Literasi

Menjadi Orang Yang Tidak Pernah Mati

ada sebuah cerita tentang seorang anak muda yang giat belajar dan berusaha keras untuk menjadi penulis terkenal. ketika ditanya apa yang dia maksud dengan penulis “terkenal” dia menjawab: “saya ingin tulisan saya dibaca oleh orang di seluruh dunia. orang yang membaca tulisan saya bisa terpengaruh emosi dan perasaannya, mereka akan menangis, sedih, atau marah.” cita-cita anak muda itu tercapai, sekarang dia bekerja pada perusahaan Microsoft sebagai penulis pesan “ERROR”

writing

Menulis adalah kebutuhan hasrat dan bukan sebuah pekerjaan untuk mencari masa depan, sepakatkah? Pekerjaan menulis sampai saat ini masih dianggap terlalu eksklusive bagi banyak orang. Padahal siapapun orangnya dan apapun pekerjaannya dapat menjadi penulis. Malah, ada beberapa Guru sekolah yang giat sekali menulis untuk beberapa media, karena seperti yang dikatakannya, penghasilan dari satu saja tulisan yang dimuat hampir setara dengan pendapatannya selama sebulan mengajar. Semua elemen profesi, baik itu politikus, artis, praktisi di berbagai bidang, sampai ibu rumah tangga dapat menjadi penulis.

Kuntowijoyo pernah mengatakan, untuk menjadi penulis ada tiga langkah yang harus diikuti, yaitu: Menulis, Menulis, dan Menulis. Ya, hanya langsung Menulis. Tetapi untuk menjadikan menulis sebagai profesi, diperlukan juga wadah yang didalamnya berisi bimbingan dari orang-orang berpengalaman, agar tulisan yang sudah dibuat lebih terarah dan bernilai jual. Termasuk mengikuti pelatihan-pelatihan menulis yang sekarang banyak diadakan. Hal itu berguna selain untuk memperbaiki tulisan secara teknik juga menambah wacana dengan berkumpul bersama peminat yang sama.

Dengan menulis,  kita dapat menjadi orang tidak pernah mati. Contohnya, william shakespeare, yang dengan tulisannya membuat umurnya jauh lebih panjang. padahal ia hidup pada tahun 1400-an lampau. tapi, rasanya sastrawan dengan karya legendaris itu baru kemarin meninggalkan kita. itu semua karena hasil karyanya. yang lebih dahsyat, hadits yang ditulis sahabat nabi dulu. yang ini seh enggak usah diceritain gimana bermanfaatnya buat kita. kalo yang sering baca pasti ngerasa deket sama rosul dan serasa berada di kehidupan Rosul. malah kita juga dikasih tau tentang keshahihannya

Sebuah teori menyebutkan: seseorang yang sedang menulis, sesungguhnya sedang memproses informasi dalam bentuk fisik. Menulis sangat membantu kita yang ingin mempunyai sinkronisasi antara mata, tangan, dan otak yang baik, keren kan? Sesungguhnya tradisi menulis sangat bermanfaat, karena dapat menghubungkan antara satu masa dengan lainnya. Artinya penulis ibarat pelari yang memberikan tongkat estafet ke pelari berikutnya. Ketika sedang menulis sebenarnya kita sedang berinteraksi dengan dunia sekitar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s