healthy · societa

Cuci Tangan Pakai Sabun

Seringkali kita menganggap remeh kebiasaan mencuci tangan. Itu terbukti, menurut Survey Environmental Services Program (ESP) USAID 2006 menunjukan perilaku mencuci tangan bangsa ini hanya 14,3%.

Riset Kesehatan Dasar pada 2007 tercatat 25,2% anak usia 1-4 tahun meninggal akibat diare. Ehm…berarti sekitar 3,5 juta anak di Indonesia setiap tahunnya tidak bisa melewati ultahnya yang kelima. Sampai saat ini, kasus diare di negeri ini masih betah menduduki urutan tertinggi kedua penyebab kematian pada balita.

Rendahnya kebiasaan Cuci Tangan Pake Sabun (CTPS) menyebabkan 90% anak Indonesia menderita cacingan. Hal ini mempengaruhi kecerdasan dan tumbuh kembang anak. Sebab, cacing di dalam tubuh akan membajak nutrisi dan menggerogoti tubuh. Wuah…kalo begini, negara terancam kehilangan generasi berpotensi dong!

Saking pentingnya kebiasaan mencuci tangan ini, maka PBB sepakat menetapkan tgl15 Oktober Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia. Nah, pada tgl itu saya juga melakukan penyuluhan mengenai CTPS ke MI Salafi’iyah, Ciomas, Bogor. Tanggapan dari mereka sangat antusias, karena penyuluhan dilakukan dengan media poster dan langsung praktek. Yeah…maen aer!

Langkah CTPS yang benar adalah sebagai berikut:

  1. Basahi tangan seluruhnya di bawah air mengalir.
  2. Gunakan sabun.
  3. Gosok dan bersihkan semua bagian tangan mulai dari punggung tangan, telapak tangan, pangkal sela jari, sampai bagian bawah kuku-kuku..
  4. Bilas tangan dengan air bersih.
  5. Keringkan dengan handuk atau tisu.

Semua orang dianjurkan untuk melakukan kebiasaan CTPS, mulai dari bayi sampai kiken-niken (bahasa gaulnya kakek-nenek :)). Tapi yang sangat sangat sangat (sampe 3x) dianjurkan adalah seorang Ibu. Kenapa? Karena ibu adalah tokoh central yang dapat menjadi vektor penularan berbagai penyakit bagi seluruh keluarga tercinta. Contohnya, ibu memasak ayam, kotor dan banyak virus, bisa jadi si ibu tidak terserang, tapi virus itu bisa menempel di tangan ibu dan selanjutnya menularkan ke anak. Jadi, apa susahnya ibu menyisihkan waktu sebentar untuk melakukan CTPS.

Yang susah dirubah nih masih banyak warga yang memanfaatkan sungai untuk mencuci pakaian, peralatan makan, mandi, sampai buang air besar. Hoya, ada juga neh kebiasaan yang dah cukup lama, yaitu tradisi kobokan saat makan di restoran. Menurut penelitian Casewell & Philips (1977) tangan yang tampak bersih secara kasat matamengandung berbagai kuman seperti staphylococcus aureus dan pseudomonas aeruginosa, penyebab infeksi berat sampai fatal. Biasain deh cuci tangan sebelum makan, walaupun tangan terlihat bersih. Atau selalu bawa gel praktis pencuci tangan.

Emang penting banget gitu kita membudayakan CTPS?

Sangat penting! Ternyata, CTPS di bawah air mengalir terbukti menjadi sarana paling efektif menekan miliaran mikroorganisme “jahat” mengintervensi tubuh. Kita bahkan dapat terhindar dari lebih 20 jenis penyakit seperti diare, kolera, disentri, cacingan, sampai ISPA (penyakit nomor 1 terbanyak hampir di setiap puskesmas). Kebiasaan ini juga mampu menangkal tubuh tertular virus flu burung dan babi yang saat ini masih menjadi momok yang sangat menakutkan. Pokoknya, dengan CTPS jauh lebih efektif ketimbang pemberian obat dan vaksin. Otomatis, alokasi biaya kesehatan dapat ditekan seminimal mungkin. Dengan kebiasaan yang sangat mudah dan hanya dilakukan 20detik, kita bisa mengubah dunia menjadi lebih sehat, sederhana bukan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s