mind n soul

Bukan Perempuan dalam Islam

Swara adalah ketentuan adat dimana anak perempuan diserahkan sebagai pengantin. Dia menjadi tebusan atas kejahatan pembunuhan yang dilakukan oleh salah seorang anggota keluarganya yang laki2. Pengantin swara itu diserahkan kepada pihak keluarga yang anggotanya terbunuh. Tradisi ini sering dilakukan oleh suku Pashtun di Peshawar, Pakistan.

Surat kabar Khaleej Times memberitakan mengenai kasus swara, seorang bocah perempuan bernama Afhseen berusia 9 tahun dinikahkan dengan laki-laki yang berumur 4x lebih tua darinya. Afheen di-swarakan karena ayahnya telah melakukan pembunuhan. Pada usia 19 tahun, Afhseen telah menjanda. Tapi itu belum menjadi akhir dari segalanya.salah seorang paman menyuruhnya meniah swara lagi dengan kakak ipar laki2nya. Demi menebus kesalahan anggota keluarga laki2nya yang lain.

Selain swara, ada Vani atau nikah kompensasi. Para gadis diserahkan untuk suatu pernikahan sebagai bentuk ganti rugi (kompensasi) atas kesalahan yang pernah diperbuat laki-laki dari keluarganya. Lebih mengerikan lagi, jabang bayi perempuan dalam  kandungan pun bisa dijadikan paket ganti rugi. Belum lahir saja sudah jadi pengantin vani. (http://www.alternatives.ca)

Hukum ini dibuat oleh jirga atau panchayat (pengadilan adat) dan sudah ratusan tahun diberlakukan. Tujuan awalnya mungkin baik. Kedua keluarga yang bersengketa,daripada saling membunuh, lebih baik disatukan menjadi keluarga dalam ikatan pernikahan. Tapi bagaimana dengan psikologis dari perempuan yang menjadi pengantin paksaan tersebut?karena besar kemungkinan pengantin swara/vani tidak diperlakukan dengan layak sebagai menantu oleh pihak keluarga korban. Sebaliknya, mereka dipandang sebagai musuh. Kehadirannya menjadi pengingat abadi atas pembunuhan anggota keluarganya.

Sejak menunaikan hukuman sebagai pengantin vani, Rubina Bibi langsung menghuni kandang binatang, karena hanya tempat itu yang menurut keluarganya pantas. Pada usia 17 tahun, Rubina Bibi ditemukan tewas setelah menyantap makanan. (www.pantau.or.id) dan masih banyak lagi pengantin swara/vani yang tewas dibunuh anggota keluarganya.

sephia

swara/vani sejatinya hukuman mati yang terselubung. Andaipun pengantinnya tidak dibunuh secara fisik, mereka tidak akan selamat dari kesengsaraan sepanjang hayat karena dihadapkan pada siksaan yang terus menerus. Mereka boleh saja masih hidup, tapi sebenarnya batinnya telah binasa.

Lalu, bagaimana dengan keluarga yang tidak memiliki anak perempuan? Nah, hal ini menciptakan kekejian model baru lainnya.Dimana ada peluang bisnis untuk orangtua yang ingin menjual anak gadisnya.

Surat kabar Daily Times merilis kabar: keluarga di Pakistan, Gul Sanga marah besar ketika tau anak gadisnya lari bersama pria asal keluarga Afsar Ali. Ketika masalah ini sampai pada Dewan Adat Jirga, menjatuhkan keputusan bahwa Afsar Ali harus menyediakan anak gadis sebagai kompensasi. Celakanya keluarga Afsar Ali tidak lagi memilikii satu gadispun untukkompensasi tersebut jalan keluarnya adalah dengan membeli anak perempuan. Musibah bagi gadis cilik, bernama Bibi Jan (13 tahun) yang dijual oleh ayahnya seharga 53,000 rupees. Kehinaan bagi Bibi Jan tidak sampai disitu saja. Keluarga Gul menolak karena mereka menuding Bibi Jan mengalami gangguan jiwa dan tidak sehat (www.western-resistance.com)

Dera Ghazi Khan (9 tahun) menderita karena pernikahan vani. Dia menjadi tebusan karena kakak laki2nya melakukan affair dengan gadis dari keluarga suaminya. Dera melakukan pemberontakan dengan mengajukan petisi ke pengadilan. Perjuangan Dera akan sangat berat, karena suaminya, saudara laki2nya, dan bapaknya balik menggugat dirinya. (www.islam-watch.org)

tradisi swara/vani sudah ada sebelum agama Islam datang. Padahal unsur paksaan membuat swara/vani tidak diakui sebagai pernikahan sah dalam Islam. Meski tradisi ini diharamkan Islam, tetapi media Barat menyebutnya sebagai tradisi masyarakat muslim.

***

Ketika membaca tentang pernikahan swara-vani di atas, sama menyesakkan ketika saya menonton film “Perempuan Berkalung Sorban” (PBS). Film bertema Islam yang sangat tidak Islami. Imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, Ali Mustafa Yaqub, seperti ditulis dalam harian Republika “saya malah menganjurkan tidak usah nonton saja, selesai, karena memeang film ini akan dapat menimbulkan salah paham terhadap Islam dan Pesantren,” kritik bernada sama juga datang dari MUI, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, dan ulama lain.

Temanya bagus: religius sangat dekat dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam. Hanya saja membentangkan realitas Islam dalam film tak bisa sepotong-sepotong dan kabur. Film, jika telah masuk dalam wilayah Islam, berarti mengungkapkan identifikasi profetik agama. Mesti ditampilkan jujur dan berdasarkan sumber sahih.

PBS

Film yang diterbitkan dengan dukungan Ford Foundation, sebuah organisasi berpusat di New York yang kerap mengangkat isu Feminisme dan bias gender dalam Islam, tampak sangat memaksakan persoalan masuk tanpa substansi jernih. Hanya menyodorkan pelecehan perempuan oleh Laki-laki di pesantren. Wacana rekrontruksi implementasi Islam yang mengekang perempuan, perlakuan seks vulgar, kekerasan fisik, dan pembicaraan yang serampangan tentang fikih. Penonton tak hentinya diperlihatkan aksi kekerasan fisik. Lelaki selevel pemimpin pesantren, Kiai Hanan selalu merendahkan putrinya dengan makian, bentakan, tamparan, dan diseret. Lalu pada scene ketika adzan berkumandang dan Annisa berwudhu syamsudin kalap meminta sang Istri menemani tidur (melecehkan dan memaksakan kehendaknya berpayung fikih Islam). Dan masih banyak lagi.

Seakan Islam tidak menghargai ilmu. Pesantren digambarkan kolot, penghargaan pada ilmu tidak ada, karena perpustakaan dilarang keras. Jelas-jelas Islam menjunjung kebebasan dan aktualisasi diri perempuan dengan cara terhormat. Menurut Elzam pada Annida, Film ini sukses menggambarkan piciknya Islam sehingga perempuan tidak boleh berkarya selain jadi Ibu dan melahirkan. Film ini menggambarkan seolah Islam ajaran represif yang mengekang perempuan dengan penafsiran Al-quran, hadits, maupun kitab2 klasik. Hey, Islam sangat meMULIAkan perempuan.

Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BPPN) Deddy Mizwar meminta LSF bertanggungjawab karena telah meloloskan film PBS. Begitu juga Misbach Yusa Biran, sineas senior, “saya tidak bisa menahan diri, inti cerita ini menurut saya sangat merugikan Islam dan merupakan propaganda buruk tentang pesantren.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s