mind n soul

Identitas Bahasa

Bahasa menunjukan bangsa

Masih inget dialog Cinta Laura pada satu sinetronnya: “mana ujan, enggak ada ojek…” yang malah ditambahin ”becek!” dengan logat khasnya. Sehari-harinya, artis ini terbiasa berbicara memakai bahasa sono, terkadang campur aduk dengan bahasa Indonesia juga.

Semangat ber-Inggris ria sekarang melanda luas di berbagai kalangan. Percakapan sehari-hari di kalangan pekerja kantoran, tak jarang menyelipkan istilah Inggris, seperti: Meeting, Outing, dll. Bukan hal yang langka lagi menemukan orang berdialog dengan bahasa gado-gado seperti itu, entah di Mall, kantor, bahkan teman2 terdekat kita. Seperti yang saya lihat, seorang Ibu berwajah oriental asyik bercerita melalui ponselnya menggunakan bahasa Inggris-Indonesia, ketika kita sedang sama2 menunggu antrian di tempat praktek dokter gigi. Untungnya, bahasa Inggrisnya fasih dengan grammar yang tepat. Lucunya, ada satu pasien di Rumah Bersalin Puskesmas-yang letaknya di ndeso-saya bekerja, sedang berusaha untuk melahirkan. Sepanjang proses kelahiran bayinya, sang ibu tidak berhenti berteriak: “don’t hurt me…don’t hurt me” jiah….taunya cuma don’t hurt me doang kale! (lagian syapa yang nyakitin, lah mang melahirkan itu sakit dudul…).

Menurut cerita mantan pemred saya Pak Iwan (dulu waktu masih kerja di media) di blog nya:

Fenomena boom istilah asing pernah terjadi pada tahun 1980-an ketika terjadi booming ekonomi yang luar biasa. Ketika itu muncul properti di mana-mana. Penggunaan nama-nama asing sangat marak, bisa dijumpai di papan namanya: North Tower dan South Tower (ini untuk gedung utara dan gedung selatan, di Kuningan Plaza), ada Mulia Tower, Landmark.
Pada tahun 1995, dilakukan pencanangan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Nama-nama gedung, perumahan dan pusat perbelanjaan yang berbau asing diganti dengan bahasa Indonesia. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama.
Angin reformasi justru membawa perubahan buruk bagi bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa asing kembali marak. Malahan dengan alasan globalisasi, percampuran bahasa Indonesia dengan bahasa asing justru semakin marak. Kata-kata seperti ‘new arrival’, ‘sale’, ‘discount’, terpampang dengan jelas di berbagai toko dan pusat perbelanjaan
Pada tahun 1953, Poerwodarminta mengeluarkan Kamus Bahasa Indonesia yang pertama. Di situ tercatat jumlah lema (kata) dalam bahasa Indonesia mencapai 23.000. Pada tahun 1976, Pusat Bahasa menerbitkan Kamus Bahasa Indonesia, dan terdapat 1.000 kata baru. Artinya, dalam waktu 23 tahun hanya terdapat 1.000 penambahan kata baru.
Tetapi pada tahun 1988, terjadi loncatan yang luar bisa. Dari 24.000 kata, telah berkembang menjadi 62.000. Selain itu, setelah bekerja sama dengan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, berhasil dibuat 340.000 istilah di berbagai bidang ilmu. Malahan sampai hari ini, Pusat Bahasa berhasil menambah 250.000 kata baru. Dengan demikian, sudah ada 590.000 kata di berbagai bidang ilmu. Sementara kata umum telah berjumlah 78.000.

Menurut penutur bahasa Indonesia, Pak Anton Moeliono, bila asas struktur subyek-predikat-obyek ditaati, dijamin, para remaja kita dapat nilai merah dalam pelajaran bahasa.

Apalagi kalau ketaatan menggunakan bahasa Indonesia yang jadi ukuran, mungkin banyak para pembuat reklame tidak ada yang lulus. Contoh:

‘’Great Sale. Special Discount Up To 30%. Original Brand from USA’’.

Mana yang diterangkan dan menerangkan neh…

makin memprihatinkan dengan bahasa2 gaul yang tengah berkembang di kalangan ABG, seperti milik Debi Sahertian ini:

Jali-jali di Mal
A: Akika mawar belalang spartakus nih.
B: Emang spartakus yang lambreta napose?
A: Sutra Rusia! B: Akika mawar belalang Tasmania.
A: Tasmania kawanua yang lambada jugra sutra Rusia?
B: Tinta … pingin gaya atitah!
A: Sihombing loe! B: Tinta … soraya kayangan anjas! He … he …
(Sahertian, 1999: 23-25)

btw, ngerti ga?

Dijamin, yang bukan penutur asli bahasa Indonesia ga bakal ngerti…

Masih menurut Pak Iwan Q.H:

Bahasa menunjukkan bangsa. Mungkin karena itu, orang Jerman, Prancis, dan Jepang, sangat bangga pada bahasanya.

Bahasa menunjukkan bangsa. Kita sepakat dengan hal itu. Di satu sisi, berbagai perkembangan kosa kata baru yang masuk ke dalam perbendaharaan bahasa kita menunjukkan, bahasa kita memang makin gaul. Makin dinamis. Bahasa memang tidak bisa mandek.
Tapi, kalau sampai bahasa lokal tergerus oleh gempuran bahasa asing, kita tidak bisa berbangga lagi. Itu menunjukkan kita adalah bangsa yang tidak punya percaya diri.

Beringharjo
saya lebih bangga sama yg ini: pake tulisan jawa kuno...skrg msh ada yg ngerti ga ya?

BERBAHASA Indonesia itu tidak semudah yang kita bayangkan. Karena setiap hari kita sudah mudeng nonton tv, mendengarkan radio, ngobrol, dan baca koran, kita merasa diri kita sudah fluent, sudah cas-cis-cus berbahasa Indonesia. Akibatnya: meski di rak buku kita memiliki ratusan buku asing, kamus bahasa Indonesia-Jerman, kamus bahasa Prancis, tapi Kamus Besar Bahasa Indonesia banyak yang tak punya. Akibatnya lagi: acap kali kita terbata-bata dalam berbahasa.

Kesulitan lain yang muncul dalam berbahasa Indonesia adalah, kita makin merasa bahwa bahasa kita ini miskin kosakata. Bahasa sehari-hari yang kita pakai sangat banyak mengandung unsur serapan.
Apa nama tempat pemberhentian bus? Jawabnya: halte. Itu dari bahasa Inggris. Kita juga mengenal istilah baru akhir-akhir ini: under pass (terowongan), fly over (jalan layang), traffic light. Kepolisian Daerah Jakarta mengenalkan lembaga yang mengontrol lalu lintas. Namanya: Traffic Management Centre alias TMC. Kenapa bukan PKL, Pusat Kendali Lalu Lintas? Mungkin khawatir derajatnya turun, disetarakan dengan pedagang kaki lima.

Sering kali istilah asing itu muncul lantaran kita malas mencari kata-kata padanannya dalam bahasa Indonesia. Atau kita merasa minder, merasa kalau dengan menggunakan bahasa Inggris, kita akan merasa menjadi kaum terpelajar.
Tapi juga unsur lain, bahasa Indonesia memang tidak memiliki kata yang sama artinya. Contohnya saja: internet, komputer, bank, atom, neutron, derivatif. Bisa saja kita menerjemahkan, tapi akibatnya akan menjadi naskah dalam bahasa Indonesia yang tergagap-gagap. Salah satu yang sangat bersemangat untuk membuat terjemahan untuk setiap istilah adalah Prof. Sudjoko, guru besar ITB Bandung.
Masuknya unsur serapan yang secara beruntun ditimpali dengan kemalasan mencari tahu grammar yang benar, dan cara penulisan yang benar. Akibatnya terjadilah tulisan: PHOTO COFFEE, HALTE PLY OFFER, TAMBAL BAN CUBE LESS.image008

Salah satu penyebab kesulitan berbahasa Indonesia juga bahasa kita sering tidak konsisten, tidak taat azas dalam menyerap unsur asing. Kita lebih mengenal Selandia Baru ketimbang New Zealand. Tapi untuk Papua New Guinea kita menerjemahkannya menjadi Papua Nugini. Kenapa bukan Papua Guinea Baru? United States of America kita terjemahkan sebagai Amerika Serikat. Kalau United Kingdom kenapa bukan Kerajaan Serikat ya, tapi malah jadi Kerajaan Inggris?
Jaman gubernur Jakarta dijabat Pak Wiyogo Atmodarminto, pernah ada aturan untuk mewajibkan toko-toko, hotel, nama jalan, harus menggunakan aturan bahasa Indonesia yang baku. Artinya yang baik dan benar, mengikuti azas ‘’DM- diterangkan dan menerangkan’’.
Maka: BNI Bank menjadi Bank BNI, BII Bank menjadi Bank BII. Tapi juga ada kata-kata yang terjemahaannya dipaksakan.

Sebuah hotel di Jalan HR Rasuna Said namanya ‘’Grand Melia’’. Kini berubah menjadi ‘’Gran Melia’’. Kenapa bukan Melia Raya ya? Anehnya, sebuah perumahan bernama ‘’Cassa Grand’’ berubah menjadi ‘’Cassa Grande’’.
Nah, pusing kan? Wajar kalau kemudian muncul: Ply Over, Ply Offer, Fly Oper, dan Photo Coffee…
Kalau cara berbahasa menunjukkan bagaimana sebuah bangsa, mungkin ini jawaban kenapa kok kita terus dipusing dengan beragam masalah….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s