Literasi

Ayo Nulis lagi!

Dalam buku “Etika Kesarjanaan Muslim” karya Franz Rosenthal (yang pernah saya baca dalam tulisan Chandra Kurniawan) kita tentu mengenal Imam Malik, salah seorang imam mazhab. tetapi sedikit dari kita mengenal Imam Laits bin Sa’d. padahal menurut Imam Syafi’i, Imam Laits lebih faqih ketimbang Imam Malik. tapi, kenapa Imam Malik lebih populer daripada Imam Laits?

Jawabannya adalah, Imam Malik telah menulis buku, yaitu kitab al-Muwatha. sedangkan Imam Laits, tidak. pemikiranya mati bersama kematian beliau.

Kita juga mengenal Imam Ibnu al-Jauzy, Imam Ibnu, Taimiyah, dan Imam Ibnu al-Qayyim karena buku2 mereka. bahkan Imam Ibnu Taimiyah tetap memaksakan diri menulis walaupun dengan arang, karena pada saat itu pena2nya disingkirkan oleh pemerintah zalim. beliau juga tetap menulis walaupun berada dalam penjara. Imam Ibnu al-Jauzy biasa menulis 40 halaman sehari dan buku2 yang ditulisnya mencapai 250 judul. satu judul buku ada yang mencapai 10 jilid.

Pada tokoh lain, sedikit kita yang mengenal nama Yusuf bin Ashbat, seorang perawi hadits. kenapa? karena kitab hadits yang sudah lama ditulisnya, beliau kuburkan ke dalam tanah. alasannya? hanya ingin berkonsentrasi beribadah kepada Allah. dan menurut Imam Bukhari, di masa berikutnya Yusuf bin Ashbat ingin kembali meriwayatkan hadits, namun ingatannya melemah seiring bertambahnya usia. seandainya kitab yang ditulisnya masih ada, beliau dapat membacanya kembali jika lupa.

Upaya yang paling gigih adalah apa yang dilakukan Imam Jalaluddin as-Suyuti. beliau telah menulis lebih dari 500 kitab. walaupun menurut Husayn Ahmad Amin-seorang pemikir Mesir-pemikiran orisinil Imam Suyuti tidak tampak dalam buku2nya, tetapi beliau telah melestarikan dan memenuhi kitab2nya dengan pendapat dan pemikiran ulama2 dahulu yang kitab2nya tidak ditemukan lagi.

Artinya, Imam Suyuti ibarat pelari yang memberikan tongkat estafet ke pelari berikutnya. jika tidak ada buku2 Imam Suyuti, mungkin kita tidak mengetahui pendapat ulama A,B,C,dan sebagainya.

Namun, kita masih beruntung memiliki ulama2 yang gigih mengumpulkan kembali “puing2” reruntuhan itu. mereka berkelana ke segenap penjuru untuk menanyakan kepada banyak orang, apakah masih ada yang menyimpan salinan buku ini dan itu.

Sesungguhnya tradisi menulis sangat bermanfaat. karena dapat menghubungkan suatu masa satu dengan lainnya. penghancuran perpustakaan Islam oleh pasukan Mongol di Baghdad telah menghancurkan sebagian besar warisan masa silam. saking banyak nya buku yang dilempa ke sungai Tigris, sungai tersebut berubah menjadi hitam karena lunturnya tinta dalam buku.

saya ingat pernah nulis ini beberapa tahun silam sebagai suntikan motivasi, agar banyak orang yang akhirnya terpacu untuk menulis. mengabadikan pada museum kehidupan mengenai kisahnya yang mungkin dapat berguna bagi orang lain. ya, pada waktu itu saya bekerja dengan kata2, dapat uang dari kata2, hidup dari kata2. sekarang setelah “kemabali ke jalan yang benar” alias bekerja dengan latar belakang ilmu pendidikan saya-yang jungkir balik dari dunia wartawan dan menulis-saya mulai malas membiasakan menulis. walaupun hanya untuk mengisi blog.

sengaja saya pampangkan kembali tulisan motivasi tersebut. semoga bisa membuat kita semua sadar akan pentingnya menulis dan membaca.

Hidup Literasi Indonesia!literasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s