Ketika suami dan istri akan menikah, mereka harus tau sebagai manusia Laki-laki dan Perempuan, apa saja sebenarnya organ-organ reproduksi dan fungsinya dalam perkawinan. Karena kesehatan reproduksi penting sekali. “saya sedih sekali, banyak yang sudah punya anak banyak tidak mengerti kesehatan reproduksi ini,” imbuhnya.

Persamaan gender adalah persamaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Bahwa mereka nilai kemanusiaannya sama. Tentu, fungsi mereka berbeda di dalam keluarga. Namun, bukan berarti yang satu lebih tinggi dari lainnya. Sudah punya anak laki-laki mau perempuan, akhirnya tambah lagi sampai dapat dua-duanya.

Laki-laki dan perempuan di mata Tuhan sama. Yang sudah punya anak diurus dengan baik. Jangan malah memikirkan belum punya anak laki-laki atau perempuan. Kita harus membangun suatu penilaian di masyarakat bahwa anak, apapun jenis kelaminnya sama saja. Harus disyukuri dan jangan dibeda-bedakan. Lebih baik orangtua mendidik semaksimal mungkin.

Dalam upaya rebranding dari sudut persamaan gender itu sendiri, adalah prinsip-prinsip kesetaraan dan keadilan gender itu beradab. Isu hak dan kesehatan reproduksi juga ikut masuk didalamnya. Indonesia kedepan adalah yang tidak mengalami ledakan penduduk. Sehingga tidak mengalami masalah-masalah finansial, ekonomi, dan politik.

Walaupun dalam tujuannya, bila dilihat dari visi dan misi BKKBN masih tetap sama. Tetapi, menurut Musdah, masyarakat kita mengalami masa yang disebut era reformasi dimana semua berhak membebaskan diri dari belenggu otoritarian, yang dianggap sebagai icon periode yang lalu.Kesannya BKKBN maksa. Orang tidak mau KB tapi dipaksa oleh sistem.

Sekarang, tugas BKKBN, bagaimana membangun citra baru bahwa membangun keluarga kecil, sehat, bahagia bukanlah program pemerintah semata, tetapi seluruh masyarakat. Maka, partisipasi aktif dari masyarakat harus dibangun bersama-sama.

Melihat Negara naju, keinginan masyarakatnya untuk menikah dini sudah tidak ada sama sekali. Mereka merencanakan untuk menikah dan hamil dengan matang sekali. “Apakah sudah siap?” bukan saja secara biologis, tetapi banyak hal. Bahwa tingkat kesejahteraan Negara terlihat dari seberapa jauh mereka merencanakan bentuk keluarga. “Sehingga harus dibangun di masyarakat kita, bahwa KB tujuannya adalah untuk kesejahteraan masyarakaat,” Ujar Musdah.

Melaksanakan segera reformasi pada program juga visi dan misi BKKBN. Bagaimana membangun kesadaran masyarakat dan menjelaskan bahwa Indonesia 2030 jumlah penduduknya 270 juta jiwa. Artinya lebih besar dari jumlah penduduk 6 negara. Mengelola penduduk yang besar itu tidak mudah. Apalagi ada masalah lainnya, seperti ekonomi, sosial, politik, dan lain-lain. Sehingga, kita dituntut untuk realistis. Sebagai megara yang besar, berarti harus siap dengan segala permasalahan yang muncul.

Musdah melihat, bahwa program reformasi ini harus menyangkut bagaimana membangun rekonstruksi budaya. Merubah anggapan budaya yang menganggap “banyak anak akan banyak rezeki” itu tidak realistis.

Musdah juga berharap, bahwa komitmen pemerintah dari 30 tahun yang lalu tidak luntur. Pembangunan bangsa harus berjalan berkesinambungan. Bila sudah ada yang tercapai, yang baik, pada periode lalu terus dikembangkan. Jangan malah memulai kembali. Hanya akan menghabiskan banyak biaya dan waktu. Tetap pertahankan yang baik sepanjang memiliki sisi-sisi baik. Tantangan kedepan semakin banyak. Mudah-mudahan dengan rebranding ini kesadaran masyarakat terbangun kembali.

Ternyata program KB untuk mensejahterakan bangsa itu bukan tugas pemerintah saja. Tapi seluruh elemen masyarakat, akademisi, agamawan, dll. “Teman-teman perempuan juga melibatkan dirinya membangun program KB ini melalui tindakan nyata,” ujarnya mengakhiri pembicaraan. (Ne)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s