religion

Qurban Terbaik

Seiring mendekati Idul Adha,saya selalu teringat kisah Khalifah Umar bin Khatab ra yang memiliki seekor unta istimewa yang sangat mahal harganya. Unta tersebut besar dan kuat. Pantas menjadi hewan kesayangan Umar. Lalu, beliau bertanya kepada Rasulullah SAW: “manakah yang lebih baik, ku jual unta itu dan membeli sepuluh ekor unta biasa untuk kurban, atau unta istimewa itu saja yang kukurbankan?” Rasulullah menjawab:  “kurbankanunta istimewa kesayanganmu itu!” secara logika tentu saja daging sepuluh unta lebih banyak daripada daging seekor unta istimewa apapun. Namun, sesuatu yang sangat istimewa bagi kita juga melebihi apapun. Nah, nilai pengorbanan untuk Allah itulah yang paling tinggi derajatnya. Rela berkorban dengan menyerahkan yang paling kita sayang lebih tinggi nilainya dalam pandangan Allah.

Allahumma Shalli’ ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad kama Shalli ‘ala Ibrahim wa ‘ala ali Ibrahim

Tentu ada sebab mengapa seluruh umat Islam dalam setiap sholatnya diharuskan membaca shalawat kepada Muhammad SAW disandingkan dengan Nabiyallah Ibrahim as. Ya, beliau memang sangat Istimewa. Perjalanan nabi Ibrahim menemukan Allah azza wa jalla melalui proses berliku yang sangat panjang. Perjalanan itu berujung pada sikap tidak tergoyahkan yang menempatkannya pada posisi yang istimewa juga. Ibrahim mempunyai keyakinan kepada Allah yang sangat tinggi.

Contohnya, dalam kisah ketika Ibrahim menentang Raja Namrud. Padahal kekuatan keduanya sangat tidak sebanding. Suatu ketika mereka berdua sepakat berjanji bertemua pada tempat dan waktu yang telah ditentukan. Ibrahim datang seorang diri. Sedangkan raja Namrud disertai pasukan lengkap. “Mana tuhanmu? Mengapa engkau datang seorang diri?” ejek Namrud. Sapaan ga sopan itu dibalas Allah dengan mengirim segerombolan nyamuk besar. Serangan mendadak tersebut mengacaukan konsentrasi pasukan Namrud. Dengungan dan sengatannya tak henti menyeranga mereka. Mengganggu pendengaran danpenglihatan semua. Pasukan Namrud yang bersenjata lengkap dan berpakaian perang tidak  mampu mengusir para prajurit Allah tersebut. Namrud dan pasukan lari tunggang langgang dipermalukan oleh nyamuk sebelum akhirnya menemui ajal.

Tidak hanya sampai disitu, Ibrahim kembali diuji keyakinannya oleh Allah. Allah memerintahkan Ibrahim menyembelih anak tersayangnya, Ismail as. Dalam pandangan kita sebagai manusia, tentu tidak dapat menerimanya. Bagaimana mungkin Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Allah yang melarang membunuh tanpa haq, malah memerintahkan pembunuhan oleh ayahnya kepada sang anak. Seperti yang kita tahu, kisah selanjutnya, sehingga pelaksanaan Qurban berlangsung setiap tahun sampai sekarang.

The conclusion is Ikhlas. Allah tidak butuh nyawa, darah, atau daging Ismail as. Dia sekedar menguji keimanan dan keyakinan Ibrahim terhadap-Nya. Tidak ada pilihan lain kepada kita selai sami’na wa atho’na (saya mendengar lalu saya kerjakan). Esensi kurban bukanlah menyembelih hewan setahun sekali. Melainkan ketaatan penuh terhadap seluruh perintah Allah. Berikan kepada-Nya yang terbaik. Sebab, sesungguhnya Sang maha Pemilik tidak membutuhkan apapun dari kita. Kita lah yang selalu membutuhkan-Nya. Allah berfirman:

La yanalullahu luhumuha wala dima uha, wa lakin yanaluhu taqwa minkum

“dan tidaklah sampai kepada Ku daging dan darahnya, sesungguhnya yang sampai kepadaKu adalah ketaqwaan kalian KepadaKu.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s